Halo semua, kembali bersama penulis yang masih tampan ini *prêt* kali ini penulis mungkin akan menuliskan beberapa artikel yang tentunya kalo nggak males dan kalo ada waktu hehehe. Artikel pertama adalah pengalaman penulis yang baru berlangsung minggu kemarin, jika ada pembaca yang menilai penulis biarin aja yeeee, karena penulis kali ini akan menuliskan bagaimana pengalaman pertama saat menggunakan Batik Air Trayek Semarang-Jakarta. Begini ceritanya

Jenis apa ya ini?

Jenis apa ya ini?

Sebenernya bisa dibilang penulis ini paling anti naik pesawat, apalagi kalo gak kepepet banget mending transportasi darat dah. Berawal dari PR sejenak di Kota Semarang yang terjadi pada hari kejepit minggu kemarin, sedangkan penulis males minta ijin ke kantor alhasil ditebus lah sebuah tiket kelas ekonomi Maskapai Batik Air yang masih satu grup dengan Lion Air.

Setelah PR saya anggap selesai saat ba’da zuhur, saya segera di jemput saudara untuk mencari makan siang terlebih dahulu, sembari muter-muter semarang abis itu baru balik ke rumah saudara, mengingat pesawat batik Air yang ditumpangi penulis berangkat jam 20.05 jadi masih santai deh, berangkat dari rumah saudara aja jam 17.30an, masih sempet beli wingko babat, nyampe bandara masih bisa kurang dari jam 18.30, gile deh coba di Jakarta kayak begitu… do it your own risk hahaha

business class ini hanyalah kamuflase

business class ini hanyalah kamuflase

Udah lama gak ke bandara semarang, masih kecil juga ya ini bandara hehehe. Setelah menunaikan cek in ke Agen dan solat magrib akhirnya penulis pun lebih memilih mojok di ruang tunggu. Udara yang cukup dingin, membuat penulis mulai liyer liyer untuk menunda rasa kantuk segera saja penulis colok headset ke henpon keramat dan mulai menuju yutub, video yang penulis pilih saat itu adalah…. Mister tukul jalan jalan hahaha.

mbok ya bagusan dikit kek

mbok ya bagusan dikit kek

Tak terasa waktu boarding mulai mendekat, penumpang makin banyak dari ruang tunggu mulai terlihat beberapa armada yang siap menuju beberapa kota seperti Jakarta dan Surabaya, sekitar pukul 19.30 wib, kuping saya sangat terusik dengan suara yang sangat berisik, awalnya saya abaikan karena saya anggap itu adalah suara pesawat yang baru datang, ternyata setelah saya sadar saat itu sedang hujan badai seketika lutut bergetar, dengkul melemah, jantung berdegup kencang, mata mulai kunang-kunang *lebay* tapi seriusan saat itu mulai mikir yang nggak-nggak, apalagi ngeliat penumpang Garuda Indonesia yang tujuan Jakarta malah pake payung untuk menuju pesawat membuat saya makin minder, penumpang Batik Air yang satu tujuan dengan saya pun masih antusias untuk antri seperti tidak peduli hujan badai. Keajaiban terjadi, saat gate dibuka hujan mulai berhenti terimakasih Ya Allah… namun ini tak berlangsung lama, tak lama setelah saya mendudukkan pantat yang ternyata saya dapet di bagian jendela darurat (lega deh) hujan kembali turun dengan derasnya, mit amit jabang bayi…..

Pesawat sebetulnya hampir berangkat tepat waktu jika penumpang di depan saya tidak ngeyel… mengingat bangku barisan saya dan depan saya adalah jendela darurat, maskapai mewajibkan penumpang yang meletakkan bokong di situ adalah yang siap untuk dalam keadaan darurat dan paham berbahasa Indonesia atau inggris, nah di sini masalahnya. Entah bagaimana penumpang depan saya ini ternyata tidak paham bahasa Indonesia maupun inggris, tapi yang satu paham bahasa Indonesia. Yang paham bahasa Indonesia mencoba nego kepada pramugari, pramugari pun dibuat kewalahan bahkan sampai menekankan jika tidak mau dipindah silahkan di luar, wah saya langsung kepikiran itu penumpang ditaro di sayap hahaha. Penumpang sebelah saya mulai emosi, mulai banyak yang berdiri mungkin siap melakukan tindakan anarkis ke penumpang ini, tentunya jika sudah anarkis saya akan mengamankan situasi, maksudnya mengamankan para pramugari nya hahaha. Pada akhirnya setelah berdebat beberapa tahun, 2 dari penumpang tadi akhirnya bersedia pindah. Akhirnya pesawat pun mulai pushback menuju landasan untuk segera ngeblong dengan kondisi yang masih hujan deres…

siap-siap pushback

siap-siap pushback

seat pitch emergency exit emang lumayan

seat pitch emergency exit emang lumayan

Boeing 737-900ER ini mulai bergemuruh, sandaran sudah tegak, meja sudah terlipat pak pilot mulai masuk gigi 1 pindah gigi 2, gigi 3 sampe entah gigi berapa pesawat mulai mengudara untuk mencapai wilayah jelajahnya yang entah berapa feet. Entah sampai di ketinggian berapa, hujan mulai berhenti, lampu kabin mulai dinyalakan, tanda seatbelt pun mulai dimatikan namun pesawat masih kena awan, langsung saja seatbelt saya kenakan kembali, ngeri pak….. beberapa saat kemudian setelah menurut saya aman, seatbelt saya copot sembari menungu jatah ransum. Oh iya, kali ini apesnya juga adalah fasilitas IFE Batik Air hanya muterrrrrrrrr aja, baru setelah setengah jam mengudara crew cabin mengumumkan dengan suara merdunya bahwa Fasilitas IFE nya sedang gangguan het dahhhhh di bis aja bisa full koplo hahaha tapi ah sudahlah, duduk manis nunggu jatah ransum. Saat mendapat ransum tidak langsung saya buka, maklum nengok sebelah dulu ternyata… Cuma 2 jenis kue dan 1 botol air mineral ukuran kecil, bahkkan penumpang sebelah saya bilang ke temennya “buat di mobil aja ah, perjalanan masih panjang” sama pak saya juga hahaha.

IFE yang ampe landing ngehang

IFE yang ampe landing ngehang

ransum yang babarblas kelupaan foto isi nya

ransum yang babarblas kelupaan foto isi nya

Setelah mengudara beberapa lama, cabin crew mulai mengumumkan kembali bahwa siap mendarat tapi tak lama kemudian pak pilot bilang bahwa pesawat harus berputar sejenak sembari menunggu parkiran kosong di Soekarno Hatta, saya gak kebayang seberapa penuh sih parkiran pesawat di Soekarno Hatta sampe penuh begitu yang memaksa pesawat harus antre sejenak dan menunggu di udara. Sekitar 20 menit, dari lantai mulai terdengar suara yang saya duga seperti roda mulai muncul dengan perlahan pesawat mulai melewati kembali kawasan pelabuhan Jakarta yang kalo malem bagus deh, sayang perjalanan saya kali ini pun gak duduk di deket jendela lagi huff…

pas masih di atas

pas masih di atas

Akhirnya pesawat mulai terasa menukik ke bawah, landasan mulai terlihat 3,2,1 gedabrukkkkk citttttt (eh gimana ya suaranya??) pesawat mulai mendarat tapi pesawat di rem habis habisan bahkan rem pun seolah dimainkan kalo bahasa supir angkot nya di kocok, tapi overall hard braking ini mantapppp memberikan sensasi tak terkira bagi saya, Cuma menurut saya ini lebih kasar dibanding saat saya naik citilink saat februari lalu, walaupun sama-sama ngerem pakem tapi seolah lebih halus citilink saat itu.

Saat mencari parkir, penumpang mulai berdiri, henpon mulai banyak yang bordering sementara saya malah bertukar duduk sama penumpang sebelah saya yang ingin lebih dulu turun, yaudah duluan dah sebab penulis lebih senang turun terakhir dari pesawat hehehe, jadi lebih sepi gak desak-desakan. Alhasil saya sudah resmi tiba di Soekarno Hatta sekitar jam 21.30an padahal jadwal tiba adalah jam 21.00, gara gara antre parkiran sampe begini ckckck.

ini rentang sayap berapa panjang ya?

ini rentang sayap berapa panjang ya?

Overall pengalaman pertama saya menggunakan Batik Air cukup baik, hanya saja mungkin fasilitas penghiburnya diperhatikan dulu sebelum berangkat, sedangkan masalah harga sebetulnya relative tergantung bagaimana kita menilai, menurut saya sih…. Murah lah hehehe

Demikian artikel ini yang saya buat tanpa ada paksaan dari pihak batik Air apalagi ganjaran tiket gratis (tapi berharap sih), penulis Cuma pengen sok-sokan naik pesawat aja padahal mah takut…. Sekian