secangkir kopi @Tanjung Benoa, Bali

secangkir kopi @Tanjung Benoa, Bali

“ah elu del, jaoh-jaoh ke bali bukan nye maen watersport malah ngopi doang” ucap seorang kawan saat saya menikmati secangkir kopi di Tanjung Benoa, Pulau Bali. ah tidak apa-apa saya lebih senang berteduh, ditemani secangkir kopi sambil menikmati tingkah polah pengunjung saat itu. percaya tidak percaya, bagi saya minuman hitam bernama kopi bisa menjadi tolok ukur sebuah lingkungan. tidak percaya?

saya pernah di undang atau lebih tepat nya di ajak oleh saudara untuk sekedar makan siang di salah satu Mall yang cukup ternama di Jakarta. tentunya pandangan saya, jika untuk makan siang di tempat itu tentulah cukup mahal dan menguras dompet. alhasil saya masuk ke restoran yang bernama bla bla bla coffee (nama di samarkan) ketika membuka daftar menu, sehenyak mata terkejut melihat secangkir kopi harga nya hampir di atas normal jika di banding dengan tempat minum kopi saya bersama tetangga rumah. namun keterkejutan saya tidak lama, sekejap saya memandang itu normal karena saya berada di tempat “nongkrong” nya kalangan atas ah sudah lah nikmati saja secangkir kopi yang mahal ini. saat meneguk pun, saya membatin “saya bisa disini,dan saya se-level dengan anda” sambil melirik beberapa warga negara asing mungkin ekspatriat di sekitaran Thamrin

contoh lain nya. ketika ke sebuah tempat wisata di bilangan Jakarta Utara saya memesan segelas kopi dan harga nya lagi-lagi tidak normal. lagi dan lagi saya harus introspeksi diri dan sadar bahwa ini adalah tempat wisata dan wajar jika sang pedagang mematok harga seperti itu.

beralih dari masalah harga yang jika dilihat, sang penulis seperti nya sedang mencurahkan isi hati nya, kopi juga bisa membuat seorang yang bahkan belum pernah kenal sama sekali menjadi akrab. tidak percaya?

saya pernah menunggu di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Barat dan lagi lagi saya memesan segelas kopi, tidak mahal cukup 3000 ribu rupiah saya sudah bisa memesan kopi kesukaan saya yaitu kopi hitam yang hanya memakai gula saja. segera saja saya mencari tempat untuk duduk sekedar melepas penat karena sudah berada di rumah sakit itu dari pagi. ketika melihat ada area kosong yang cukup teduh, disitu nampak beberapa orang yang juga sedang “ngopi” setelah permisi akhirnya kami berdialog tentang banyak hal. dengan kopi kami bisa akrab

di depan gang rumah saya pun ada juga warung kopi. tidak mewah,hanya bilik dari kayu meja panjang dan bangku panjang yang di lengkapi kipas angin kecil dan Televisi ber-ukuran 14 inch. tapi hampir setiap jam warung kopi itu di penuhi pengunjung, baik orang yang sekedar mampir melepas penat berkendara, atau memang pekerja yang berada di sekitar lingkungan saya. sesekali saya ikut “nimbrung” dan memang saya bisa saling tukar informasi. jangan remehkan, dialog disini bukan lah sekedar tukar menukar info harga mobil bekas, tapi bisa merambah ke dunia politik. semua karena secangkir kopi

saya jadi teringat cerita seorang rekan tentang banyak nya warung kopi di daerah tempat dia tinggal di Aceh. teman mengatakan bahwa disana penduduk menyebut nya kedai kopi, dan tempat itu menjadi tempat bertukar informasi sesama warga. teman bercerita banyak dari penduduk di sana bisa betah berlama-lama untuk berdialog, tukar pikiran ditemani dengan secangkir kopi. sayang saya belum bisa memenuhi undangan kawan tersebut untuk minum secangkir kopi di kedai kopi Aceh

ya. itu lah kelebihan kopi menurut pribadi penulis. tidak hanya menjadi tolok ukur sebuah lingkungan ternyata bisa mengakrabkan satu sama lain🙂

sudah kah anda minum kopi hari ini?