Kembali lagi penulis terlambat dalam menuliskan artikel lanjutan tentang perjalanan penulis menuju Madiun, mungkin ada beberapa pembaca yang masih penasaran dengan kelanjutan dari edisi sebelumnya? Pada episode kali ini tentunya penulis akan melanjutkan kembali artikel terdahulu tentunya dengan sedikit “bumbu penyedap” yang penulis harap bisa membuat pembaca berdecak kagum (prêt) bagaimana artikel dengan bumbu penyedap ini? Mari kita simak.

Masjid Agung Madiun

Masjid Agung Madiun


Sepiring nasi yang dipadukan dengan sedikit kuah sayur bening dan 2 potong ayam goreng telah habis sekitar 10 menit lalu, bertemankan kepulan asap yang muncul dari beberapa batang rokok menjadi teman ngobrol anggota tim keberangkatan saat itu. Yap penulis telah menepati janjinya untuk hadir di Madiun ini, obrolan ringan yang awalnya ditemani piring-piring kotor sudah berganti menjadi segelas es berisikan potongan buah, membuat segar udara Madiun yang saat itu cukup membuat gerah. Tak terasa jam menunjukkan pukul 15.20, waktu ini merupakan batas akhir yang penulis jadikan toleransi untuk segera kembali ke arah Jakarta. Sebagai catatan, salah satu anggota keberangkatan terpaksa pulang terlebih dahulu menggunakan kereta api melalui Stasiun Solo Balapan dan jam keberangkatan adalah jam 20.00 tepat. Tak membuang waktu, terpaksa janji yang telah dipenuhi ini diakhiri dengan foto bersama dan beberapa cangkir cappuccino hangat. Toyota Kijang Innova ber-registrasi Tangerang ini kembali dipaksa untuk secepatnya sampai di Kota Solo. Pukul 16.00 tepat kami keluar dari Stasiun Madiun karena harus mencetak tiket terlebih dahulu, dan Toyota Innova pun kembali menjajaki aspal jalur utama Jawa Timur sampai Jawa Tengah ini.

Kusir yang merupakan bekas supir bis malam trayek Jakarta-Kuningan saat itu dipandu oleh penulis yang Cuma pernah jadi kenek bis kuning Trayek Poltek-Stasiun UI. Tak jarang putaran mesin meraung kencang diiringi perpindahan persneling, satu persatu mobil dilewati, tak jarang pula terpaksa jalur kanan dijajaki untuk segera sampai di Kota Solo. Dengan mengambil rute Madiun-Ngawi-Sragen-Solo pada jam sore merupakan jam yang cukup sibuk, setelah sempat menunaikan solat Ashar di Masjid Agung Ngawi yang cukup cantik, mesin ber-kode 1TR-FE ini kembali dipacu. Kembali kusir innova saat itu mampu membuat sabuk pengaman menemukan jodohnya kembali. Jalur jalur lurus, berliku dilahap dengan cukup baik sampai akhirnya terdapat sebuah scenario cantik dimainkan oleh sesosok penunggu Jalur Perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini.

Rehat Sejenak di Masjid Agung Ngawi

Rehat Sejenak di Masjid Agung Ngawi

Penunggu itu adalah sesosok Sugeng Rahayu lengkap terpampang nomor polisi yang jika penulis tebak saat itu mesin yang digendong adalah mesin Hino. Awalnya kusir saat itu,cukup takzim menyalip kanan kiri sampai muncul tepat dibelakang Innova kami sosok sugeng rahayu itu. Tak butuh waktu lama, sen kanan dari Sugeng Rahayu tadi menyala disusul dengan bergesernya Innova kami sedikit ke kiri untuk memberikan ruang untuk mesin Hino tadi menyalip. Percobaan pertama belum berhasil, tidak masalah sen kanan masih menyala bagi Sugeng Rahayu,sedangkan Sen kiri masih menyala di innova tak lama percobaan kedua dilaksanakan dari arah depan sebuah Pasukan Kepala Hijau yang dikomandani Hino FM260 ber-registrasi Pulau Bali sudah menyalakan lampu segitiga, dengan gerak cepat Sugeng Rahayu menyalip dan kini berada di depan Innova yangkami tumpangi. Ketidakpuasan mungkin masih ada di benak pengemudinya, sen kanan kembali dinyalakan dan ini pun ditanggapi kusir innova dan disambut baik oleh penulis saat itu. Bagaimana tidak, saat itu senja sudah dating jam menunjukkan sekitar pukul 17.30 hanya tersisa 2,5 jam lagi tapi rombongan belum selesai menuntaskan etape di Provinsi Jawa Timur ini. Kusir Innova sedikit ragu jika tetap mengikuti Sugeng rahayu didepan tentunya kami harus melanggar marka dan tentunya kami semua setuju bahwa itu dan melanggar dan bisa saja terjadi beberapa konsekuensi yangtidak kami inginkan. Namun dengan kompor yang menyala, saat sugeng Rahayu tadi mulai mendorong sedikit wajahnya ke jalur kanan, terpaksa kami menyalakan lampu segitiga sebagai permintaan tanda konvoi ala travel antar kota. Hanya sedikit celah kami untuk melihat apakah di depan aman atau tidak, yang ternyata di depan sugeng rahayu sudah kembali hadir PO Kompetitor yang juga menguasai jalur Jawa Timur yakni PO Eka, melihat itu kami terpaksa menempel ketat bokong Sugeng Rahayu untuk mendapat pengamanan berlapis yang bukan tanpa resiko. Setelah Inova kami kembali ke jalur yang benar kami pun berjalan dengan kecepatan normal dengan kisaran 80-100kpj. tidak seperti siang harinya saat kami menuju Madiun, senja itu tidak ada halangan yang berarti seperti perbaikan jalan yang ada di depan persis Pesantren Gontor Putri, saat itu sudah tidak malah berganti aspal mulus yang dilahap dengan rakus oleh ban ber-lisensi korea ini.

Senja Mantingan

Senja Mantingan

Sugeng Rahayu di depan kami mulai menyalakan riting kiri, entah untuk menaikkan penumpang atau menurunkan penumpang kusir kami saat itu memutuskan untuk mendahuluinya yang diberikan isyarat klakson pendek tanpa balasan sama halnya seperti ketika ngirim BBM Cuma di read doang (prettttt). Secara administratif kami sudah memasuki Proviinsi Jawa Tengah kembali, di Waze jarak menunjukkan sekitar 42kilometer lagi untuk kami sampai di Stasiun Solo Balapan. Tidak ada lawan berarti, hanya saja memang mesin pengganti generasi 7K ini sering dipaksa untuk mendahului kendaraan di depannya. Tentulah saat itu rombongan penulis berharap tepat waktu untuk sampai di stasiun solo balapan, penulis pun tak lupa selalu melihat ke rute selanjutnya apakah ada tanda warna kuning atau merah yang alhamdulillahnya saat itu rute Sragen-Solo yang cukup dikenal dengan “tinggal lempeng” itu bersahabat dengan rombongan penulis. Akhirnya jam 19.10 tepat kamipun sampai di parkiran Stasiun Solo Balapan yang saat itu cukup penuh dikarenakan memang awal bulan jadi masih banyak gaji yang utuh hehehe.

Setelah berpamitan, salah satu anggota rombongan telah resmi berkurang satu. Saat itu kabin innova cukup dingin ketika kami memutuskan untuk mencari makan sejenak sembari menunggu anggota rombongan yang bersikukuh untuk naik sugeng rahayu dari Madiun dan dia baru berangkat sekitar jam 4.45 sore. Jika ada pembaca yang berpikir bahwa penulis akan menunggu lama, tentunya tidak ! crew sugeng rahayu yangdigawangi pak driver berhasil membuat penulis dan teman saat itu hanya 15 menit menunggu, bahkan kami belum sempat jauh dari stasiun solo Balapan salut untuk kecepatan Sugeng Rahayu…!!

Setelah rombongan penulis menjadi 3 orang, Innova mulai dimajukan perlahan dengan tujuan mencari makan terlebih dahulu, maklumlah jam makan malam sudah masuk tetapi kembali muncul adu pendapat penulis menyarankan kita untuk cari makan sejenak atau istirahat sejenak di Jogjakarta, namun anggota rombongan lainnya juga punya ide lain untuk langsung bablas menuju Kuningan via Ciamis dan menunda makan malam hingga RM. Lestari yang berada di daerah Kebumen. Setelah pikir penulis ya idenya bagus juga, mengingat tipikal jalur selatan jika matahari tidak menyinari lagi bisa dibilang sangat sepi kendaraan yang lewat, akhirnya opsi ini yang dipilih.

Berhenti sejenak di Klaten untuk memperkaya sebuah perusahaan ritel yang tentunya juga untuk menjadi pengganjal tiga perut yang memiliki kapasitas masing-masing berbeda. Air mineral kemasan literan, roti, kerupuk, keripik, berbagai jenis cemilan yang awalnya tersusun rapi di etalase minimarket itu, kini sudah masuk ke kabin Innova, satu persatu mulai dibuka gigi mundur yang kemudian diganti menjadi gigi maju menandakan kami hendak melanjutkan perjalanan. Entah di ruas mana, penulis yang saat itu masih sibuk nyemilin kerupuk Palembang rasa ikan (enak banget bener, di indomaret sini malah belom nemu) memutuskan untuk pindah ke bangku baris 3 untuk sekedar melepas lelah perjalanan dengan bobomania, kerupuk sudah dilipat rapih, ponsel sudah ada ditempatnya, kacamata sudah terlipat rapi, bantal dan guling yang memang sudah disiapkan menjadi pelengkap untuk penulis menghitung mundur 3,2,1….. grokkkkk grokkkkk grokkkkkkk..

“dul bangun dul, lestari nih” ungkapan mesra disertai dengan colekan menggelikan dari teman penulis (hoek cobak cewek ya) membuat penulis terpaksa membuka mata kembali, dan sembari masih setengah sadar melihat jam 00.30 !!! busyet setengah satu pagi makan, ini mah kalah jam makan bis malem hahaha yawis deh daripada lapar terpaksa sepiring nasi dengan porsi minim bertemankan lauk rolade daging, dan kawan-kawannya masuk ke perut penulis jam 00.30 dinihari, gagal lagi kan diet duhhh. Setelah makan,solat dan aktifitas lainnya yang tidak perlu dijabarkan sekitar pukul 01.20 mobil kembali dijalankan dengan target pagi hari harus masuk Kuningan. Penulis setuju bahwa memang jalur selatan Pulau Jawa jika sudah dinihari lebih sepi disbanding jalur utara Pulau Jawa yang lebih dikenal dengan sebutan Pantura, hanya sesekali bertemu mobil yang menuju barat, bahkan yang menuju timur pun juga hanya beberapa kali bertemu dengan mobil-mobil kecil tetapi cukup banyak kendaraan komersil mulai dari travel, bus AKDP hingga akap seperti pemain jalur Cilacap-Jogja, Cilacap-Surabaya hingga pasukan kepala hijau yang berjalan beriringan seperti arakan pengantin. “dul ente ngantuk gak?” ungkap Kusir Innova yang sudah menjalankan Innova ini dari Madiun. Penulis dilemma ketika ditanya ngantuk tentu lah jam menunjukkan pukul 02.45, jam dimana manusia memang tidur bahkan di dunia hantu pun mungkin jam ini merupakanjam istirahat. “sini dah ogut gantiin” penulis jawab dengan segera, mobil pun segera menepi yang setelah penulis turun untuk berganti posisi sedang berada di sekitaran Wangon. Jok disesuaikan, kaca spion pun juga, audio penulis matikan mengingat penulis kurang begitu suka jika menyetir malam masih ada lagu-lagu. Saatnya ngeblong jos…

Mesin 1 TR-FE tak jarang dipacu hingga 4000-5000rpm untuk sesegera mungkin mencapai Kuningan di pagi hari. Kewaspadaan adalah hal utama, entah di ruas mana namun yang jelas masih di sekitar Banyumas, terdapat warga lokal yang tampaknya sedang bersiap balap liar. Lampu segitiga segera penulis nyalakan, tidak ada kesan melambat mobil malah penulis percepat yang tampaknya malah membuat Innova ini seolah mencuri start, ingat waspada hal utama sebab tak jarang pula terdapat lemparan batu misterius yang menyasar kaca depan mobil entah apa sebab atau tujuannya. Setelah melewati “arena balap” tadi lampu segitiga tidak serta merta penulis matikan, entah hingga berapa kilometer ke depan lampu segitiga penulis matikan dan berganti dengan sebuah permainan cantik dari pemain yang tak terduga…

Entah di ruas mana lumbir, majenang, atau entah lah mana yang jelas masih di Provinsi Jawa Tengah muncul sesosok berwarna merah, berpantat imut namun berisi dihiasi dengan cahaya merah menyala dari pantat tadi. Yak, itu bukanlah wanita cantik melainkan sesosok Toyota Yaris entah angkatan berapa, yang jika boleh penulis tebak mungkin angkatan 2011an berjalan cukup laju. Jika ada pembaca yang pernah melintasi rute pada etape ini, tentunya paham bahwa rute ini memiliki banyak tikungan, kondisi jalan yang tidak bisa dibilang baik, dan kegelapan yang untuk mengusirnya hanya mengandalkan lampu-lampu kendaraan. Tentunya penulis bukan bermaksud untuk jahat, penulis hanya bermaksud menempel Yaris yang STNK nya dikeluarkan oleh Samsat Jogjakarta itu untuk konvoi saja, tapi entah kenapa Yaris Merah itu nampaknya kurang senang dengan tempelan penulis sehingga Yaris itu tampak mempercepat laju kendaraan. Penulis yang malah ber-semangat untuk mengejar malah merasakan hilang kantuk karena mendapat teman perjalanan yang membuat semangat. Tak jarang kilatan lampu rem berfilamen dari Yaris itu menyala dikarenakan tikungan-tikungan yang memaksa kendaraan memperlambat laju kendaraan. Hebatnya, Yaris itu pada jalan jelek masih berlari kecepatan 120kpj atau malah lebih, soalnya di Innova penulis sih sempet nengok lari 120kpj di ruas itu pada trek lurus, penulis pun kagum dan tak terasa penulis dan Yaris Merah tadi sudah memasuki wilayah administratif Provinsi Jawa Barat, yang ditandai dengan berdiri kokohnya Gapura berbentuk senjata Kujang yang merupakan senjata tradisional khas Jawa Barat. Aspal mulus yang terkenal di perbatasan ini memang bukan bualan, Yaris merah tadi malah makin menggila kecepatannya, entah berapa kecepatannya yang jelas di Speedometer Innova ini masih terpantau di 120kpj, sedangkan di Waze 118kpj. Hingga akhirnya berhenti di stopan Pangandaran, penulis dan Yaris tadi terhenti karena Lampu Merah langsung saja penulis berhenti tepat disamping Yaris tadi biar maksudnya kayak Fast Furious 7 gitu sambil nyanyi “its been a long day without you my friend” (cukup!!!) tapi nampaknya, pengemudi Yaris itu menafsirkannya lain, setelah lampu berganti hijau Yaris itu malah melesat lagi dan di setopan Pangandaran itu lah menjadi saksi dimana Innova dan Yaris merah tadi berpisah. Setelah kejadian itu, sampe sekarang pun penulis masih suka dibilang “yaris itu ngira mobil kita mobil begal, udeh innova, plat gak jelas, jalan dinihari, mepet mulu wajarlah itu yaris susah payah ngelepas tempelan kita” hehehe.

Akhirnya untuk rehat sejenak, Masjid Agung Ciamis yang megah yang menurut informasi didirikan tahun 1882 menjadi pilihan rombongan saat itu. Dan akhirnya sekitar pukul 04.35 penulis telah resmi mendarat di parkiran Masjid Agung Ciamis ini, sebuah catatan waktu yang tidak buruk untuk etape Kebumen-Ciamis hanya ditempuh 3jam 15 menit (kurang lebih). Dan setelah melaksanakan aktifitas di Masjid Agung Ciamis itu, matahari mulai menunjukkan wajahnya yang menandakan saatnya kami juga mulai berangkat menuju Kuningan, melalui Kawali. Penulis pun tidak mengemudi kembali, digantikan dengan salah satu pemilik dengkuran tadi malam, dan saatnya penulis tertidur dengan merebahkan Jok depan bagian penumpang. Singkat cerita sekitar jam 6.45 kami tiba di daerah Kramat, Kuningan Jawa Barat bukan Kramat Senen ye. Bubur Berenang begitu biasa kami sebut, menjadi tujuan untuk mengisi perut sebelum kami beristirahat di salah satu rumah anggota tim. Dan sekitar jam 7.30, penulis pun akhirnya bertemu kasur yang entah kenapa saat itu sepertinya kasur itu sangat ingin ditiduri….

orangnya bobo panjang, mobilnya pun bobo panjang juga

orangnya bobo panjang, mobilnya pun bobo panjang juga

Sekitar jam 13.00 barulah penulis bangun, rasanya tidur saat itu lelap sekali. Maklumlah, 2 malam bisa dibilang penulis kemping didalam tenda yang ber-label Toyota Kijang Innova. Setelah makan, solat mulai lah aktifitas ketemu sodara-sodara tim keberangkatan ini yang dimana dalam setiap kunjungan juga disuguhi makanan lagi dan lagi, Ampun dahhhhh diet gue apa kabar ini….. akhirnya, sekitar jam 16.40 setelah sholat Ashar, kami mulai meninggalkan kota Kuningan dengan start awal di sentra oleh-oleh, yang tentunya membawa tentengan peyeum se-ember. Rute pulang kali ini mengambil jalur tol Cipali hingga bablas terus sampai pintu tol Jatiwaringin. Tol Cipali saat itu tidak padat, hal ini dibuktikan dengan bahwa rombongan penulis saat itu mampu mencapai rest area KM 100 untuk berhenti rehat dan solat maghrib persis saat azan maghrib. Setelah rehat maghrib, kami pun mulai berjalan kembali dan baru mulai menemukan kepadatan jumlah kendaraan di ruas tol Cikampek. Hingga mobil tak bisa dipacu kencang, Innova ini pun masuk garasi Penjara Cipinang sekitar pukul 22.10, dan yang menjadi catatan adalah kami pun sempat mengisi bensin di rest area KM 62 karena persediaan Bahan Bakar di rest area KM 100 kosong hanya tersedia solar. Bukan catatan waktu yang buruk sebetulnya, hanya saja memang jumlah kendaraan yang acapkali memenuhi jalur cikampek ini adalah mobil yang datang dari rute tol Purbaleunyi.

Gerbang Tol Palimanan

Gerbang Tol Palimanan


mengejar senja

mengejar senja


rest area KM 130

rest area KM 130


Dengan ini berakhirlah catatan perjalanan penulis untuk memenuhi suatu janji yang terucap, janji terkadang menjadi hutang yang harus dibayar dan memiliki arti lebih pada kehidupan ini…. 3 hari 3 malam ini terkadang membuat kerinduan itu muncul kembali…
bangun pagi di keesokan harinya

bangun pagi di keesokan harinya


-Tamat-