*Intro*   Perjalanan kali ini diawali dengan pertemuandengan para dulur-dulur yang saya sudah lama sekali tidak bertemu. Kami bertemu dalam sebuah kota yang diam-diam menghanyutkan cuaca panasnya, namun resikseperti slogan kotanya. Singkat kata, saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kelanggengan Bismania Kaskus di ulang tahun nya yang ke 2 (kalo gak salahwekekekek) dan terimakasih banyak saya ucapkan kepada seluruh dulur BimaKus yang telah menyambut saya dengan kehangatan (gak lebay,Cuma berlebihan hehehe)dan special untuk om gian adel yang udah bersusah payah mengantar saya ke poolbudiman dengan Kuda Besi nya sambil berhujan-hujan ria (tak tunggu bubur nya oms). Akhirnya sekali lagi saya ucapkan selamat ulang tahun yang ke-2 bagiBismania Kaskus

Perjalananpulang kali ini, saya merasa perlu untuk membagikan “Laporan” nya karena saya cukup kaget, ada rute yang menurut saya masih dalam jarak “dekat” memiliki kelas semacam ini (salut untuk PO. Budiman) Perjalanan pulang kali ini saya lakukan dengan hopeless,Mengapa? Saya agak kecewa dengan embel-embel “Super Eksekutif” nya PO Budimanini, yang ternyata hanya dilengkapi legrest,untungnya badan saya yang agak “berlebih” ini mendapatkan duduk di paling depan, tapi tetap saja saya masih merasa “kurang” lebar. Entah gayung darimana,gayung bersambut ketika saya sedang menunggu SE nya salah satu penguasa priangan timur di terminal kampung rambutan. Saya melihat sebuah stand banner yang kurang lebih berisi informasi ada sebuah bis dengan kelas “Best in Class” bermesin O 500  R OH1836 yang sekarang Nampak menjadi tren baru di dunia persilatan, eh maksud saya dunia perbisan. Saya meneliti, PO mana bis ini berasal? Tapi nihil karena saya memang betul-betul kuper dalam duniabis, di stand banner tercantum hanya tulisan “BCB” yang setelah saya berkunjung ke pool PO. Budiman, saya baru sadar ternyata “BCB” itu adalah kepanjangan dari Bis Cepat Budiman (betul-betul kudet neh ogut). Setelah memasuki kabin SE Po. Budiman yang kebetulan mengusung mesin MB OH 1526, Kemudian membatin dalam hati “saya pulang harus best in class”.

Skipskip

Perjalanan pulang tidak begitu mudah bagi saya. Pertama, cuaca hujan. Kedua, taksi yang menjadi fasilitas gratis bagi pemegang tiket “Best in class PO. Budiman” tidak bisa dipanggil. (hal ini nampaknya perlu menjadi perhatian dari pengelola taksi Budiman) akhirnya om Gian Adel, merelakan dirinya untuk berbasahan ria menembus cuaca hujan nan dingin yang sedang berlangsung di Kota Tasikmalaya saat itu.Sekitar 15 menit berjalan, akhirnya motor yang kami tumpangi memasuki Pool PO.Budiman di bilangan jalan Ir. H. Juanda Tasikmalaya tersebut.  Segera setelah saya turun, saya langsung menuju bis yang bertajuk “Best in Class” tersebut.Ahay, ternyata bodi Jetbus garapan karoseri ternama Adiputro sudah memasukiJalur, dan masih sekitar 30 menit lagi untuk ban berpeluk rindu dengan aspal jalur selatan menuju Jakarta. Uniknya (menurut saya unik) di depan Bis ini,diletakkan stand banner yang berisi tulisan “Welcome, Selamat Datang” dan berisi pula informasi bis ini memilikibla bla bla. “wah unik juga penyambutan nya” dalam hati ku saat itu. Kemudian kondektur bis menghampiri dengan senyum ramah nan renyah bagaikan tempe goreng tepung ketika baru diangkat dari penggorengan dan menyapa “selamat malam pak, sudah ada tiket?” ucapnya, yang langsung saja aku ulurkan selembar kertas seraya meminta tolong untuk meletakkan tas ransel yang sudah basah kuyup karena hujan di bagasi. “ah that’s a good service” batin ku dalam hati. Segera saja saya naik menuju kursi single seat nomer13. Yaps saya memilih single seat karena memang ingin jadi bobomania sepanjang perjalanan.

Masih 30 menit, saya habiskan dengan gosok gigi di toilet pool dan dilanjutkan dengan menunaikan solat isya, yang setelah semua nya selesai baru saya mengambil kamera dan mencoba belajar mengambil gambar bis yang bertajuk “Best in Class” ini.   Tak terasa 30 menit menunggu, bis sudah menyalakan segitiga dan siap keluar dari Jalur. Kala itu ku menengok ke jendela kiri terlihat om gian adel dan om blouph yang sedang menunggu Vialli, segera ku lambaikan tangan, ah berat rasanya tapi apa daya tuntutan mengharuskan kembali ke Ibu Kota. Raunganmesin O 500 R OH 1836 mulai berjalan mari kita lihat apa kehebatannya….

 

*continuedulu, udah mau di usir sama pelayan restoran karena kelamaan duduk*