Sekian lama gak nulis di blog, kali ini penulis mencoba menulis lagi #eaaa

Perjalanan kali ini dibumbui motif “dendam lama” yang sudah lama terpendam akibat sudah lama banged (pake D) gak naik moda transportasi Kereta Api. Berlandaskan “dendam” itu, beberapa waktu lalu setelah ke kantor dan menyerahkan pesanan kantor dan pamitan sama orang kantor, bermula lah cerita saya ini.

Hari sebelum saya menuju kantor, niat kali ini adalah menjadi bolang alias bocah petualang (tentunya gak pake sponsor tipi swasta tapi), kalo biasanya saya ke kantor tiap hari bawa mobil, kali ini saya coba mengkontek salah satu saudara yang tiap hari juga ternyata bolak-balik ke wilayah kerja saya (cikampek area) setelah diberi lampu hijau untuk “nebeng” akhirnya saya pun terlelap tidur.

Pagi harinya, setelah siap semua barang juga sudah di cek kembali, segera saja saya menuju apartemen sodara yang gak begitu jauh dari rumah. Setelah menunggu beberapa saat, muncul Terios warna silver dihadapan saya segera saja naik, dan mari membelah kemacetan pagi hari. Oh iya, sebelum menuju cikampek, sodara ini menjemput orang kantornya baru langsung puter kepala ke cikampek. Dasar penyakit, setiap duduk di bangku penumpang pasti bawaannya ngantuk, ditambah pak driver nya alus banget bawa mobilnya. Sesampainya di kantor sodara, niat penulis adalah naik angkot untuk menuju kantor, tapi apa daya rejeki tak boleh di tolak, pemilik mobil meminta pak driver untuk mengantar saya sampe kantor aduh rasanya masih gak enak sampe sekarang diantar sampe depan gedung kantor. Makasih banget lho om, dan ibu …. (lupa namanya hehehe)

di kabin Terios

di kabin Terios

“udah di cek semua kan dul?” ucap orang kantor saat menerima pesanan, “beres pak, di tes aja lagi” jawab saya. Akhirnya pesenan saya di tes, dan bekerja dengan baik. Setelah berpamitan, akhirnya perjalanan bolang dimulai……

Perjalanan pulang penuh dengan kegalauan. Entah darimana “dendam lama” tadi muncul sehingga saya melakukan perjalanan bolang ini. Awal keluar gedung kantor aja bingung, karena dari gedung ke depan jalan raya mungkin sekitar 2 kilometer sedangkan ojek jarang sekali lewat, akhirnya penulis memutuskan untuk “nekat” jalan kaki. Setelah beberapa menit jalan kaki, tiba-tiba ada yang memanggil “pak, ojek” lah kebetulan batin saya, yuk dah naik ojek aja biar cepet. Setelah sampe di jalan raya, saya makin bingung mau kemana? Niat ke bandung Cuma biar pulangnya naik argo parahyangan udah bulat. Lah, pergi ke bandungnya gimana??? Ini yang luput dari perhatian saya. Setelah meneguk aqua botol, tiba-tiba ingatan ini melayang ketika mampir ke warung bakso deket kantor. “oh iya selamat trans kan ke bandung” batin saya bergembira saat itu. segera saja saya stop angkot yang kebetulan melintas, dan langsung capcus ke agen selamat trans.

“wah maaf pak, mobil yang ke bandung udah berangkat 10 menit lalu, kalo mau yang jam 2 nanti” ungkap mbak-mbak penjaga counter di agen Selamat Trans yang cukup manis (eh). “wah yowis, makasih mbak” ucap saya dengan langkah gontai meninggalkan agen, yang kemudian saya menyebrang jalan untuk menyantap mi ayam (tetep aja makan hahaha).

Mi ayam dulu lah

Mi ayam dulu lah

Sembari di warung mi ayam, saya melakukan japri ke salah satu sahabat “penguasa karawang” untuk menanyakan bagaimana cara sampai ke bandung dari cikampek. Akhirnya disarankan naik bis primajasa, bisa via cikopo atau klari. “Oke lah, saya ke klari aja” ucap saya melalui whatsapp. Tak terasa, semangkuk mi ayam sudah habis, langsung bayar dan cus ke klari (pake angkot lagi tentunya).

Membelah pantura dengan angkot (termasuk pantura kan ya?)

Membelah pantura dengan angkot (termasuk pantura kan ya?)

“mas nanti tunggu di lampu merah klari aja, gak usah masuk terminal” ucap pak supir angkot yang sangat ramah, namun sedikit ngedumel tentang politik (hahaha). Setelah sampai di lampu merah klari, segera turun dan menuju sebuah warung yang memang sudah banyak juga calon penumpang lain yang menunggu di situ. Tak lama, bis primajasa yang ditunggu akhirnya nongol. Cikarang-Bandung via tol cipularang terpampang jelas di kaca depan bagian atas bis tersebut. Saya hitung, ada 4 penumpang yang naik bersama saya.

Setelah naik, mesin hino berbalut bodi entah apa segera menuju pintu tol karawang timur. Sesaat setelah mengaspal di tol cikampek barulah pak kondektur menagih ongkos. Segera saja 2 lembar 20ribuan dan selembar 2 ribu rupiah berpindah tangan. Saya rasa agak membosankan berada di atas kabin hino ini terlebih saya duduk di barisan kedua dari depan. Karena bosan, saya menengok ke belakang, lah ternyata sepi. Sekejap, penulis pindah ke belakang dan bis mulai memasuki ruas tol purbaleunyi. Entah di kilometer berapa, penulis pun merebahkan jok dan kemudian 3,2,1… grokkkk grokkk grokkkkk

tadinya di sini

tadinya di sini

kemudian pindah kemari

kemudian pindah kemari

Penulis mencoba menebar pandangan ke kaca jendela samping, mencoba mencari tahu ini dimana karena posisi bis sedang berhenti saat penulis bangun. Ternyata oh ternyata, bis sedang menurunkan penumpang di pinggir tol dekat exit padalarang, akhirnya penulis mencoba mengumpulkan kesadaran. Kepanikan agaknya muncul, karena bis tidak keluar gerbang Pasteur “mampus ini kemana” gerutu penulis dalam hati. Ternyata oh ternyata, bis berhenti di terminal leuwipanjang. Terdampar di tempat yang sama sekali belom pernah penulis ketahui, tentunya harus bertanya dong (ingat, malu bertanya sesat di jalan) setelah menunaikan “pipis”, penulis bertanya ke penjaga kamar mandi bagaimana cara untuk sampai ke stasiun bandung. Didapatlah jawaban bahwa naik saja damri jurusan dago, nanti turun di dekat stasiun. Setelah berterimakasih, segera menuju parkiran damri dan kebetulan bis damri yang jurusan dago sudah siap untuk berangkat. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mesin Mercedes benz angkatan lawas ini berangkat meninggalkan terminal leuwipanjang, untuk mengarungi lalu lintas bandung (yang ternyata) makin rame.

terdiam di sudut Damri

terdiam di sudut Damri

 

“mas stasiun bandung masih jauh ya?” Tanya saya kepada seorang pria berjanggut tipis, yang duduk di sebelah saya. “masih agak lumayan jauh pak, mau ke Jakarta pak?” jawab dan Tanya dia. “iya mas, tolong kalo udah dekat beritahu saya ya, maklum sudah lama gak ke bandung” ucap saya, padahal itu hanya alasan karena saya babarblas gak pernah naik angkutan umum di bandung kecuali taksi (-_-“)

“pasar baru, baru baru baru” teriak kondektur “pak, turun sini kalo mau ke stasiun nanti di gapura itu belok kiri” ucap pria tadi, segera saja saya ucapkan terimakasih dan turun dengan sedikit tergesa (jangan ditiru) karena masih bingung, saya harus nanya lagi untuk memastikan dimana letak stasiun bandung itu. tapi ke siapa??? Tak lama berjalan, akhirnya ada pak polisi yang sedang menikmati potongan buah segar yang dijajakan pedagang. “permisi pak, kalo stasiun dimana ya?” Tanya saya singkat. “masuk aja ke dalem, nanti ada belok kanan, langsung belok kiri keliatan deh stasiunnya” jawabnya yang kemudian memasukkan potongan buah melon terakhirnya. Setelah mengucapkan terimakasih, akhirnya saya berjalan dan voila saya sudah sampai di stasiun bandung tanpa menggunakan kendaraan pribadi hahaha (kebanggaan tersendiri buat saya hehehe)

Stasiun Bandung

Stasiun Bandung

Saya yang masuk melalui pintu selatan, segera saja melihat jadwal keberangkatan paling awal.. ternyata argo parahyangan yang paling cepat adalah jam 14.30, saya lirik jam sudah jam (kurang lebih) 14.00, segera saja menuju loket dan disambut (lagi dan lagi) mbak-mbak manis lengkap dengan seragam PT. KAI yang membuatnya makin elegan. “mbak yang jam setengah tiga masih ada kosong?” Tanya saya segera, “masih pak, untuk berapa orang?” jawab dan Tanya dia “satu aja” jawab saya sembari menyerahkan KTP, yang kemudian diambil dan entah mbak-mbak itu meng-input apa, mungkin tanggal lahir saya, sehingga dia bisa mengucapkan selamat ultah ketika ultah saya tiba (semoga nyonya gak lihat post saya kali ini). “pak tiketnya 90ribu rupiah” ujar penjaga loket itu, yang saya tukar dengan selembar uang merah yang seringkali pergi dan datang sesuka hatinya (sambil nyanyi). Sambil menyerahkan selembar tiket, selembar uang sepuluh ribu, dan KTP dia ucapkan terimakasih, cukup membuat kesan baik saya terhadap pelayanan PT. KAI yang mulai baik (semoga tetap dipertahankan). Sambil menunggu, musholla dan “si kei” (penyebutan saya terhadap circle K) adalah tempat tujuan saya berikutnya.

Harga saat itu

Harga saat itu

ini nih yg bentar lagi ke jakarta

ini nih yg bentar lagi ke jakarta

sisi samping

sisi samping

dan interiornya

dan interiornya

“kepada para penumpang argo parahyangan tujuan akhir stasiun gambir, diharap untuk segera bersiap karena kereta akan diberangkatkan 10 menit lagi” ucap seorang pria yang suaranya tersalurkan melalui speaker yang diletakkan disudut-sudut stasiun. Segera saya bergegas menuju kereta yang ada di jalur… (saya lupa jalur berapa), ehhhhh lagi-lagi di sambut oleh 2 crew perempuan yang cantik hadohhhh sembari berucap “selamat siang pak, silahkan naik ke kereta argo parahyangan” tentunya dengan senyum renyah seperti kerupuk udang yang baru matang, mantap dah hehehe.

Setelah masuk rangkaian, saya duduk di sebelah seorang pria yang berpakaian kantor lengkap dengan memegang gadgetnya tampaknya ia sedang melakukan perjalanan dinas. Sambil mengucap permisi, segera saya duduk di sebelahnya. Tak lama meletakkan bokong, kereta mulai berangkat. Beberapa menit berjalan, seorang kondektur menghampiri saya dengan senyum lebar ia berkata “permisi pak, bisa saya lihat tiketnya” segera saja saya serahkan tiket saya, dan kemudian di “jetrek” (apa bahasa bakunya jetrek?) kemudian dikembalikan ke penulis sembari mengucap terimakasih. Unik. Ya unik, entah saya norak terserah pembaca menilai bagaimana, setelah kondektur memeriksa tiket di gerbong saya, semua penumpang berubah posisi, bahkan bapak-bapak yang di sebelah saya pun pindah ke bagian agak depan. Sehingga sebelah saya kosong, dan lumayan merdeka hehehe.

Setelah melintas terowongan yang agak panjang, pintu bordes terbuka diiringi suara roda kereta dorong “lho? Apa ada kereta diatas kereta” tanya saya lebay di dalam hati, ternyata salah satu crew cantik tadi menawarkan makanan dan minuman ditemani seorang pria. Saat tiba di tempat duduk saya, dia menawarkan makan dan minum kepada saya, tapi saya tolak. Ya awalnya saya tolak, setelah dia lewat barulah saya ingat ternyata saya belom melahap nasi dari pagi. Dasar perut nasi ucap saya dalam hati, yang berakibat pramugara yang menemani mbak-mbak itu mendapat “colekan mesra” dari saya sembari saya berkata “ada nasi goreng gak bang?” ucap saya asal. “ada pak” sembari dia menyuguhkan sepiring nasi goreng beserta kawan-kawannya. “haish porsi nasinya dikit nih buat perut gue” ucap saya dalam hati, tapi potongan ayam ini mirip yang biasa ibu saya buat cukup besar ditemani dengan telur mata sapi. Setelah dibuka, hemm rasanya menggugah selera hehehe (makan lagi dan lagi).

nyam nyam walaupun sedikit

nyam nyam walaupun sedikit

Suapan demi suapan nasi goreng masuk ke dalam mulut, tanpa ada yang “mengganggu” karena kali ini gadget saya matikan, bukan karena mau lari dari penagih hutang, tapi memang lowbatt dan lupa bawa powerbank maupun powerbank. Setelah mengambil beberapa foto, dan nasi goreng tadi sudah habis, segera saya rebahkan kursi yang cukup empuk, kemudian 3,2,1 grokkkk grokkkk grokkk.

dari jauh keliatan tol ya?

dari jauh keliatan tol ya?

Ijo

Tinggi

Ijo lagi

Ijo lagi

Tidak lama saya tertidur, mungkin sekitar setengah jam (sebentar kan? Hehehe) animasi kereta yang daritadi di setel melalui layar monitor berubah menjadi film action yang cukup menjadi favorit saya, yakni film SWAT, film ini membuat saya kerasan, kecuali dua hal yang membuat saya mengalihkan perhatian saya. Pertama, mbak-mbak tadi beberapa kali mondar-mandir di gerbong saya sambil membawakan makanan kepada penumpang lain. Kedua, ada crew pria yang menawarkan layanan pijat refleksi, sayangnya saya tolak kemudian crew tadi berpindah ke gerbong lain dan tak lama ia melewati saya sembari ada seorang penumpang mengikuti dari belakang. Nyesel juga gak nyobain layanan pijatnya, tapi sudahlah.

Tak terasa, rangkaian argo parahyangan ini sudah memasuki stasiun bekasi tapi entah mengapa penulis lupa, di ruas mana rangkaian ini sempat berhenti beberapa saat baru kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Akhirnya sekitar pukul 17.30, tiba lah saya di pemberhentian pertama, yakni Stasiun Jatinegara. Banyak porter yang segera menyambut penumpang, ah saya cukup terenyuh betapa sulitnya hidup manusia, mengapa kita jarang dan sulit untuk bersyukur?

setelah turun dengan sempurna, crew dan pramugara juga turun sembari mengucapkan terimakasih dengan mengatupkan kedua tangan dengan senyum renyah. Alahay, membuat saya ingin naik kereta ini lagi hehehe. Segera penulis menuju musholla untuk melaksanakan solat ashar. Setelah menunaikan solat ashar, segera keluar dan menuju angkot yang sudah ngetem.

Setelah beberapa lama di atas angkot, saya berhenti disebuah pertigaan jalan. Di salah satu sudutnya, menyendiri dibawah pohon sebuah avanza hitam yang seolah bertanya pada saya? “piye kabare setelah numpak sepur?”

-tamat-

Biaya-biaya :

Bis Primajasa Cikarang Bandung AC: 42000Argo Parahyangan Bandung-Jakarta: 90000
Nasi Goreng Kereta: 28000
Belanja di si kei: 33000
mi ayam+aqua: 15000
Ojek dari dalem kantor ke depan: 7000
Angkot cikampek bolak balik: 7500
pipis di lewipanjang: 2000
Damri lewipanjang-stasiun: 3000
Beli Aqua deket stasiun: 3000

Total : 240.500