Here I Am, MJCM Trans

Here I Am, MJCM Trans

Halo semua, kembali bertemu dengan penulis yang masih saja senantiasa mencari rejeki dengan penuh kerja keras, berpeluh keringan *lebay* hehehe. Kali ini penulis masih ingin membagikan pengalaman penulis tentang alat angkutan untuk menuju kota tercinta yakni Kudus. Bagaimana ceritanya? Mari disimak, dibaca ya…

Bisa dibilang penulis bosan naik jenis super executive, dibilang sombong ya nggak juga sih karena sekali-kali penulis pun ingin pula merasakan bagaimana rasanya executive, apalagi banyak”kompor” yang menyala tak terkendali dalam memanaskan hati ini, dan dompet yang belum kunjung membaik hahaha. Alhasil di suatu malam, penulis mengadakan rapat kordinasi kayak pejabat gitu deh yang alhasil memutuskan bahwa penulis akan menuju ke Kota Semarang untuk berkordinasi dengan pembesar alias punggawa sebuah Dealer ternama di Kota yang terdapat bangunan Lawang Sewu tersebut. Berangkat dari ajakan tersebut, sudah barang tentu penulis jadikan alasan untuk mudik hehehe, mengingat jarak Semarang dan Kudus tidak terpaut jauh tidak seperti keinginan ini untuk memiliki sebuah SUV logo elips yang mana dengan kenyataannya masih jauh *curcol wek* alhasil penulis pun memutuskan untuk ke Kudus yang sudah barang tentu menggunakan Bis Malam (harus) cepat.

Jika pada tulisan sebelumnya penulis menggunakan Super Executive besutan PO Nusantara dan PO Shantika, kali ini penulis akan menggunakan salah satu pemain di jalur gemuk Muriaan yang menurut saya masih baru. Sebetulnya entah baru atau tidak, mungkin nama Muji Jaya tidak terdengar asing bagi penggemar dunia perbisan apalagi dengan Muji Jaya MD-088 dengan kelir hijau lengkap dengan Radio Komunikasinya. Namun seiring perkembangan jaman muncul nama MJCM Trans dengan kepanjangan nama Muji Jaya Citra Mandiri. Jujur saya pribadi juga bingung, sebetulnya MJCM Trans ini siapanya Muji Jaya, mengingat Muji Jaya sendiri masih eksis bahkan livery MJCM dengan Muji Jaya ini terlihat mirip. Berdasarkan kabar burung yang selalu ingat bukan seperti burung yang ada di dalam lagu nia daniati yang lupa pulang MJCM Trans ini menjanjikan pelayanan yang bisa terbilang baik, bagaimana pelayanannya? Begini ceritanya

Di suatu jam makan siang yang panas menyengat, kaki ini melangkahkan ke terminal sebelah kantor yang tak lain dan tak bukan adalah Terminal Rawamangun, muter sana sini ndak ketemu Agen MJCM yang ternyata plangnya lebih kecil disbanding harapan saya, singkat cerita setelah memesan hot seat yang kebetulan tersedia kemudian selembar kertas merah lah yang menjadi tanda jadi keberangkatan saya menuju Kudus. Skip ke bawah

Hari jumat nya, seperti biasa perabotan lenong kembali harus merepotkan orang tua penulis yang tidak hentinya menyayangi penulis. Singkat cerita setelah perabotan lenong sudah terpanggul di bahu langsung ngacir ke terminal. Sesampainya di terminal, menuju agen untuk melunasi tiket kembali dengan 1 lembar kertas merah (lagi) kemudian menunggu bis datang yang tidak terlalu lama datangnya. “akhirnya nyicipin juga nih MJCM” batin penulis, karena maklum saja saya cukup penasaran dengan bis ini. Menggendong mesin Mercedes benz entah tipe apa, mungkin OH 1526 atau 1626? Entah saya kurang faham hehehe dibalut dengan baju hitam campur putih dari penjahit kenamaan dari Malang dengan model baju Jetbus 2 HDSE membuat saya cukup merasa “nyamleng” dengan bis ini. Memasuki ke dalam interior bis tata cahaya sangat baik, ditambah dengan warna kain jok yang adem dipandang mata, membuat mata saya sejuk. Saat hendak duduk, di jok saya sudah tersedia kantong berisi snack dan minuman ringan yang menurut saya lebih dari cukup bahkan dibanding Super Executive sekalipun lho. Bagaimana tidak, snack yang dibagikan adalah roti yang cukup tebal nan empuk, satu cup pop mie mini, sebotol Air Jeruk ber-merk, segelas kopi sachet yang siap seduh, dan sebotol air mineral. Sayangnya saya tidak sempat mencoba menyeduh kopi dan pop mie ini di bagian minibar dimana terdapat dispenser air panas.

tertata rapih, selimut tebal, snack mengeyangkan

tertata rapih, selimut tebal, snack mengeyangkan

seat pitch saat itu

seat pitch saat itu

kokpit pak supir

kokpit pak supir

Bis dinyatakan akan berangkat jam 18.00 tepat, tapi entah mengapa bis belum berangkat hingga pukul 18.30 mulai angkat jangkar menuju kota Jepara sebagai tujuan akhir. “bakal ngebut nih” batin saya saat itu, karena menurut saya MJCM Trans saya tumpangi ini saat itu menjadi salah satu angkatan terakhir yang berangkat. Alhamdulillahnya adalah tidak ada kemacetan berarti sepanjang jalan menuju tol pedati, kecuali menjelang pintu tol pedati yang kerap kali dijadikan tempat ngetem bis patas. Dan akhirnya saat mencapai jalan tol lalu lintas agak padat yang setelah berjalan beberapa kilometer diketahui karena adanya truk yang perpal dipinggir jalan.

cuss berangkat

cuss berangkat

macet sebelum pintu tol pedati

macet sebelum pintu tol pedati

Sepanjang jalan tol cikampek tidak ada permainan berarti kecuali sempat pepet-pepetan dengan Muji Jaya kembarannya MJCM ini , tidak terasa waktu menunjukkan kurang lebih jam 19.55 waktu smartphone saya bis mulai menyalakan sen kiri untuk keluar tol via Kalihurip alias Dawuan. Seperti biasa di lintasan ini kemacetan panjang sudah melanda akut ditambah pula jalan jelek yang entah kemana pemerintahnya ini. Tak jarang, mesin Mercedes ini digerung untuk membobol garis kanan pertahanan dengan mengorbankan kendaraan dari arah berlawanan, hingga akhirnya kurang lebih sekitar 15 menit bis pun lolos dari perangkap dawuan ini dan bertemu dengan jalur Pantura Cikampek.

belum max speed

belum max speed

pantura

pantura

konvoi

konvoi

Sepanjang jalur pantura cikampek menuju rumah makan tamansari 2 yang akan disinggahi terbilang ada beberapa kali permainan indah yang ditunjukkan oleh MJCM Trans ini maupun dari beberapa PO lainnya, seingat penulis MJCM Trans ini sempat memberikan perlawanan dengan PO Raya pemain handal jurusan Solo dan sekitarnya yang harus merelakan kepergian Raya dengan anggun, hingga MJCM Trans ini dibiarkan jalan menyendiri yang sesekali menyalip bis bis local atau bis jarak menengah. Ada cerita unik saat menuju rumah makan, entah karena keasikan ngeblong atau bagaimana, pak supir yang saat itu bertugas malah kebablasan hingga pamanukan. Awalnya saya mengira bis minggir di sebuah restoran yang cukup nikmat bernama Ma’ Pinah di bilangan Pamanukan, Subang untuk melakukan servis makan, lah ternyata kok malah puter balik arah balik ke Jakarta, bahkan penumpang di bangku 3&4 berujar “wah iki kok bali meneh nang Jakarta” lah iya juga ya batin saya, ternyata oh ternyata bis kembali sen kanan dengan agak terburu buru sehingga guncangan di dalam bis cukup terasa kasar saat putar balik untuk masuk ke pelataran Rumah Makan Tamansari 2.

servis makan yg cukup enak, cuma gatau boleh nambah atau nggak

servis makan yg cukup enak, cuma gatau boleh nambah atau nggak

entah kenapa jatuh cinta banget sama livery kalem ini

entah kenapa jatuh cinta banget sama livery kalem ini

kabin atas mirip pesawat, tata cahayanya terang banget dah

kabin atas mirip pesawat, tata cahayanya terang banget dah

Setelah memberikan waktu istirahat bagi penumpang dan crew yang bertugas sekitar 45 menit, MJCM Trans kembali menapaki jalur pantura dengan tujuan akhir Jepara. Setelah beberapa kilometer lepas dari gapura Indramayu, penulis menarik selimut sembari mendengarkan alunan tembang kenangan yang diaransemen ulang oleh trio ambisi dan tak lama, 3,2,1 grokkkk grokkkkkk. Tentunya tidur saya tidak begitu lama, saya pikir ketika terbangun sudah masuk Jawa Tengah, ternyata belum, tapi tentunya sedang terjadi permainan cantik antara MJCM Trans versus armada milik pak Haji Haryanto yang entah mesin apa. Jatibarang kota yang sangat sepi malam itu menjadi lintasan bagi MJCM Trans dan Haryanto yang menjadi pemimpin kala itu. Permainan sen kanan sangat apik, sampai akhirnya menjelang masuk kota Cirebon, telah hadir Kramat Djati dan Pahala Kencana entah jurusan mana yang disikapi oleh pengemudi haryanto dengan cukup agresif. Goyang kanan, goyang kiri, kres, pres, prei sedang dilakoni oleh Haryanto di depan, sedangkan MJCM Trans mencoba mengimbangi permainan dengan mental mentulnya air suspension ini membuat kadang mata penulis makin kriyep kriyep hehehe. Pak driver yang menggunakan jaket kulit masih terus mengimbangi permainan PO Haryanto di depan dengan cukup apik, goyang kanan kiri masih dilakoni hingga akhirnya PO Haryanto di depan nyaris “men-tusbol” Pahala Kencana di depannya, walhasil setelah membobol garis pertahanan lajur kanan, MJCM pun memberi sen kanan panjang dengan mengikuti jejak PO Haryanto, namun pengemudi MJCM Trans ini masih sempat memberi klakson santun kepada armada yang telah dilewati.

konvoi lagi

konvoi lagi

Memasuki wilayah Jawa Tengah, sudah cukup banyak penumpang yang terlelap dalam balutan selimut tebal dengan bersandar di Jok Kulit yang saya perkirakan buatan Aldila ini. Berhubung mata yang makin kriyep-kriyep, penulis pun juga mencoba untuk tidur, dan 3,2,1……. Grokkkkk grokkkkkk grokkkkk

Terbangun sekitar jam 2an pagi saya ingat MJCM Trans ini melaju sendirian di lingkar Kendal, kemudian saya tertidur lagi hingga sekitar jam 3an pagi MJCM sudah memasuki wilayah terminal terboyo, yang menandakan akan mendarat di Kudus kurang lebih dalam 45 menit lagi. seingat Ada beberapa penumpang yang turun di terminal terboyo, di Kota demak dan akhirnya setelah mesin besutan Mercedes Benz ini digeber hingga 102 KM/h di lintasan Demak-Kudus, mulai terlihat gapura baru Kota Kudus lengkap dengan sinarnya yang cukup apik. Teriakan kondektur dan menyalanya lampu kabin adalah tanda bagi para penumpang untuk siap-siap turun. Setelah mengambil bagasi, mengucapkan terimakasih ke pak supir dan kondektur yang membantu mengambilkan bagasi saya, saya langsung menuju ke 2 buah sedan hitam besutan Perancis, yang mana para pengemudi dengan sangat ramah membantu saya menaikkan tas buruk rupa yang saya bawa ke dalam bagasi. Dan kemudian persneling berubah dari posisi P menjadi D seiring rem tangan dilepas, sedan hitam berlogo singa ini pun membelah udara dingin Kota Kudus jam 4.10 pagi itu.

capcus...

capcus…