“Giliran Gua Kapan!!??” Ungkap Indro dalam sebuah Film Warkop DKI yang diputar ketika mesin OH 1836 ini mulai meninggalkan Pool PO. Budiman. Cuaca hujan kala itu seolah tidak menghalangi pak supir untuk “unjuk gigi” kepada pengguna jalan lain, terhitung sejak meninggalkan pool, pak supir mulai salip kanan terus walaupun sesekali ketika hendak kembali ke jalan yang benar, beliau harus merelakan mendapat sambutan meriah dari “paduan suara” klakson klakson. Mesin baru memang kurasa lebih baik dibanding seri sebelum nya seperti 1526 (kebetulan saya seringnya naik jenis ini) performa cukup baik, walaupun menurut saya masih lebih “geboy” tenaga nya Scania, tapi jelas untuk performa, mesin besutan Mercedes Benz ini saya acungi jempol. Duduk di urutan 13, sekitar 4 baris ke belakang membuat saya cukup sulit untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan.

Film telah usai, kini berganti lagu. Yaps, kali ini tembang kenangan diputar, Broery Marantika sedang mendpat giliran nya saat itu, cuaca yang masih hujan membuat suasana semakin syahdu, saya menengok ke sebelah semua sudah merebahkan jok elektrik berkonfigurasi 2-1 nya dengan menggunakan selimut, “ah mereka sudah terbuai mimpi nampaknya” batin saya saat itu. Sayang nya, saat masih berada di dalam kota Tasik, bagian atas bis mengenai dahan-dahan pohon yang membuat “grosak grosak” saya merasa sayang dengan kejadian tersebut, hehehe😀 Ah perjalanan kali ini agak membosankan, hingga di track lurus setelah pusat oleh oleh arjuna (nama daerah saya lupa) yang saya intip, di depan ada Gapuraning Rahayu entah mesin apa jurusan Kr.Pucung-Jakarta yang menjadi pembuka jalur. Dengan gagah, mesin 1836 ini juga mengekor dan kemudian setelah mengekor beberapa saat akhirnya GR menyalakan sein kiri, dan BIC pun mengambil jalur kanan untuk menyalip. Setelah ini, tidak ada lag bis yang berjalan di depan kami, hanya saja saat itu banyak truk dan mobil mobil kecil yang tentunya cukup mudah untuk di “tikung” oleh BIC ini.

Setelah sekian waktu berjalan, aspal malangbong mendapat giliran untuk di cium oleh ban dari 1836 ini. Cuaca sudah tidak turun hujan deras, kali ini sebuah permainan seru (tentunya tanpa kompor sama sekali) “best in class” mendapat urutan ke-3 setelah di depan nya ada Sinar Jaya entah jatah mana, dan urutan pertama adalah BGS trans, tentunya diantara bis bis ini masih ada beberapa mobil kecil. Saya intip dari kursi, permainan sein dari sinar jaya cukup baik sampai ketika di sebuah tanjakan yang menikung ke kanan kemudian tak lama langsung ke kiri lagi Nampak nya “pilot” dari OH 1836 ini tidak sabar hendak menyalip. Setelah dirasa aman disebuah tanjakan yang agak menikung OH 1836 ini berhasil menyalip Sinar Jaya yang rupanya bermesin Hino (entah hino apa) sekarang posisi berbalik OH 1836 menjadi urutan kedua, menguntit BGS trans. BGS trans yang berlabel Mercedes Benz ini nampaknya tak mau kalah sehingga tak memungkinkan 1836 menyalip kanan. Memasuki lingkar gentong, jalan mulai menanjak BGS Trans yang tadinya masih gagah berani di depan BIC merelakan dirinya sein kiri dan menyalakan segitiga yang kemudian dia berjalan lambat. 1836 dengan gagah nya segera menyalip dan tenaga nya tidak habis (kalo saya bilang,napas nya gak abis) hebat kolaborasi driver dan mesin ini, setelah keluar dari lingkar gentong, bis tidak menemui lawan yang berarti lagi. Beberapa budiman yang disalip juga hanya saling berbalas klakson Setelah menurut saya tidak ada lawan yang berarti, saya mulai merebahkan jok elektrik yang katanya keluar dari pabrik yang sama dengan jok elektrik NS 01. Menurut saya, memang desain sama tapi masih lebih luas milik NS 01,terutama untuk menopang badan saya yang “berlebihan” ini hehehe. Jika di NS 01, nyaris rebah 180 derajat, tapi ini tidak terlalu miring namun cukup nyaman jika hendak jadi “bobomania”. Setelah semua japri beres, saya mencoba melihat pemandangan di luar dan kali ini suara dari Christine panjaitan masih saja mengajak kita untuk mengatakan sejujurnya (Lagu Katakan Sejujurnya) membuat malam yang mendung ditambah udara dingin yang berhembus dari Thermo King semakin syahdu. Tak lama kemudian dalam hitungan 3,2,1 saya sudah menjadi bobomania hehehe

Terbangun sejenak di rest area KM berapa saya lupa di tol cipularang, kemudian saya tertidur lagi setelah pergi ke toilet yang ada di Bis. Sekitar kurang lebih pukul 3.30 pagi, PO. Budiman yang bertajuk “Best in Class” ini sudah mendarat dengan selamat di Terminal Kampung Rambutan yang kala itu banyak sekali yang menyambut saya dengan sapaan “taksi pak, ojek pak” ah sungguh betapa kerasnya perjuangan hidup di IbuKota ini. Setelah saya tolak dengan halus, segera saja saya menuju parkir penjemput, di sana sudah terdiam sebuah Avanza Hitam yang seolah menyapa “Piye Kabare, penak nganggo 1836 opo aku?”…..

 

 

-Tamat-

Data-data:
PO. Budiman “Best In Class” BT 02 Mercedes Benz O 500 R OH 1836 “BlueTec”
Tarif 120rb
Start: 22.30 Finish: 3.30
~Best in Class emang bener bener Best in Route~