“jangan lupa jam nya di puter 1 jam lebih cepat” kata pak dosen yang setia menggunakan kacamata hitamnya karena memang cuaca di atas kapal saat itu sedang terik. Tak perlu waktu lama,sekitar 45 menit-1 jam rombongan kami sudah mendarat di pulau Bali. Rombongan kami turun, 3 unit MB OH 1526 ini juga sudah berada di pelataran pelabuhan, namun bis 20menit tidak beranjak dari parkiran, peserta rombongan pun mulai kesal. “kenek masih di tahan di pos” ucap seorang panitia yang juga kebingungan. Akhirnya setelah 30 menit, semua masalah teratasi rombongan pun menyusuri indah nya aspal pulau Bali.

Rombongan berhenti di sebuah warung makan kalau tidak salah di daerah Negara, lampu segitiga menyala,yang dilanjutkan dengan sen kanan. Bukan untuk promosi, tapi pelayanan warung makan ini sangat memuaskan, bahkan pemilik warung ini tak segan “menaikkan” saya ke granmax nya untuk solat ju

mat. Setelah selesai semua, kami melanjutkan perjalanan sungguh menarik, tapi satu yang membuat nya menjadi bosan. KEMACETAN. Ku pikir hanya di Jakarta atau di pantura saja yang ada kemacetan, ternyata disini juga ada, hah ya sudahlah ku coba menikmati perjalanan di temani alunan lagu-lagu jaman sekarang yang entah apa makna nya (hehehe)

Skip aja ya,jalan di bali sampe denpasar pun banyak macet nya hehehe

Menjelang maghrib, bis masuk jalan baru yang menurut driver nya ini adalah jalan yang baru di buat untuk persiapan KTT Apec yang bisa menuju langsung pelabuhan padangbai, yang saya iya kan saja. Tapi memang jalan ini lebar-lebar dan sepi, namun tetap saja ketika memasuki persimpangan, bisa harus menyalakan lampu segitiga dan terkadang malah ngerem mendadak karena ada yang menyebrang dengan sembarangan. Sekitar 30menit berjalan ditambah dengan sempat berhenti nya bis untuk mengisi solar kendaraan,dan solar untuk pak supir (hehehe) akhirnya rombongan kami sudah memasuki areal pelabuhan Padang

bai.

Entah siapa yang meng-komando,seluruh gorden bis di tutup dan lampu kabin juga dimatikan entah bertujuan apa, kata kernet sih jaga2 biar gak ada “oknum-oknum” yang masuk. Saya memilih turun bersama beberapa rekan, pak dosen, dan crew bis.  “bagaimana ini? Kok kita disuruh 2-1? Kita kan rombongan 3 bis” entah supir bis mana yang berkata seperti itu dengan nada sedikit keras, dia tampak berbicara dengan orang yang naik sepeda motor membawa anak kecil umurnya mungkin 4-5 tahun. Aku hanya memperhatikan sembari meneguk segelas kopi yang agak “gak normal” sampai kemudian driver tadi kembali ke kumpulan kami. “itu pak, biasa yang ngurus kapal disini nyuruh kita naik kapal yang sekarang berangkat tapi 2-1 kita berangkat 2 bis dulu 1 nya nyusul, saya gak mau” ucap dia ke dosen yang persis di sebelah ku. “saya minta nya pake kapal Darma kencana jadi penumpang lebi leluasa dan nyaman naik nya, kapal nya bagus pak” lanjut dia ke dosen ku. Setelah itu dia kembali berbincang dengan beberapa crew dan dosen ku. Akhirnya sampai ada obrolan menarik yang aku pu

n tak tahan untuk nimbrung. “dulu saya memang biasa pak bawa OBL Jakarta-bima, jadi memang pembagian waktu istirahat nya blab la bla.” Dia menjelaskan hal-hal teknis ke dosen ku. Driver ini menurutku tidak pantas di bilang driver, badan nya atletis walaupun sudah berumur Nampak dia berwibawa. Kemudian ku potong omongan tadi “lho? Bapak batangan OBL bima dulu? Bawa MAN dong?” langsung teringat nasib MAN yang menurut beberapa kawan makin menyedihkan nasib nya. “oo ndak,saya ndak sempat bawa MAN,saya bawa intercooler taun 95an kemudian saya pindah len jogja, sampeyan tau OBL?” jawab nya. “ya tentu tau pak, dulu pernah beberapa kali naik pasukan gajah ke semarang” jawab ku cengengesan “hoo pantesan” jawab dia singkat, karena dia kemudian dipanggil orang yang sama dengan yang naik motor tadi, dan aku kembali ke dalam bis. Jam 21.00 WITA akhirnya rombongan full team 3 bis berbarengan naik.

Setelah posisi bis sempurna, penumpang pun dipersilahkan turun, dan aku langsung menuju tempat jual minuman dan makanan kecil. Kopi (lagi) dan roti sobek menjadi santapan selingan ku saat kapal hendak berangkat. Kapal nya cukup nyaman, segera saja aku mencari tempat untuk rebahan setelah melaksanakan ibadah solat isya yang digabung magrib. Sekitar jam 02.30 WITA aku dibangunkan oleh seorang teman, karena katanya kapal hendak sandar di pelabuhan Lembar Nusa Tenggara Barat, tapi kenyataan nya? Baru pukul 04.45 rombongan kami bisa turun dengan sempurna dan kembali menduduki jok aldilla ini, entah apa yang membuat molor, kata seorang panitia kapal nya ngantre. Hehehe, kapal saja ngantre.

Selamat datang di Nusa Tenggara Barat, aspal nya mulus mulus dan jalanan nya lebar-lebar. Dan apa yang membuat aku makin senang, disini Masjid nya bertebaran dimana-mana, hal ini membuat aku tidak perlu ribet-ribet mencari tempat “melapor” dari pelabuhan sampai ke hotel di daerah Senggigi hanya memakan waktu 25menit. Barang yang ada di bagasi sengaja ku titip ke kernet

untuk diambi setelah matahari muncul, segera ku ke kamar, masuk kamar mandi menyalakan kran dan mengambil air wudhu. Tak lama, matahari mulai muncul dan “del sarapan dulu, bilang sama temen sekamar elu” begitu pesan yang masuk ke gadget jadul ku. Segera ku ke restoran nya, ah pemandangan nya seperti di rumah, membuat kangen rumah ehehe. Sepiring nasi goring, di temani mi goreng dan udang goreng tepung membuat sarapan ini makin indah

Alangkah indah alam Indonesia

Lebih lah elok jika kita bisa melestarikan nya

-Pantai Senggigi, Lombok, Nusa Tenggara Barat-

(sudah dulu ya, sekian ceritanya hehehe)

pinggir Pantai Tanjung Aan, Lombok, Nusa Tenggara Barat

pinggir Pantai Tanjung Aan, Lombok, Nusa Tenggara Barat