Halo para pembaca semua, kembali berjumpa dengan penulis yang masih begini-gini aja ekekek. Apakah sudah ada yang kangen dengan tulisan penulis? Kalo gak ada sih ya gapapa juga hahaha. Kali ini penulis akan membagi tulisan yang sangat gak penting untuk dibaca tapi penulis yakin pasti banyak yang tertarik untuk berkomentar. Yak kali ini penulis akan membagi sebuah pengalaman bagaimana perjalanan penulis menuju suatu tempat untuk melaksanakan sebuah Janji, bagaimana ceritanya? Begini lah….

City of mixed vegetables with peanut sauce

City of mixed vegetables with peanut sauce


Sebetulnya perjalanan ini hampir gak jelas, sesuai judul di atas perjalanan ini melintasi 3 Provinsi di Pulau Jawa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah dan berakhir di Jawa Timur jauh? Nggak juga sih, deket? Ya nggak juga sih hehehe. Berawal dari sebuah Janji yang terucap, membuat penulis yang duitnya pas-pasan ini puter isi kepala dan isi dompet juga tentunya untuk memenuhi janji tersebut. Salah satu kota di Jawa Timur yang memiliki slogan “Kota Gadis” menjadi tujuan penulis kali ini. Awal pertama yang ada di pikiran penulis adalah bagaimana cara menuju ke sana? Kereta? Bis? Pesawat semua menarik hingga muncul sebuah tawaran untuk menggunakan kendaraan pribadi yang belum jelas sampai hari H, tentunya hal ini segera saya iyakan, maklum saja penulis setidaknya ingin mengulang kembali perjalanan darat menuju Lombok yang pernah dilakukan sekitar tahun 2013. Setelah kendaraan beres, tim keberangkatan satu persatu mulai dihubungi dan dikonfirmasi tak butuh waktu lama tim keberangkatan yang berjumlah empat orang sudah terkumpul dan siap berangkat menuju Kota Madiun.

Kelamaan ya prolog nya? Skip aja ya, penulis males nulis kepanjangan hahaha.

Pada hari keberangkatan yang tentunya setelah pulang kantor (kertas yang tak kunjung surut) tim keberangkatan pun mulai berkumpul di sebuah bangunan yang terletak tak jauh dari Penjara Cipinang, sembari menunggu kendaraan datang kami pun terpaksa membunuh waktu dengan….. Makan dan ngobrol ngalor ngidul gak jelas dan lain lain deh. Langit mulai berganti gelap hampir bersamaan dengan terdengarnya kumandang Azan Maghrib dengan segera saya melaksanakan RItual yang tak boleh dilewatkan ini. Setelah kami menyelesaikan ritual dan kembali melanjutkan obrolan, sejurus terdengar bunyi dari ponsel pintar penulis yang menyatakan bahwa salah satu sponsor kendaraan sudah berada di depan bangunan. Teman lama penulis yang memang juragan sewa-menyewa mobil ternyata membawa mobil yang sangat menjadi harapan ngoahaha, satu unit toyota kijang innova angkatan pertama telah terparkir rapi dan siap menempuh ratusan kilometer dan membelah udara dingin dan panas menuju Madiun. Singkat cerita, setelah urusan mobil beres, makan beres, ritual beres, kunci mobil dan STNK pun terpaksa diamanahkan kepada penulis untuk beberapa hari ke depan, yup sekitar pukul 8.30 malam tim keberangkatan menuju daerah Pondok Kelapa untuk menjemput anggota tim yang masih tertinggal.

dimulai....

dimulai….


“wah ini sih bisa besok pagi baru keluar antrian kalimalang” ungkap salah satu teman penulis yang setia duduk di jok penumpang depan tapi iri karena belum memegang kendali kemudi, akhirnya penulis mengarahkan mobil menuju bintara untuk segera masuk Tol JORR yang kemudian akan mengakhiri perjalanan di Tol Pejagan. Sepanjang perjalanan kami pun masih berdiskusi cukup panjang tentang rute yang akan diambil, apakah full pantura, full selatan, full tengah, atau kombinasi? Pokoknya saat itu kemampuan anggota tim keberangkatan yang notabene bekas kenek bis AKAP dan Sopir Travel lintas provinsi dikerahkan untuk segera tiba di Madiun. Pada akhirnya dapat diambil kesimpulan, mobil akan melalui Cikampek-Pejagan-Ketanggungan-Ajibarang-Jogja-Solo-Ngawi-Madiun. Mobil tidak bisa dipacu kencang saat masih berada di tol cikampek mengingat berbarengannya jam pulang kantor, acapkali bahu jalan terpaksa berpeluk rindu dengan ban merk korea yang nampak masih baru ini. Tak terasa Innova ini kembali bertemu dengan CCTV pintu tol cikopo yang merupakan awal dari Tol terpanjang di Indonesia, barulah selepas pintu tol ini, mesin yang berkode 1-TR ini bisa sedikit unjuk gigi kesombongannya dalam mengasapi mobil mobil lain. Tak ada lawan maupun kawan sepanjang perjalanan, mengingat jam travel maupun bis malam yang sepertinya sudah memasuki wilayah Jawa Tengah, hanya saja yang membuat kami agak kaget beberapa kali kami menemukan bis-bis jatah Wonogiri, Solo, Jogja sudah menuju arah Barat dan ini yang membuat saya setuju bahwa Tol Cipali ini memang membantu memangkas jarak tempuh. Tak sampai tengah malam, kami telah keluar dari Tol Pejagan yang memiliki plang petunjuk KM 247. SPBU pertama dari arah Pejagan menuju Ketanggungan menjadi pelampiasan hajat pipis yang tak tertahankan, tentunya untuk Innova mendapatkan kesempatan untuk rehat sejenak.

antrean di Palikanci

antrean di Palikanci

rehat sejenak di SPBU Pejagan

rehat sejenak di SPBU Pejagan

Beberapa hari sebelum keberangkatan, saya sempat bertanya pada seorang sahabat mengenai kondisi jalur ketanggungan-prupuk-bumiayu. Beliau mengatakan bahwa masih ada perbaikan jalan tapi tidak separah kondisi pantura yang memang sudah sangat semrawut. Informasi itu tidak salah, beberapa ratus meter dari SPBU mobil kami pun terpaksa berhenti dikarenakan ada beberapa pekerjaan jalan, namun itu tidak berlangsung lama mungkin sekitar 15-20 menit, Innova yang kami tumpangi ini pun sudah melanjutkan perjalanan kembali meninggalkan mobil-mobil lainnya. Perjalanan yang sebetulnya disuguhi pemandangan indah, kali ini terpaksa penulis menggerutu karena hanya gelap saja yang ada di sekitar. Menjelang purwokerto penulis yang saat itu masih berada di balik kemudi menemukan sesosok bis yang ber-label DMI, yaps PO yang cukup ternama dan tenar di kalangan warga Purwokerto, Bumiayu dan sekitarnya ini menjadi teman perjalanan Innova malam itu. Pepet kanan, prei kiri, centang panjang acapkali penulis lakukan demi kelancaran perjalanan itu. Lika-liku rute sepanjang Bumiayu hingga Wangon seolah bukan menjadi halangan bagi PO DMI yang penulis tebak menggendong mesin Hino saat itu, sampai-sampai tak terasa kami harus berpisah untuk mengambil rute ke arah Jalur Selatan Wangon dan PO DMI mengambil rute menuju Purwokerto.

Setelah berada di jalur selatan yang jika penulis tidak salah ingat di sekitaran Kebumen tepatnya Jatilawang, indikator bensin sudah kembali ke posisi awal saat sebelum berangkat yakni di 1/4 tangki, atas saran sahabat penulis yang juga masih setia (walaupun sebenernya tidak) berada di jok penumpang depan, SPBU Jatilawang yang cukup luas dan nyaman menjadi pilihan untuk memberikan waktu istirahat minum bagi mesin 1-TR yang seringkali dipaksa secara maksimal pada etape sebelumnya. Selesai minum, kusir pun berganti dan tentu saja kembali lagi mesin 1-TR ini dijalankan lagi untuk memenuhi target untuk sampai di sekitaran Kutoarjo saat waktu Subuh, saatnya penulis jadi bobomania…..

Penulis kembali terbangun saat matahari masih malu-malu menunjukkan kegagahannya, di GPS tertera saat ini rombongan penulis sudah memasuki Kutoarjo, yang kemudian penulis tau bahwa tujuan berikut nya adalah Masjid Agung Kutoarjo. Sekitar 15 menit, kami pun telah tiba di Masjid Agung Kutoarjo yang sangat nyaman dan bersih, yang mana hal-hal seperti inilah yang menambah kekhusyukan penulis dalam menjalankan ibadah. Selesai melaksanakan ibadah Sholat Subuh, penulis dan rombongan mulai merasakan kelaparan yang hebat (pret, lebay) tapi kalo merasakan lapar bener sih, akhirnya tanpa berpikir panjang sebuah lapak yang memajang spanduk Bubur Ayam di depan Masjid ini menjadi singgahan kami untuk mengganjal perut penulis yang mulai tumpah lagi ini (duh).

Masjid Agung Kutoarjo

Masjid Agung Kutoarjo

Selesai urusan perut, dan urusan logistik sekitar pukul 7.00 pagi rombongan penulis pun kembali berjalan. Rute yang ditempuh kali ini mengambil rute Jogja-Solo-Sragen-Ngawi-Madiun, awalnya sih penulis pengen lewat jalan pintas yang di karanganyar itu tapi karena memenuhi janji yang harus disegerakan ini, terpaksa jalur normal yang kami tempuh. Lalu lintas jika matahari sudah menyinari dengan indahnya memang menjadi ramai, mobil tidak dapat dipacu kencang seperti malam hari. Untung lah rasa panas saat itu bisa ditangkal dengan sejuknya hembusan udara dingin yang keluar dari kisi-kisi AC innova ini. Setelah melintasi Jogja, Klaten, Solo kami pun mulai melihat ada gapura unik saat memasuki wilayah Sragen, yaps gapura berbentuk gading gajah ini lah yang menandakan bahwa kami telah memasuki wilayah adminstratif Sragen dan beberapa waktu ke depan kami akan memasuki wilayah administratif Provinsi Jawa Timur.

Selamat datang di Kabupaten Sragen

Selamat datang di Kabupaten Sragen

in the middle of nowhere Sragen...

in the middle of nowhere Sragen…


Benar saja, tak lama gapura selamat datang di Provinsi Jawa Timur telah menyambut kami. Rombongan penulis pun makin semangat untuk segera mencapai Kota Madiun, hanya saja tidak semudah yang dibayangkan. Rombongan penulis kembali dihadapkan dengan beberapa titik perbaikan jalan, yang salah satunya berada persis di depan Gerbang Masuk Pesantren Gontor Putri. Tidak hanya perbaikan jalan, ada beberapa ruas jalan di Ngawi yang memang pantang dilanggar garis solid nya. Karena acapkali terdengar kabar bahwa barang siapa yang melanggar garis solid ini, beberapa ratus meter ke depan sudah bersiap beberapa penegak hukum. Jangan lantas pembaca (jika ada pembaca) mengikuti kencangnya Trio AKAP penguasa jalur ini seperti Sumber Selamat, Eka ataupun Mira hal itu bisa menjadikan mobil anda seperti roller coaster. Sebetulnya memang peraturan garis solid ini membantu pengemudi untuk menghindari kecelakaan, karena maklum saja, rute ini memiliki beberapa blind spot yang agak sulit dikontrol, namun tentu saja jika pengemudi apes berada di belakang pasukan kepala Hijau atau pasukan gandengan hal seperti ini akan membuat bosan minta ampun.

edisi kangen....

edisi kangen….

pengen deh foto di depan gapura ini

pengen deh foto di depan gapura ini

garis solid

garis solid

garis solid (lagi)

garis solid (lagi)

garis solid (lagi) garis solid everywhere !!!

garis solid (lagi) garis solid everywhere !!!


Setelah beberapa lama kami sudah selesai membelah Hutan Mantingan yang masih berada di Ngawi, kemudian kami menemukan jalan yang cukup baik untuk mengembangkan kecepatan. Muncul sebuah fenomena, menjelang masuk Madiun GPS mengarahkan ke sebuah jalan kecil yang kanan kiri nya sawah, dasar somplak kok malah nurut sama GPS… Tapi setelah di ikutin sekitar 16 KM ke depan lah bener udah masuk di Kota Madiun, nah lho lewat daerah apa ya itu namanya? Entah lah pokoknya udah masuk di Kota Madiun hahaha. Persis tengah hari rombongan penulis yang “digendong” Innova angkatan pertama ini memasuki Madiun. Tujuan berikutnya sempat terbagi dalam dua kubu, yakni kubu pertama berpendapat bahwa langsung saja menuju tempat tujuan dan kubu kedua berpendapat lebih baik mampir ke Masjid Agung Madiun sejenak untuk istirahat dan bersih-bersih baru melanjutkan ke tempat tujuan, entah bagaimana akhirnya kubu kedua disepakati juga oleh kubu pertama (udah capek dan lengket, orang penulis aja masih pake baju dari kantor).
IMG_2441
efek waze, entah ini dimana....

efek waze, entah ini dimana….

Tak lama, Masjid mulai terlihat dengan gagah dan rombongan penulis pun mulai memasuki area masjid. Lelah sudah pasti, tapi ada rasa puas juga bahwa rombongan penulis sudah sampai di Kota Madiun ini. Tentunya setelah melakukan beberapa aktifitas di Masjid Agung Madiun, rombongan penulis pun beranjak ke tempat dimana Janji yang sebelumnya penulis sampaikan itu berada…….

(masih) edisi kangen....

(masih) edisi kangen….

-bersambung-