Seperti pada cerita saya pada bagian pertama, saya memutuskan dalam perjalanan pulang kali ini untuk menggunakan armada Super Executive dari PO Shantika dengan julukan Sahalah. Berawal dari janji untuk mengambil tiket di terminal Jati sekitar jam 12 siang, eh kok malah molor jadi jam 4 sore, semua karena perjalanan dinas di kota Pati.

Gebetan Baru

Gebetan Baru

Setelah tiket sahalah di tangan, saya pun terpaksa mencari makanan kilat, pilihan segera dijatuhkan ke Garang Asem Sari Rasa dan Soto Ayam Pak Denuh yang sejurusan dan bisa sesegera mungkin jika sudah jam mepet menjelang keberangkatan Sahalah di jam 18.30. Baiklah, terkadang menikmati makanan secara kilat ini enak juga, bahkan bisa menjadi alasan untuk kembali mencari jadwal dinas ke luar kota seperti ini hehehe.

Skip skip skip. Akhirnya jam 18.00 saya pun berangkat menuju terminal, untunglah Kudus tidak memiliki lalu lintas seperti Jakarta, jika seperti di Jakarta, ah sudahlah kadang disitu saya merasa sedih hahaha. Setelah sampai di agen, obrol punya obrol ternyata mbak shanti belum hadir di parkiran menurut agen sih sedang OTW menuju Terminal Jati, ah yawis malah kebetulan saya jadi memiliki waktu lebih untuk sholat maghrib di Musholla.

Kurang lebih, lewat dari 5 menit Sahalah yang menggendong mesin besutan Hino berkode RN285 ini tiba di Terminal Jati, Kudus, penumpang sudah cukup penuh, segera kondektur membantu para penumpang yang hendak meletakkan barang di bagasi termasuk saya hehehe, segera saja saya langsung naik bis tentunya setelah berpamitan dengan saudara yang telah membantu saya selama di Kudus, ah ini lah yang membuat saya merasa sedih dan selalu kangen.

terpampang meyakinkan bahwa ini memang RN285

terpampang meyakinkan bahwa ini memang RN285

seat 2-1

seat 2-1

Setelah masuk, dan meletakkan pantat, jujur saya langsung cinta pada pandangan pertama. Bagaimana tidak, sebuah SE kursinya mirip kursi direktur utama di tempat saya berkantor, colokan listrik di setiap bangkunya, selimut lebih tebal, dan ada cup holder di sandaran tangannya. Ini yang menjdi pertanyaan saya, mengapa NS01 tidak membenamkan fitur seperti ini pada armada nya, tentunya ini sangat membantu para penumpang. Tak lama setelah meletakkan pantat, bis mulai mundur perlahan dan tuas perseneling berganti ke arah depan, dengan perlahan namun mantap Sahalah pun mulai meninggalkan Terminal Jati, untuk bertugas mengantar penumpang ke Jakarta.

kabin saat itu

kabin saat itu

jok besar, selimut tebal. nikmat mana lagi yang mau kau dustakan?

jok besar, selimut tebal. nikmat mana lagi yang mau kau dustakan?

solar full, tanpa peringatan max speed

solar full, tanpa peringatan max speed

Headset sudah tercolok, kali ini lagu trio ambisi yang mengcover beberapa lagu pop yang tenar di zamannya menjadi pilihan saya, AC dingin, kursi besar, selimut tebal menjadi paduan yang tepat saat itu. Layar monitor yang menyajikan tayangan dangdut koplo kali ini terpaksa saya acuhkan hehehe.

preparation for takeoff

Kesan pertama, walaupun ini kelas Super Exective saya masih merasa seperti di dalam bis, tidak seperti di NS01 yang saya merasa lebih seperti di dalam mobil kecil. Driver unjuk kebolehan, memasuki demak terlihat ada beberapa bocah yang berdiri di pinggir jalan sambil melambaikan tangan dan membidik setiap bis yang lewat dengan kamera mereka, berasa jadi artis deh hehehe. Demak seolah menjadi sirkuit bagi pengemudi saat itu, tak jarang mobil kecil hingga truk menjadi keganasan mesin dari negeri jepang ini. Memasuki tol semarang jika tidak salah ingat ada premiere class milik PO Nusantara yang seolah menjajal kemampuan RN 285 yang sedang digendong sahalah ini. Walaupun akhirnya berhasil mencentang di menjelang pintu tol Jatingaleh akhirnya RN285 ini harus menghadapi kenyataan bahwa exit pintu tol krapyak membuat rem harus menunaikan tugasnya untuk memperlambat laju dan menghentikan kendaraan.

Bis terus berjalan, trio ambisi pun masih mengalunkan suara dan nada yang cukup indah untuk saya, ditambah suhu interior Jetbus ini yang makin dingin, tentunya membuat saya kembali merapatkan badan dalam balutan selimut tebal berlogo louis vitton ini. Setelah lepas dari teminal Mangkang, yang saya kira ada penumpang yang naik dari situ, ternyata tidak ada, RN285 langsung melaju memasuki wilayah kendal. Kendal pun kembali menjadi ajang pembuktian mesin RN285 ini dalam trek datar, kecepatan cukup baik di waze sempat tercatat jika tidak salah ingat di angka 105kpj, sayang ndak sempat saya capture.

Setelah berapa lama berjalan, kembali mesin RN285 diuji saat hendak memasuki alas roban, yang cukup tenar dengan tanjakannya yang kadang memaksa mesin-mesin buas pun tunduk ditanjakan ini. Sayangnya RN285 ini pun setelah mencoba dipaksa secara bertahap, pak driver pun memilih kembali ke jalan yang benar, alhamdulillahnya tidak ada adegan seperti tahun 2013 disaat saya menumpang 1526 milik PO Haryanto bernomor HR47, di lokasi yang sama dengan santainya NS01 yang saat itu masih sangat elegan dengan livery 100th anniversary menyalip dengan entengnya di tanjakan plelen ini.

Setelah tanjakan plelen teratasi dengan baik, servis makan para penumpang pun ditunaikan, RM Bukit Indah menjadi pilihan PO Shantika untuk menuntaskan rasa lapar para penumpang malam itu. Saat memasuki area parkir sudah ada beberapa shantika dan armada PO Bejeu yang saya lihat sudah parkir dengan rapih. Segera setelah turun Musholla menjadi tempat pertama saya untuk menuntaskan kewajiban sholat Isya, baru lah menuju ruang makan. Menu malam saat itu, lele goreng, sayur tahu dan soto ayam menjadi pilihan yang pas untuk saya, dengan dorongan teh hangat cukup mengganjal perut saya yang makin tumpah ini.

Segera setelah beres urusan perut, saya keluar ruang makan dan menyempatkan melihat area sekitar rumah makan ini. Di jalan, terlihat nampaknya beberapa armada dari PO Haryanto masih menyalakan segitiga pertanda baru hendak keluar dari rumah makan. Segera setelah selesai semua, penumpang Sahalah pun kembali naik, pak kondektur dengan cekatan menghitung ulang penumpang namun ternyata masih ada penumpang yang tertinggal, entah dimana, pak kondektur berusaha mencari dan mungkin sekitar 7 menit kemudian baru ditemukan, segera setelah penumpang itu duduk, RN 285 ini kembali ke jalur utama meninggalkan RM Bukit Indah.

pilihan yang kurang menggugah selera, karena perut masih kenyang

pilihan yang kurang menggugah selera, karena perut masih kenyang

Entah di ruas mana, saya melihat dari balik sekat yang membatasi antara penumpang dengan kokpit sekilas Bejeu di depan, seolah hendak dijadikan teman bermain oleh sahalah ini, namun entah mengapa aksi tempel menempel tidak begitu ketat, sehingga saat di dalam kota pekalongan Bejeu memiilh lurus, dan sahalah menyalakan sen kanan untuk masuk kota. Terakhir saya melihat plang disebuat toko daerah Wiradesa, Pekalongan, dan akhirnya selepas itu saya tidak ingat apalagi kecuali 3,2,1….. Kembalilah saya menjadi bobomania.

Karena lelah, saya pun baru terbangun jika bis sudah mencapai pintu tol cikampek. Dan entah apa yang dilakukan crew, setelah mengambil kartu tol, bis berhenti sejenak di bahu jalan. Tidak begitu lama, tapi mungkin lebih dari 10 menit perkiraan saya, baru lah bis kembali berjalan. Kilometer demi kilometer, dijajaki oleh Sahalah ini, sampai tak terasa mungkin hanya memakan waktu 1 jam, hingga lampu kabin mulai dinyalakan di perempatan Mal Arion, dan pak kondektur mulai meneriakkan “Rawamangun, Rawamangun”……

Setelah mengumpulkan kesadaran, saya mulai turun dan mengambil barang bawaan yang malah bertambah jumlahnya saat pagi itu. Tak jarang tawaran dari ojek, hingga taksi yang mencoba mengambil keuntungan di pagi hari itu, hal seperti ini lah yang membuat saya sadar tak selamanya hidup itu mudah. Setelah menunggu sekitar 15 menit, muncul sekelebat bayangan hitam, dengan cahaya putih. Segera saya sambangi bayangan hitam itu, meletakkan barang bawaan di bagian belakang, posisi driver pun berganti kepada saya. “Tujuan berikutnya adalah kasur” batin saya pagi itu

 

Terimakasih Sahaalah

Terimakasih Sahaalah

-Selesai-