Uber setoran nulis daripada basi hahaha. Kali ini penulis akan menceritakan bagaimana cara penulis untuk kembali ke Jakarta dari kota Bandung yang indah ini. Yuk disimak

IMG_1463

Sudah lama sebetulnya penulis ingin menumpang sebuah travel yang berjudul eh bernama maksudnya CitiTrans, mengapa? Karena menurut beberapa rekan saya travel ini menjanjikan kemewahan, kenyamanan, keamanan, kelembutan dan kehangatan ah lebay, katanya sih mewah dan nyaman, Cuma pas iseng-iseng sercing di gugel banyak juga yang berkomentar negatif, well itu lah bisnis ada yang postif dan negatif, namun akhirnya ya penulis tetap menggunakan travel ini kok hehehe, begini ceritanya…

Setelah PR selesai dan “jatah preman” sudah di terima saya memutuskan untuk segera menuju daerah Dipatiukur dimana Travel ini bermarkas, setelah keluar gedung, tampak sebuah taksi yang sedang berhenti nampaknya bukan untuk mencari penumpang namun untuk makan siang yang terlambat (aduh mohon maaf banget lho pak) walaupun saya mungkin egois dengan mengganggu waktu makan siangnya, tapi tetap bapak supir yang mulai berambut putih ini melayani saya dengan sangat baik, hingga akhirnya saya membelah jalanan Bandung yang lumayan macet sore itu.

panjang amat, susah motretnya di lahan yang agak kecil

panjang amat, susah motretnya di lahan yang agak kecil

Sekitar 30 menit dengan ucapan wilujeng mangkat dari pak supir taksi, akhirnya saya pun tiba di Pool Travel Cititrans ini dan benar adanya bahwa travel ini menggunakan armada Mercedes Benz Sprinter !!! ini lah alasan saya menggunakan travel ini, demi mencicipi Mercedes Benz Sprinter ini. berhubung saya sudah booking by phone sebelumnya, akhirnya saya memutuskan untuk berkeliling di daerah sini yang seperti daerah kelapa dua depok, sembari menuju warteg terdekat karena tetiba lapar kembali siapa tau ketemu adik-adik lucu yang abis kuliah kan hehehe.

Akhirnya setelah duduk-duduk tampan di warteg beberapa lama, tak kunjung datang adik-adik lucu malahan yang datang pengamen, hufft lah mending balik ke pool travel ini, setelah kembali ke pool ini tak lama azan maghrib pun berkumandang, tentunya saya segera langsung menunaikan solat di musholla yang nampaknya perlu diperluas. Karena keberangkatan saya yang jam 19.15 masih ada barang waktu sejam untuk orientasi di lingkungan pool ini.. skip skip

citiflyer berganti hiace, masih tetep tinggian si sprinter

citiflyer berganti hiace, masih tetep tinggian si sprinter

Menjelang pukul 19.15, armada Citiflyer bermesin Hino berdampingan dengan citirans entah tujuan kemana dengan mobil Toyota hiace mulai memasuki parkiran yang kemudian disusul dengan Mercedes Sprinter yang akan saya tumpangi menuju Jakarta. Cinta pada pandangan dan sentuhan pertama, saya merasakan ini saat memasuki kabin Mercedes Benz Sprinter ini, bagaimana tidak, luasnya, jok nya kemewahannya memang benar adanya, bahkan jika mau berlebihan ini seperti Super Eksekutifnya NS01 namun versi kecilnya. Bahkan yang menambah kecintaan saya adalah adanya port USB yang bisa digunakan untuk mengisi ulang baterai smartphone saya yang makin lama ilang kepintarannya ini.

welcome aboard !!!

welcome aboard !!!

Setelah foto sana-sini, saya melihat bapak supir dan dispatcher beberapakali melihat kearah saya, mungkin piker mereka “tuh liat orang norak” bodo amat dah hahaha, yang jelas saya sangat ingin memiliki mobil seperti ini suatu saat nanti hahaha. Tak lama, pak supir pun memasuki ruang kemudi dan mulai memundurkan Sprinter ini untuk kemudian dilajukan menuju Jakarta.

bener-bener mirip sedan, sayangnya minus sound system

bener-bener mirip sedan, sayangnya minus sound system

Saat mobil berjalan dari Dipatiukur saya sempat membatin “semoga hanya saya yang menjadi penumpang mobil ini” sembari saya meminta ijin untuk pindah duduk ke depan sejenak mengingat bangku pun masih kosong, dan jika nanti ada penumpang yang berhak atas bangku ini diperhentian Pasteur saya akan pindah ke belakang, yang kemudian dipersilahkan oleh pak supir.

Setelah pindah ke depan, entah kenapa saya merasa seperti duduk di bangku kenek bis pariwisata ukuran ¾ terasa tinggi dan lebar hahaha, bener bener makin jatuh cinta deh ama ini mobil. Walhasil setelah beberapa saat menghadapi kemacetan, mobil pun berlabuh sejenak di Pasteur Point, dan tidak ada penumpang yang naik alhasil saya pun menjadi satu-satunya penumpang saat itu hahaha, doa saya terkabul.

bangku saya yang akhirnya jadi jatah buat tas

bangku saya yang akhirnya jadi jatah buat tas

mudik naik ini mah gak nolak deh

mudik naik ini mah gak nolak deh

abaikan jempol saya

abaikan jempol saya

Saya masih ingat jam menunjukkan 19.45 sesaat setelah mengambil karcis tol di gerbang Pasteur, pak supir yang berpakaian necis hampir seperti supir pejabat menjalankan Sprinter ini dengan halus yang tentunya membuat saya terkantuk-kantuk. Perjalanan mantap namun pasti, mobil dipacu antara 60-80km/h jarang sekali saya melihat jarum speedometer menyentuh angka 100km/h. saat memasuki beberapa tanjakan, berkali kali siulan turbo yang menyusup masuk ke dalam kabin menandakan mesin bekerja dengan baik, jujur saya yang jadi penumpang aja gregetan pengen nyicipin tenaga sebenarnya dari mesin kapasitas 2143 cc yang digadang-gadang dengan turbocharge ini, karena pak supir betul-betul menjalankan mobil ini dengan sangat nyaman dan aman. Siulan turbo terkadang pun juga terdengar saat Sprinter ini hendak menyalip kendaraan lain.

Entah karena nyaman, didukung dengan rasa lelah saya yang kurang tidur yang diamini dengan sudah rebahnya jok depan membuat saya sempat tertidur dari sekitaran jatiluhur hingga rest area di KM 62, mobil pun berjalan tidak begitu cepat karena cukup padatnya lalu lintas hingga akhirnya menjelang KM 50an, sang Sprinter pun harus dihentikan dengan santun oleh Pak Supir karena kemacetan mulai menghadang. Mobil pun berjalan perlahan, yang kemudian diketahui bahwa kemacetan terjadi karena perbaikan jalan, heran dah perbaikan jalan kok gak diatas jam 12 malam ya??

Akhirnya setelah melewati perbaikan jalan tadi, Sprinter pun mulai berlari dengan tenang kembali. Hingga di setelah rest area KM 42 Sprinter pun bertemu armada Toyota Hiace yang nampaknya satu pemberangkatan, setelah berbalas klakson santai, Sprinter pun meninggalkan Hiace tadi. Oh iya yang menjadi catatan penulis, Sprinter yang digawangi oleh pak Supir yang berasal dari Cianjur ini tidak pernah masuk ke bahu jalan, setidaknya saat saya masih terjaga (entah deh kalo pas saya tidur). Karena pada saat lepas dari kemacetan karena perbaikan jalan tadi, Sprinter pun harus berjibaku dengan kendaraan yang lebih lambat di depannya, sehingga pak supir memutuskan untuk mengambil jalur 1 untuk memotong kendaraan di depan, tak sangka ada truk engkel yang memasuki jalur 1 yang tadinya ada di jalur 2, segera saja rem menunaikan tugasnya dengan baik, dan dilanjutkan dengan lampu sen kanan yang mulai berkedip, dank arena kickdown ke gigi rendah, siulan turbo pun kembali berbunyi, aduh mantep banget deh hahaha.

Sampai di rest area KM 33, pak supir meminta ijin untuk melakukan hajat ke belakang, lah ya kebetulan saya juga hahaha, mungkin sekitar 10 menit karena pak supir selain pipis juga melakukan peregangan pinggang sejenak, Sprinter mulai berjalan kembali. Sampai memasuki tol wilayah Bekasi, kemudian Jakarta tidak ada halangan berarti kecuali macet yang menghadang saat keluar di pintu tol mampang. Karena dimensi mobil yang besar, membuat pak supir agak kesulitan untuk bermanuver dalam kemacetan ini. Akhirnya setelah lolos dari daerah tegal parang yang ada pekerjaan jembatan layang, sang Sprinter pun mulai membelah salah satu jalan protokol di Jakarta ini, untuk tujuan akhir Pasar Festival (kuningan). Akhirnya setelah mungkin tak sampai 7 menit, saya, pak supir dan Mercedes Benz Sprinter ini sudah mendarat dengan selamat di pelataran parkir Pasar Festival, Kuningan. Tentunya kedatangan kami sudah disambut dengan armada Mercedes Benz Sprinter yang telah tiba lebih dahulu. Setelah mengucapkan terimakasih kepada pak supir, saya segera bergegas keluar untuk mencari taksi dan pulang ke rumah. Saya sempatkan kembali melihat jam saat sudah di taksi, pukul 22.09 saat itu…. Menurut anda cepat? Atau malah lambat?

 

putaran mesin saat idle, diem-diem galak

putaran mesin saat idle, diem-diem galak

Rincian Biaya

Taksi: 25,000
Travel: 165,000
Makan Warteg: 8,000
Pipis: 1,000

Total BIaya: 199,000