“Halo del,udah dimana?” suara yang gak pernah merdu terdengar dari ujung

telepon. “sedang di Depok ada urusan kantor” ku jawab sekena nya, “Buruan

ya,jangan sampe telat”. Ya, hari ini adalah hari-H perjalanan Studi Banding

tempat ku mengenyam pendidikan. Jogjakarta-Bali-Lombok akan menjadi perjalanan terpanjang

bagi ku. Telepon tetap bordering,ku silent

entah apa lagi pebicaraan di telepon itu yang mengharuskan aku segera tiba di

tempat berangkat. Setelah tiba di tempat keberangkatan yakni kampus tercinta ku

lihat beberapa teman sudah siap berangkat. “Del,HT beres kan?” “Del barang-barang

elu mana?” “Del registrasi dulu” del del del del dan del banyak banget :hammer:

ku Tanya kepada teman mana bis nya? Ternyata telah terparkir di sisi lain dari

tempat keberangkatan. Akhirnya aku menuju tempat parkir dimana bis ini berada.

3 Unit Bis Pariwisata lengkap dengan stiker Jetbus HD dan stiker MB OH 1526

berjajar rapi seakan berkata “Saya siap kemana pun anda mau” yaps ke-3 unit itu

berjajar rapi sekali bahkan seolah ada kontak batin antara saya dengan

mereka,karena mereka akan menjadi kendaraan saya selama 10 hari ke depan. (Maap

ya avansa dan espass ku yang ngendon di rumah) skip ya hehehe

Jam 13.30 rombongan berangkat sembari membaca doa perjalanan

dan tak lupa “Bismillah” bis berjalan dengan perlahan, kemudian memasuki tol

JORR yang bablas ke Cikampek. Sampai di Cikampek, rasanya sudah terlalu sesak

jalan tol ini dengan kendaraan kendaraan. Kepadatan terasa hampir sampai

gerbang tol cikarang Utama. Selepas cikarang Utama, permainan pariwisata di

mulai. Konvoi sepanjang jalan, hingga aspal Tol Purbalenyi mendapat jatah untuk

di injak. Bis masih berjalan dengan santai, namun ketika di eberapa tanjakan

yang curam di Cipularang, tak jarang bis seolah kehabisan napas. “Coba pake

Scania kayak NS01,pasti gak abis napas nya” batinku berharap sampai akhirnya

bis berhenti sejenak di rest area KM 147 utk sekedar ke toilet dan merokok. Sekitar

30 menit kemudian bis berjalan lagi. Kepadatan cileunyi tak terelakkan, bis

mulai berjalan seenak nya. “Driver nya kurang greget nih” ucapku dalam hati. Hingga

setelah bebas dari Rancaekek dan Cicalengka driver ini mulai menunjukkan

kemampuan. Dan aneh nya permainan sen pun seperti Travel L300. Memasuki wilayah

nagrek, dimana pasukan keong (Baca: Truk) banyak yang ngos-ngosan bahkan butuh

napas darurat, bis tetap merangsek maju, sampai akhirnya di satu ruas dimana

bis harus berhenti ketika banyak Primajasa, Budiman dan mobil kecil yang buka

jalur *budayakan buka jalur* setelah lepas dari jerat tadi, bis pun berjalan

cukup kencang bagi ku. Sampai akhirnya rombongan pun berhenti untuk makan malam

di RM. Sari Rasa TAsikmalaya. Setelah makan dan solat, aku kembali ke parkiran

bis sambil ngobrol sejenak dengan beberapa kawan, ada beberapa crew juga yang ngobrol tak jauh dari

kami. Akhirnya crew itu membuka

omongan terlebih dahulu “mas nanti kalo di sukowati hati-hati ya, banyak tangan

jahil disana” “oh iya pak,saya akan hati-hati” akhirnya obrolan pun mulai

menjalar ke masalah bis “Sudah berapa lama pak bawa bis?” Tanya ku iseng “ wah

kalo saya sih sudah lama, sekitar 25 taunan” kemudian sejurus iseng kembali ku Tanya

“Sebelum disini bawa apa pak? Parwis atau AKAP?”  “Wah saya pindah pindah mas, pernah di Kramat

Jati waktu Neoplan Line Bandung-Denpasar itu batangan saya” wadoh??? Ciyusan pak

dalam hati ku terkejut? “berarti malam ini bakal Parwis rasa AKAP nih?” sambil

cekikikan dia hanya tersenyum simpul kemudian dia naik ke atas bis dan aku

kembali ngbrol dan mencari “ehem-ehem” yang perlu di ehemin *:ngakak*

Bis kembali berjalan, driver pinggir sudah masuk ke kandang

macan. “yes, siap-siap parwis rasa akap” batinku kali ini, bis berjalan

perlahan namun pasti. Dan permainan sen berubah menjadi AKAP (walaupun

menurutku tetap campur dengan Sen Travel L300) lampu kabin sudah di matikan,

namun para penumpang masih ada yang terjaga. Aspal Tasikmalaya selesai di

Injak, Aspal Ciamis mendapat giliran, aspal nya cukup bagus tak banyak lubang

seperti di Pantura penumpang satu persatu mulai tumbang (Baca: tidur) hanya

penumpang di bagian belakang yang masih memetik gitar sambil bernyanyi dengan

beberapa kawan. Memasuki kota banjar, penumpang sudah tidur semua. Tinggal aku,supir,

dan kenek yang masih bangun. “Kok belum tidur mas?” “belom ngantuk pak” jawab

ku sekena nya, kemudian driver berbicara dengan kenek menggunakan bahasa sunda

yang babrblas aku ndak paham apa artinya itu. Menjelang perbatasan Jawa Barat

dan Jawa Tengah bis masih tetap berjalan kencang, air guyuran hujan mulai

membasahi jalanan jawa tengah yang masih “Begitu begitu aja” kenek mulai

ngantuk, driver ini masih terjaga, ngebut namun pasti. Hingga akhirnya di

sebuah sudut jalan bis yang ku tumpangi nyaris selip karena berjalan terlalu

kencang di tikungan dan jalan licin. Benar-benar ku rasakan itu sebuah bis AKAP

yang berbaju Pariwisata. Di sebuah sudut jalan di lumbir, bis pun nyaris crash

dengan bis entah aku tidak sempat lihat tapi nampaknya parwis juga hingga

driver ini buka kaca samping dan ngomel. Menjelang RM Lestari Kebumen aku

tidur, trek lurus di padukan dengan beberapa tikungan membuat mata ini ndak

kuat juga, akhirnya aku kembali ke kursi barisan depan. Setelah tertidur

beberapa lama, Mata ini terasa di ganggu oleh sebuah cahaya, oh ternyata lampu

kabin di nyalakan. “Apa sudah sampai??” Tanya ku dalam hati, ternyata belum,

bis sedang berhenti di sebuah SPBU yang sebelum nya pernah juga aku berhenti

disitu. Bis berhenti karena berjalan terlalu cepat, sehingga harus menunggu 2

bis yang tertinggal di belakang *tepok jidat* setelah 2 bis dating, perjalanan

kembali dilanjutkan dan aku kembali duduk di bawah. Aku yakin bis di belakang

ini akan ketinggalan lagi, dan benar sekitar 1 jam kemudian satu bis di

belakang ku mulai tak terlihat lagi di spion kiri, dan bis pun kembali berjalan

sendirian. Hingga akhirnya bis sen kanan di daerah petanahan, bis berjalan di

tengah hutan sekejap ku teringat kejadian Pahala Kencana yang tersesat di

Hutan. “Pak ini di daerah mana? Saya belom pernah lewat sini” “Ini di daerah

petanahan juga mas, ini jalur alternative tenang aja mas” ya sudah aku diam

lagi sambil memperhatikan kanan kiri hutan, dan ada kabut cukup tebal, jalan

tetap lurus entah berapa kilometer panjang jalan tersebut, namun bis bisa di

pacu dengan kecepatan 80-100kpj. Mata kembali tidak kuat, aku duduk kembali di

kursi.

Lelap tidur ini mulai terganggu karena jalan hancur entah

dimana ini, yang jelas kanan kiri mulai ada rumah penduduk, aku berusaha

mencari tahu dimana kah ini namun nihil tidak ada tanda sama sekali. Akhirnya aku

tetap berada di kursi sambil heran dengan penumpang lain kok masih tetap betah

tidur walaupun jalan hancur begitu. Ajaib? Kaget ujung jalan tadi aku merasa

mengenalinya, Cuma agak sulit untuk mengingat nama jalan tersebut, setelah

masuk pom bensin aku melihat ke warung sebrang jalan “Wates Kulonprogo” walah? Sudah

sampe wates, dan lagi-lagi bis masuk pom bensin karena 2 bis yang lain

ketinggalan di belakang. Jam sudah menunjukkan hampir jam 4 pagi, 3 bis sudah

berkumpul aspal Jogjakarta pun di injak secara bersamaan oleh ke-3 bis ini. Aspal

mulus ini membuat penumpang yang tadi di pom bensin terbangun, kembali tertidur.

Akhirnya rombongan kami pun sampai di Tempat berhenti yaitu RM. Paradise Jogja

Perjalanan berakhir?

Ini baru ¼ perjalanan

sikap sempurna di bawah terik matahari Imogiri, Jogjakarta

sikap sempurna di bawah terik matahari
Imogiri, Jogjakarta