Rasanya belum lengkap perjalanan “ngerjain PR” saya ini jika tidak mengunjungi tempat wisata, ya walaupun memang hanya beberapa jam tapi kayaknya sih gak afdol deh kalo cuma mampir, makan, ngerjain PR terus pulang. Alhasil dari lokasi saya ngerjain PR ternyata terdapat sebuah tempat yang bisa dibilang tempat wisata juga sih, bagaimana ceritanya? Yuk dibaca kalo mau

Mercusuar Sembilangan

Mercusuar Sembilangan

Apakah saya akan berkunjung ke pantai? Atau pegunungan? Atau tempat rekreasi? Lupakan pertanyaan anda yang terlalu lebay itu karena saya akan berkunjung ke sebuah Mercusuar. Mercusuar? Iya mercusuar, tepatnya berada di garis pantai Sembilangan, Kabupaten Bangkalan, Pulau Madura. Walaupun saya sering ngeliat mercusuar kalo lagi jalan ke Labuan via Anyer, tapi jujur ini kali pertama saya “terpaksa” naik ke mercusuar yang menurut plakatnya dibangun jaman kolonial Belanda di tahun 1879.

keliatan gak tulisannya?

keliatan gak tulisannya?

Untuk akses ke sini, saya pun lupa karena berpatokan dengan GPS dan saya melewati alun-alun Bangkalan, kemudian melewati tempat ziarah dengan masjid nya yang megah (sayang ndak sempat mampir) fyi, kalo tidak salah ini tempat ziarah Makam Kyai Kholil, ketika saya melintas pulang, tempat ini sangat ramai pengunjung. Kembali ke topik, akses jalan ke sini sangat mulus, tapi sekali nya ada lubang, bahaya sekali bahkan sempat Ford Fiesta yang saya tumpangi, harus sedikit bermanuver untuk menghindari jalan jelek di depan, maklum lah Ford Fiesta bukan untuk blusukan, mobil ini di desain untuk lari kencang, (dan ini kan punya kawan saya hehehe, jadi eman eman). Namun tentunya kita pun harus berhati-hati karena akses jalan juga cukup sempit, sehingga butuh perhitungan tepat ketika kres dengan kendaraan dari depan.

Setelah cukup lama berjalan, dan tentunya tanya sana-sini kemana arah mercusuar ini, sang mercusuar mulai terlihat gagah, finally ketemu juga, jauh-jauh ke madura malah nengokin mercusuar, padahal bukan pegawai ditjenhubla hahaha. Yang menarik, jika tidak ingin dibilang mengenaskan, saat beberapa meter lagi menjelang pintu masuk mercusuar, saya dilanda kebimbangan hebat, kegalauan akut (lebayyyyyy), jadi begini dari jalan utama, kita harus masuk sedikit ke jalan yang mulai berbatu, tentunya saya sebagai juru mudi Ford Fiesta ini harus sangat berhati-hati, hingga akhirnya kami bertemu dengan jalan yang sangat ngepres satu mobil, jujur saat itu saya bingung, karena kawan yang punya mobil pun jadi bimbang, seolah gak rela (bukan seolah sih, saya yakin emang gak rela beneran) itu mobil diajak blusukan sama saya, walhasil setelah diskusi akhirnya mobil berjalan mundur beberapa meter, kemudian parkir dan saya pun melanjutkan perjalanan ke dalam dengan jalan kaki. Dan ternyataaaaa, jalanan di dalam cukup lebar ckckck, alhasil saya segera kembali ke mobil dan majuuuuuuu…

Saat masuk ada warga lokal yang menjaga portal, dan menarik biaya parkir lima ribu rupiah untuk mobil dan dua ribu rupiah untuk motor. Akses masuk pun masih berbatu namun makin lebar, setelah berjalan seperti pengantin hendak menuju pelaminan akhirnya sampai lah kami di tempat parkir dan takjubnya saya ada pula Xenia plat B pula ckckck, hebat deh emang mobil plat B ada dimana-mana. Segera turun, langsung masuk area mercusuar kami kembali ditarik biaya tanpa karcis atau bukti pembayaran apapun, 2 orang ditagih sepuluh ribu rupiah, masih masuk akal deh, selanjutnyaaaa masukkkkkk

Dari awal, saya jeprat jepret sana sini, dengan diiringi semangat 45 saya langsung menaiki tangga pertama, saya lupa ini 17 lantai (lantai ke 18 buat lampunya) lantai 2 terlewati, lantai 3 lewat, lantai 4 lewat, lantai 5 lewat dengan napas mulai engapppppp. Sembari sesekali menarik napas dengan udara yang mulai sejuk namun tetap terik saya menjepret beberapa pemandangan.

pemandangan dari lantai sekian

pemandangan dari lantai sekian

Namun yang menjadi catatan saya, sangat disayangkan sih masih banyak coretan dari tangan-tangan jahil yang mengganggu pemandangan interior mercusuar ini, belum lagi di lantai sekian (saya lupa) tangga nya hilang, sehingga diganti dengan tangga panjat. Ampun deh, saya yang baru sekali ini naik mercusuar masih nekat gara2 daripada rugi 5ribu (pelit, medit, kikir), akhirnya berhasil juga mencapai lantai 17….. Tapiiiiii saya dan kawan malah dorong2an untuk keluar karena takut ketinggian, dan jujur saya ngeri karena konstruksi pijakan nya yang “ngeri-ngeri sedap” (pinjem ya kata2nya pak batugana), yang jadi penghibur saya adalah memang pemandangannya suangatttt indahhhhh. Kalo berani sih bisa muterin balkon mercusuarnya, cuma kalo saya nanti aja dehhhhh hehehe.

ngeliat dari bawah ke atas

ngeliat dari bawah ke atas

siap naik

siap naik

nah ini dari lantai paling atas

nah ini dari lantai paling atas

nah ini versi ijo ijonya

nah ini versi ijo ijonya

Akhirnya gak lama kami di atas, saya dan kawan kembali turun, jangan bilang turun pun mudah, tetap butuh perjuangan hahaha. Tapi sepanjang perjalanan turun, saya mendapati ada juga lho muda-mudi yang menikmati pemandangan di sini, kadang merasa emang harus bawa pasangan ke tempat anti mainstream kayak gini hahaha.

Setelah di lantai 1, hati dan jiwa saya seolah kembali bersatu lagi, menapak darat adalah hal yang melegakan hati saya saat itu. Duduk sejenak di emperan depan warung yang menjajakan minuman dan makanan ringan, walaupun gak beli sih lagi lagi pelit, akhirnya saya memutuskan untuk melakukan foto wajib yang jauh dari kata profesional. Lucunya, kalo gak mau dibilang aneh, saat saya melakukan foto wajib ini banyak dari pengunjung yang ngeliatin saya lho… Biarin deh ya norak, gak setaun sekali ini ke sini.

casing fiesta, semangat everest, jiwa indonesia

casing fiesta, semangat everest, dan ini indonesia

Setelah foto wajib, akhirnyaaaa kami kembali pulang ke surabaya, sang fiesta pun kembali berjalan ala pengantin menuju pelaminan ketika meninggalkan area mercusuar ini….

-Udah dulu ya-

garis pinggir Pulau Madura, mercusuar nya keliatan gak?

garis pinggir Pulau Madura, mercusuar nya keliatan gak?