Tidak terasa tahun telah berganti, dengan semangat baru penulis pun masih tetap mencoba membagi pengalaman yang tidak penting. Kali ini penulis akan menuliskan artikel pertama di tahun 2016, tentang apa? Ya disimak aja sih, gak usah banyak nanya.

Dengan semangat yang masih membara, penulis dengan beberapa kawan yang kagak jelas mencoba untuk merayakan tahun baru dengan cara yang berbeda. Jika banyak orang yang merayakan taun baru saat malam pergantian, penulis dan kawan ini merayakan keesokan paginya. Diawali dengan jajan makanan yang digadang-gadang untuk persiapan pergantian jam yang nyatanya makanan itu habis dalam waktu 30 menit kemudian, dan tak lama pada ngorok…. Oh iya, penulis kali ini berkumpul karena pagi harinya akan menuju sebuah tempat wisata di daerah Jawa Barat, yakni Gunung Galunggung di Tasikmalaya.

Selamat Datang di Galunggung

Selamat Datang di Galunggung


Perjalanan dimulai sekitar pukul 02.30 dinihari, dimana banyak orang yang baru pulang merayakan tahun baru, dan mungkin juga banyak yang sudah terlelap tidur tetapi penulis baru jalan, tentunya hal ini membuat jalanan sangat sepi sehingga tepat saat adzan subuh rombongan penulis sudah mencapai Nagrek. Setelah melaksanakan solat subuh, mobil kembali diarahkan menuju kota Tasikmalaya. Bertemankan embun dan kabut pagi yang terkadang menebal membuat suasana semakin syahdu, namun sayangnya suasana syahdu itu rusak ketika menengok ke jok sebelah batangan lagi batangan lagi herannnnn !!!! Zzzzz…. Singkat cerita, setelah mencapai kota Tasikmalaya mobil pun menuju Masjid Agung Tasikmalaya, untuk rehat dan mencari sarapan bubur ayam tentunya. Setelah membuat mangkok bubur ayam terpakai, kami pun langsung men-set aplikasi Waze untuk menuju Gunung Galunggung, maklumlah kami semua belum pernah ke Gunung Galunggung (kalo gunung sahari sering).

cuss

cuss


Kabut Malangbong

Kabut Malangbong

Perjalanan dari kota Tasikmalaya menuju Gunung Galunggung ditempuh sekitar 50menit, dengan kondisi jalanan yang cukup baik dalam artian tidak banyak lubang membuat perjalanan cukup nyaman, hanya saja jalanan tidak terlalu lebar yang membuat jika ada mobil berpapasan harus lebih waspada. Setelah sampai di gerbang masuk pertama, setiap pengunjung diwajibkan membayar tiket masuk sebesar 6500 rupiah, harga yang masih masuk akal menurut saya. Kemudian pada gerbng kedua, pengunjung yang membawa kendaraan pribadi kembali ditarik retribusi untuk parkir, kalau tidak salah untuk mobil kmarin dikenakan biaya 10000 rupiah, masih masuk akal juga deh. Setelah bayar parkir kedua ini, kita bisa memilih mau lurus atau belok kiri, kedua akses ini sih sama aja intinya ke kawah juga, cuma mau dapat tangga yang berapa banyak? Berbekal insting *pret* kami memilih belok kiri. Dimana tanjakan makin heboh, salut sama yang buat jalanan ini. Ikutin saja jalan, kemudian ketemu parkiran dan parkir lah disitu.

terowongan

terowongan


mulai keliatan deh

mulai keliatan deh


makin keliatan

makin keliatan


nah ini pas udah di dalam kawasan Galunggung

nah ini pas udah di dalam kawasan Galunggung


dan akhirnya sampe parkiran

dan akhirnya sampe parkiran

Dari parkiran, langsung terlihat panorama alam yang sangat indah seperti lukisan tiga dimensi (beneran lho ini), dan juga tangga yang siap menguras tenaga anda… Kalo tidak salah, jika melalui jalur ini anak tangganya berjumlah 510 gempor kan mana doping cuma bubur ayam pula… Tapi berhubung takut rugi karena sudah bayar, gak naik jadi ya mau bagaimana lagi mari kita naik secara perlahan. Biasanya naik tangga tidak diselingi dengan candaan apapun tapi kali ini terpaksa diselingi dengan segala macam candaan, perbuatan jahil, bahkan ada yang nge-feel… Karena jika tidak seperti itu, niscaya nge-daki anak tangga yang jumlahnya 510 ini bisa gempor. Cukup banyak pengunjung saat itu, tidak hanya anak muda yang lengkap dengan dandanan pendaki tapi juga anak kecil hingga orangtua pun meramaikan suasana yang sejuk namun tertusuk sinar matahari. Bahkan pada saat bersamaan dengan penulis mendaki ada seorang bapak yang cukup berumur membawa barang dagangan beberapa kardus dengan cara dipanggul dan mendaki, luar biasa kalo saya mah udah saya katrol kali itu barang pak. Beruntungnya, pihak pengelola mengerti akan kelelahan para pengunjungnya sehingga disediakan semacam balkon yang rombongan penulis sebut rest area dan entah kenapa jumlahnya pun mirip dengan rest area yang ada di Jalan Tol CIkampek, entahlah.

dari samping parkiran

dari samping parkiran


saluran air Gunung Galunggung

saluran air Gunung Galunggung


keliatan ujungnya?

keliatan ujungnya?

Setelah hampir mendaki satu jam termasuk rehat sejenak ditengah pendakian, akhirnya saya menjadi orang kedua dari rombongan yang berhasil sampai ke puncak. Sampai puncak, walaupun rasa lelah masih terasa, kaki masih terasa gemetar pemandangan yang tersaji di depan penulis sangat mengundang decak kagum, Masya Allah ciptaan-mu maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan. Tentunya di puncak ini terdapat beberapa warung yang menjajakan minuman, maupun makanan ringan yang bisa dinikmati dengan harga cukup terjangkau.

tengok ke bawah dulu lah

tengok ke bawah dulu lah


maka mana lagi yang mau di dustakan?

maka mana lagi yang mau di dustakan?


cakep dikit cekrek

cakep dikit cekrek


cakep lagi cekrek

cakep lagi cekrek


hiii gak ada ujungnya

hiii gak ada ujungnya

Rasa penasaran menuju kawah yang mana menurut informasi terdapat sebuah Musholla membuat saya dan kawan kembali melangkahkan kaki menuju kawah. Namun, karena informasi yang kami terima kurang lengkap kami tidak bisa mencapai dasar karena kami salah jalur, sehingga kami harus terima dengan keadaan dimana cuma bisa foto-foto doangannnn yang lagi lagi ama laki !!! Ampunnnnnnnnnnnnn …!!!!

Gunung Galunggung yang berada di Tasikmalaya, Jawa Barat ini pernah beberapa kali meletus yang mana yang penulis kenal adalah saat meletus tahun 1982. Saat itu, Gunung Galunggung yang memiliki ketinggian 2168m ini memuntahkan isi perutnya yang mana hasil letusan itu melayang di langit dan membuat salah satu maskapai penerbangan luar negeri terpaksa mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Namun dari hasil letusan tersebut, entah mengapa saya melihatnya membuat tanah disekitarnya menjadi subur. Suatu ketika saya pernah menonton liputan masalah Gunung Galunggung (lupa di TV mana) yang katanya material dari letusan gunung galunggung ini malah dimanfaatkan masyarakat, dari alam untuk alam oleh alam. Namun dibalik semua itu, memang Gunung Galunggung terasa diselimuti kabut mistik entah perasaan apa ini, tapi saat saya dan seorang kawan yang hendak menuju kawah yang ternyata buntu perasaan merinding cukup terasa, terlebih lagi saat melintas sumur yang mana dasarnya tidak terlihat ditambah pula suara gemuruh air, entah kenapa terasa banyak pandangan yang memandang kami berdua saat itu… Entahlah

jajaran tangga yang jarang dilewatin orang

jajaran tangga yang jarang dilewatin orang


eits ada yang ngintip tuh?

eits ada yang ngintip tuh?


hayo ada yang bisa ngintip isinya apalagi selain air?

hayo ada yang bisa ngintip isinya apalagi selain air?


ganteng dikit cekrek

ganteng dikit cekrek

Tulisan di atas hanya sekedar intermezo saja agar tidak tegang. Gunung Galunggung memang indah, terlebih lagi jika bisa sampai di kawahnya sayang saat itu saya tidak bisa mencapai kawah karena salah jalurnya. Tapi melihat pemandangan kawah yang terdapat seperti kolam air besar dan daratan itu membuat saya semakin yakin dengan salah satu Ayat Al-Qur’an yang artinya “maka nikmat tuhan mana lagi yang engkau dustakan”. Gunung Galunggung, kapan kapan ane mampir lagi ya….