Selamat gini hari bagi para pembaca sekalian, semoga blog penulis yang sederhana ini masih ada yang mbaca hahaha. Setelah ditinggal beberapa tahun (duh lama bener ya) nggak deng beberapa hari doangan, penulis akan menuliskan kembali beberapa catatan yang berisi pengalaman gak penting dari penulis. Untuk postingan kali ini, penulis akan membahas masalah naik bis. Lagi-lagi masalah bis? Ya suka suka dong, kan ini blog penulis hahaha. Bagaimana postingannya? Ini dia….
IMG_2763

Berawal dari ajakan dari seorang sahabat yang bertugas di salah satu lembaga Negeri kita tercinta ini untuk nyicipin Bakso langsung di Wonogiri (padahal aslinya malah disuruh ikut upacara), penulis pun memutuskan untuk menggunakan Bis untuk berangkat menuju kota Wonogiri. Beberapa PO kenamaan menjadi pilihan untuk transit sejenak di terminal Tirtonadi yang sekarang makin keren, seperti PO Haryanto, PO Pahala Kencana, PO Raya, dan masih banyak lain nya. Berhubung kebanyakan kompor meleduk, dan jadwal berangkat yang sebenernya berbenturan dengan pekerjaan penulis, akhirnya penulis memutuskan untuk menggunakan PO Raya sebagai angkutan untuk menuju Terminal Tirtonadi.

Jumat sore setelah pulang kerja, penulis langsung berangkat menuju Pool PO Raya di daerah Pulogadung. Dengan menggunakan ojek berbasis aplikasi, butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai di Pool PO Raya. Setelah Check-in dan proses lain-lainnya penulis segera menaiki Bis yang penulis tebak masih menggendong mesin Mercedes Benz angkatan lawas namun memiliki baju Legacy SR-1 dari penjahit kenamaan Laksana. Bis diberangkatkan pukul 19.30, masih banyak waktu penulis untuk sholat maghrib yang mana setelah melaksanakan sholat penulis menyempatkan diri untuk membeli Batagor yang menclok di depan pagar Pool PO Raya ini.

Suasana Pool sore itu

Suasana Pool sore itu


Kabin ber-nuansa biru remang-remang

Kabin ber-nuansa biru remang-remang


Kokpit Area

Kokpit Area

Supertop 2, itu callsign Bis kali ini. PO Raya yang memiliki slogan “Dangerously Comfortable Coach” ini memang bisa dibilang kelewat nyaman tapi tentu masih ada yang perlu diperhatikan. Sebagai catatan, kursi pada Bis ini tidak menggunakan kursi pada umumnya, melainkan kursi pesawat DC-10 Business Class Garuda Indonesia yang ditancapkan di interior Bis ini (mohon koreksi jika salah). Kursi lebar, ternyata tidak menjanjikan kenyamanan bagi saya. Kenapa tidak? Karena bagi badan saya yang kelebihan muatan ini malah terasa busa dari kursi ini kempos. Beralih ke legrest, awalnya saya kurang paham apa yang ada dibawah kursi seperti papan panjang, ternyata papan itu bisa dimajukan hingga mentok untuk sandaran kaki anda. Itu beberapa hal yang sebenarnya membuat penulis kurang nyaman, padahal sebetulnya jika memang kursi ini dirawat dengan benar saya rasa nyamannya pasti kelewatan, mengingat seat pitch pada bis ini pun kelewat Lega, bahkan dibanding NS01 sekalipun (menurut pribadi saya).

seat pitch saat itu

seat pitch saat itu


nah ini dia leg restnya

nah ini dia leg restnya

Singkat cerita, sudah menunjukkan pukul 19.18 lebih cepat dari rencana, Semua penumpang sudah berkumpul di dalam bis dan Bis pun siap untuk berjalan menuju tujuan akhir yakni Pool PO Raya yang berada di daerah Sukoharjo. Baru saja keluar Pool, Bis sudah dihadang oleh kemacetan yang luar biasa. Sehingga untuk mencapai pintu Tol JORR waktu sudah menunjukkan pukul 19.44. Sepanjang tol JORR sampai tol cikampek tidak ada lawan yang berarti kecuali kepadatan volume lalu lintas yang memang bertepatan dengan menjelangnya akhir pekan. Dengan kecepatan normal, gerbang tol dawuan digapai pada pukul 21.02. Sebagai catatan juga, entah kenapa Bis ini tidak masuk tol Cipali? Beberapa teman penulis yang memang khatam di dunia per-bisan ada yang mengatakan bahwa agar meminimalisir resiko kecelakaan? Ada juga yang mengatakan agar mesin awet. Entahlah apa alasan sebenarnya yang membuat PO Raya ini tidak masuk tol cipali yang sebenarnya sangat bermanfaat untuk memotong waktu itu.

Jalur pantura malam itu nampaknya cukup bersahabat, waktu menunjukkan pukul 22.09 Bis mulai memasuki area parkir Rumah Makan Markoni untuk menservis makan para penumpang. Lauk malam itu yang penulis ambil Nasi, Ayam kremes, Telur dengan dorongan teh tawar hangat menjadi pilihan penulis saat itu. Rasa makanan cukup enak, walaupun penulis ingin tambah tapi terdapat tulisan yang menerangkan bahwa hanya ambil lauk satu saja? (sayang gak kepotret) jadi entah lah servis makan ini bisa nambah atau nggak. Setelah servis makan selesai, bis kembali berangkat mengarungi Jalur Pantura. Berhubung perut kenyang, ac dingin, selimut tersedia (walaupun kurang lebar bagi tubuh penulis) saatnya jadi bobomania….

@RM Markoni

@RM Markoni

rasanya enak ! tapi di prasmanannya ada tulisan ambil satu lauk saja

rasanya enak ! tapi di prasmanannya ada tulisan ambil satu lauk saja


Penulis Terbangun sejenak dikarenakan hajat ingin pipis yang enggan untuk ditahan, sempat sekilas melihat keluar bahwa Bis sedang terjebak kemacetan pada jam 00.32 di daerah Klampok, Brebes, entah kemacetan apa. Setelah pipis, penulis kembali menegakkan sandaran kursi untuk melihat jalanan. Memasuki Tegal pukul 01.20 dikarenakan mendadak ngeh ngeliat Hotel Bahari-inn langganan penulis kalo mampir ke Tegal, selepas ini yang ngorok lagi karena masih merayap macet.
IMG_2755

Waktu menunjukkan pukul 04.05 saat memasuki wilayah administratif Kabupaten Batang, bis ini masih berjalan sendirian. Wajar saja, mengingat jam berangkatnya yang sangat malam jika dibandingkan dengan sesama Tim Priyayi bisa dibilang merupakan salah satu bis terakhir. Pukul 04.37, Bis menyalakan sen kiri sebagai tanda masuk ke pelataran Parkiran sebuah rumah makan, Rumah Makan Gemar Ikan namanya. Perhentian ini memberikan kesempatan untuk para penumpang melaksanakan Ibadah Sholat Shubuh. Tidak lama bis ini berhenti di sini karena pukul 5.10 saat matahari mulai menunjukkan kegagahannya bis kembali dipacu kembali untuk segera sampai di wilayah “Spirit of Java” hingga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan….

@RM Gemar Ikan, Kendal

@RM Gemar Ikan, Kendal


sebelah kiri ALS pejuang Sumatera-Jawa

sebelah kiri ALS pejuang Sumatera-Jawa

Mungkin baru sekitar 15 menit bis ini berjalan, bis mendadak minggir ke bahu jalan yang mana segera saya identifikasi wilayah ini adalah wilayah Kaliwungu, Kendal. Di depan Bis yang penulis tumpangi, terdapat bis satu perusahaan yang nampaknya bermasalah. Awalnya saya kira hanya sejenak berhenti, ternyata oh ternyata… Bis berhenti hampir 1 jam setengah untuk membantu bis tersebut. Bahkan banyak juga penumpang yang protes, bagaimana kok bis tidak segera diberangkatkan, hingga ada penumpang yang bertanya kepada mas-mas kondektur kapan bis akan diberangkatkan dan kondektur menjawab “sampai bis di depan beres pak” si bapak yang menanyakan itu pun nampak kecewa sekali. Tentu lah hal ini membuat kecewa semua penumpang, tak terkecuali saya. Kemudian setelah 1 jam setengah berhenti muncul bis PO Raya juga yang akhirnya membantu mengangkut penumpang, penumpang bis yang mengalami masalah tadi dipecah menjadi dua kelompok untuk dua bis. Entahlah, namanya musibah tentunya semua harus harap maklum…

terdampar di Kaliwungu, Kendal

terdampar di Kaliwungu, Kendal

Sekitar pukul 08.00an matahari sudah menerangi wilayah administrasi Semarang, berbelok kanan di Tol Krapyak, membuat mesin mercedes Benz ini kembali dipacu untuk menghadapi medan yang terkadang menanjak, terkadang berliku dan terkadang menurun. Hingga tak terasa ujung tol sudah di depan mata, pada pertigaan bis diarahkan ke kiri untuk kemudian menyusuri jalan Raya Semarang- Salatiga. Yang sempat menjadi keraguan saya untuk sampai tepat waktu di Wonogiri adalah saya sempat mendengar kabar bahwa ada perbaikan Jembatan di daerah Tuntang, Salatiga, walaupun ternyata saat saya melewatinya perbaikan yang dimaksudkan sudah selesai. Beberapa penumpang pun turun pula di sepanjang jalan raya ini, sedikit demi sedikit penumpang berkurang hingga sampai akhirnya di terminal Tirtonadi sekitar pukul 09.45. Perhentian di sini tidak begitu lama, namun hampir mengurangi isi bis tercatat tinggal 3 penumpang termasuk penulis yang masih ada di dalam kabin buatan Karoseri Laksana ini.

pemandangan dari tol ungaran

pemandangan dari tol ungaran


Solo Area di pagi itu

Solo Area di pagi itu

Tidak ada yang spesial hingga pukul 10.45 dimana bis ini sampai pool yang ber-markas di Kabupaten Sukoharjo ini. Setelah turun, entah mengapa masih banyak pertanyaan yang cenderung membuat saya kecewa. Seperti mengapa tidak masuk tol cipali? Mengapa kursi kursi bis yang sebetulnya nyaman, malah terlihat tidak terawat? Dan beberapa pertanyaan lain yang masih belum terjawab. Apakah slogan “Dangerously Comfortable Coach” yang terpampang meyakinkan di belakang bis ini masih dijalankan sepenuhnya…. Entahlah, padahal sebetulnya harapan saya besar untuk PO Raya ini.

upacara dulu ah

upacara dulu ah

-Tamat-