“Ayo pak kita ke imogiri” yak ini adalah tujuan berikut nya setelah rombongan kami aspal Jogjakarta yang sangat mulus dan di temani matahari yang menerangi perjalanan kami menjadi semakin cocok ketika lagu Wind of change  besutan scorpion di putar. Tak berapa lama berjalan di selingi obrolan ku dengan driver, kami sudah tiba di tujuan yaitu Desa Giriloyo, Imogiri, Bantul. Sebuah desa yang sangat kelewatan tenang nya, betul betul Jogjakarta memang selalu bisa memberikan kesan lebih khususnya kepada saya. *skip aja ya, disini Cuma ngebatik+makan siang kok hehehe

Perjalanan di lanjutkan dengan tujuan Pelabuhan Ketapang. Ya, pelabuhan ketapang menjadi garis finish di etape ke-2 kami. Perlahan namun pasti bis berjalan menyusuri aspal jogja yang selalu mulus. Giliran aspal klaten di injak, yang masih ku ingat sempat beberapa kali berpapasan dengan Shantika, Haryanto dan tak lupa penguasa Jalur TImur, EKA, Mira, Sugeng Rahayu. Memasuki solo, bis berjalan perlahan karena terjebak kemacetan. Memasuki Sragen, ah tak beda dengan solo, cukup macet dan ada perbaikan jalan pula. Ahirnya di sebuah SPBU di Sragen kami memutuskan berhenti untuk isi solar, dan istirahat.

Setelah semua selesai, perjalanan di lanjutkan menuju Rest Area kami berikutnya yaitu RM. Duta Nganjuk Jawa Timur, namun entah mengapa seperti nya karena kemacetan yang kami hadapi membuat jadwal jadi molor. Untung  nya panitia segera ber-kordinasi dan memutuskan untuk berhenti makan di RM. Kurnia Jawa Timur, Ngawi, Jawa Timur. Menjelang gelap, aku sudah bisa melihat gapura “selamat datang Jawa Timur” alhamdulilah sudah sampai Jawa Timur. Perjalanan membosankan? Iya, sampai sebuah permainan terjadi….

Entah di ruas mana di Ngawi, Bis yang ku tumpangi lagi dan lagi meninggalkan konvoi nya di belakang. Permainan AKAP di mulai, sen kanan, segitiga, kres, pres dan kawan kawan nya muncul. Bis ini beberapa kali mengasapi beberapa bis Pariwisata Plat Jawa (H,L,AD dll) nampaknya mesin 1526 ini memang cocok untuk ditarik di garis lurus, sampai ku lihat sebuah dim dari spion kanan driver. Dim nya panjang “ah mobil kecil” pikirku, ternyata sesosok penghuni Jalur Timur EKA, dan Sugeng Rahayu sedang uber-uberan, sekarang posisi EKA sudah bola tanggung dan siap menggunting bis ku, sedangkan sugeng rahayu masih gagah berani menempel. Mobil dari arah berlawanan Truk box hanya bisa menyalakan lampu segitiga, bahkan bis yang ku tumpangi terpaksa mematikan lampu, menyalakan lampu segitiga sambil mengurangi laju kendaraan. “Kejar dong pak” kompor pertama di malam itu, driver tidak menyahut bahkan dengan sekedar senyuman atau deheman, namun pedal gas memang di injak lebih dalam. Posisi semakin dekat, mulai terlihat bokong Sugeng Rahayu dan sesekali Bokong EKA, namun bis ku masih terhalang beberapa kendaraan (kalau tidak salah ada 2 mobil). EKA mulai menyalakan sen kanan, sugeng rahayu mengikuti, entah apes, atau gangguan salah satu dari mobil di depan bis kami juga ikut menyalakan sen kanan. EKA yang di ikuti Sugeng Rahayu gagah berani mengambil jurus Blong Kanan, namun sayang mobil di depan bis kami ini walaupun sudah menyalakan lampu sen kanan, tapi terlihat ragu dan akhirnya… bis kami nyaris kres dengan ELF plat L kalau tidak salah ingat, dan driver dengan sigap menyalakan segitiga, kemudian sen kiri yang langsung di sambut dengan bunyi klakson panjang tanpa irama. Sementara EKA dan Sugeng Rahayu sudah meninggalkan kami, driver pun berkata “itu lah mesin Hino, enak di segala tarikan, terutama tarikan bawah nya jadi enak untuk nyalip-nyalip, kalo ini (1526) lama, tapi enak di atas” jadi ingat HR 50 callsign Netral armada pak Haji yang menggunakan Hino juga hehehe. Akhirnya bis berjalan santai namun kencang, dan tak lama kami telah tiba di RM. Kurnia Jawa Timur.

Perjalanan berlanjut, jam menunjukkan sekitar 20.30 kalau tidak salah. Rombongan mulai menyusuri gelap nya Ngawi, berlanjut nganjuk, Jombang, dan sampai Mojokerto bis tidak berjalan lurus menuju Surabaya, namun masuk ke Mojosari tembus Gempol sehingga langsung muncul di daerah bangil kalau tidak salah namanya. Sudah tengah malam saat kami memasuki kota pasuruan, namun lalu lintas seolah tidak berhenti, masih banyak truk yang berisi dan tidak berisi muatan, ELF, dan mobil mobil kecil yang masih lalu lalang. Hingga bis menyalakan lampu segitiga yang dilanjutkan dengan sen kiri, rupa nya masuk pom bensin, pak driver kebelet pipis ternyata, hehehe. Akhirnya bis berhenti sejenak untuk peserta rombongan yang mau ke toilet, atau sekedar ngopi dan merokok. Setelah semua penumpang kembali masuk, Lampu kabin dimatikan penumpang kembali tertidur, bis terus berjalan menyusuri kota Pasuruan “nampaknya panjang sekali kota pasuruan ini” batinku, karena setiap melihat keluar dan melhat papan petunjuk sebuah toko, masih saja pasuruan. Aku kembali ke Kursi, sambil memainkan smatphone yang tidak smart-smart banget, tak terasa aku tertidur, dan sudah dinihari. Pukul 4.00 bis masih berjalan, driver pun masih setia membuka mata demi menjalankan mesin MB OH 1526 ini untuk mengantar para penumpang nya. “Pak nanti kita solat subuh ya” “iya mas, cari masjid yang agak luas parkirnya” oke lah aku kembali ke kursi lagi, sambil lenggat-lenggut akhirnya sampai juga di sebuah masjid yang aku lupa namanya, namun terpampang Tulisan “Probolinggo” wah ternyata sudah masuk probolinggo. Segera ku tunaikan Ibadah Solat Subuh, air yang dingin dan belum mandi hampir 2 hari membuat mata ini makin berat. Sembari menunggu rombongan yang lain, ku rebahkan badan ini di teras masjid sambil memandang OH 1526 yang ku tumpangi.

Matahari mulai menunjukkan sinar nya secara perlahan. Driver belum berganti, katanya akan berganti di RM Grafika Ketapang sambil menikmati sarapan. Sayang, aku tidak sempat melihat keindahan paiton, nampaknya aku terlelap sesaat saat melewati PLTU Paiton karena saat terbangun sudah memasuki Situbondo. Roda terus berputar, sekitar 1 ½ jam berjalan Bis yang ku tumpangi malah bablas masuk pelabuhan, ternyata pak driver tidak sempat melihat plang nama Rumah makan ini karena tertutup bis parkir. Pemandangan pagi itu sungguh indah, di suatu sudut jalan raya situbondo sebelum RM Grafika  saya bisa melihat Laut persis di pinggir jalan, mengingatkan saya ketika sedang jalan-jalan bersama kawan ke Pantai Bayah, Banten. Akhirnya bis yang bablas ini putar balik, dan akhirnya masuk parkiran yang kemudian di susul oleh kawan-kawan nya.

Ku nikmati sepiring nasi yang lengkap dengan lauk-pauknya namun yang tetap ku ingat adalah sepotong ikan goreng tepung, entah ikan apa. Namun rasa nya enak sekali pagi itu, ku nikmati sembari memandang laut. Akhirnya setelah sarapan selesai, aku dan rombongan kembali berjalan menyusuri indah nya jalan akses menuju Pelabuhan Ketapang.

Memasuki Areal Pelabuhan, setelah membayar. Bis berhenti parkir terlebih dahulu untuk antri. Terlihat 2 OBL, 1 Pahala kencana jatah Jogja, dan bis bali perdana atau apa gitu namanya (lupa hehehe) sudah memasuki antrian untuk menyebrang. Tak lama, driver rombongan kami naik, dan kami di persilahkan turun….

Deburan ombak ini membuat ku lupa akan bayangan Jakarta

Perjalanan belum selesai, ku masih setia bergoyang di atas deburan ombak ini

Image

Bismillah Menuju Bali