Setelah mempelajari sedikit sejarah yang telah penulis berikan pada artikel sebelumnya. Mari kita simak pengalaman penulis dalam menelusuri Jalan Raya Pos. bagaimana kisahnya? Ini dia…

"Selamat Datang di Pulau Jawa"

“Selamat Datang di Pulau Jawa”

Sesosok ber-dimensi besar telah berpindah tangan ke penulis, yaps mobil jenis SUV keluaran Toyota ber-kode mesin 2-KD menjadi teman perjalanan kali ini. Pada etape awal ini, penulis bersama tim mencoba menelusuri rute Jalan Raya Pos dengan garis besar rute diawali dari Anyer yang ditandai dengan adanya Mercusuar dan tugu Nol Kilometer melewati kota Cilegon, Serang, Tangerang dan berakhir di Jakarta yakni Kalideres. Jadi jika ditulis lebih rinci rute nya adalah sebagai berikut : Anyer-Cilegon-Kota Serang-Pabuaran-Cikande-Balaraja-Cikupa-Kota Tangerang –Kalideres.

Setelah beberapa foto wajib di area Pelabuhan Merak, saya yang menjadi juru mudi saat itu segera mengarahkan Fortuner ini menuju mercusuar Anyer. Sekedar informasi kembali, Mercusuar Anyer yang berdiri saat ini merupakan Mercusuar kedua, yang mana Mercusuar ini dibangun pada tahun 1885. Menurut literatur sejarah yang pernah saya baca, mercusuar pertama sudah berdiri sebelum tahun 1883, tetapi akibat letusan dahsyat dari Gunung Krakatau, mercusuar pertama tersebut pun ikut hancur pula. Itu sekedar info sejarah, yang mana saya berharap bisa menambah pengetahuan kita semua. Sayang, saat penulis dan tim berkunjung ke sini belum beruntung karena menurut info warga sekitar Mercusuar sedang di renovasi. Untuk menikmati wisata pantai Mercusuar ini dikenakan tarif (kalo gak salah) 30ribu rupiah, untuk satu mobil dan tiga orang saat itu. Tapi, ada cara licik jika ingin mengambil foto wajib ala penulis. Pembaca bisa masuk lewat wisma perhubungan laut yang persis di sebelah gerbang masuk pantai mercusuar itu, bayar parkir saja cukup. (ketauan ya penulis pelit).

Tepi pantai saat itu

Tepi pantai saat itu

Mercusuar Anyer

Mercusuar Anyer

Tugu mini ini menjadi pengganti penanda yang terbuat dari batu sebelumnya

Tugu mini ini menjadi pengganti penanda yang terbuat dari batu sebelumnya

Foto Wajib

Foto Wajib

Selesai mengambil beberapa foto wajib, dan menghirup aroma khas air laut. Tim penulis mengawali perjalanan untuk menelusuri etape awal, yakni Anyer-Kalideres, Jakarta. Sekitar pukul 11.30, perjalanan ditempuh dengan cukup santai dengan kondisi jalan yang bisa dibilang cukup baik (gatau cukup baik apa gara2 naik mobil bagus jadi nyaman nyaman aja? Hehehe, penulis gumun) kondisi jalan pun terkadang Aspal berganti beton, ruas jalan yang dibeton lebih banyak di sekitaran Area Krakatau Steel, maklum saja Jalan Raya Pos di sekitar anyer ini memang berada mepet dengan Area Krakatau Steel.

Aspal cukup baik

Aspal cukup baik

Aktifitas Pasar Anyer

Aktifitas Pasar Anyer

Area Krakatau Steel, yang masih termasuk Jalan Raya Pos

Area Krakatau Steel, yang masih termasuk Jalan Raya Pos

Tidak terasa, rombongan penulis sudah memasuki kota Cilegon. Penulis yang kali ini menjadi penumpang lebih banyak mengambil gambar saja, sembari menikmati nyamannya mobil Fortuner ini, apalagi dengan lengkingan khas mobil ber-turbo membuat terasa nyes dihati (kami suka turbo, iya gak om mobi?) pada saat memasuki kota cilegon, awalnya kami hendak berhenti sejenak di Masjid Agung Cilegon, Nurul Ikhlas. Bisa dibilang Masjid ini selalu menjadi tempat singgah langganan jika penulis plesiran ke Cilegon, namun berhubung perut lapar maka penulis terpaksa melewati Masjid ini terlebih dulu dan mampir ke satu kuliner yang ternyata maknyus sekali (rekomendasi nyonya sih, nanti ada ulasannya pada baca yaaa). Sekedar informasi, bahwa kuliner yang penulis kunjungi adalah Sate Bebek Asmawi yang ada tidak jauh dari Masjid Cilegon, bagi yang sedang berada di Cilegon tidak ada salahnya mampir ke sini dulu.
Setelah kenyang dengan sate Ayam, lho kok sate Ayam? Iya Sate Bebek nya habis…. Sedih ya. Penulis akhirnya melanjutkan perjalanan kembali menuju kota Serang, dan akhirnya menunaikan Sholat Dzuhur di Masjid At-Tsauroh yang mana masjid ini merupakan Masjid Agung Serang, mungkin sekitar pukul 2 siang tepat, rombongan penulis sampai di masjid ini. Masjid ini pun masih cukup ramai saat jam itu, untungnya cuaca tidak terlalu terik. Ditambah dengan pepohonan yang rindang diseputaran lahan parkir mobil, membuat masjid ini masih terasa sejuk. Oh iya, untuk yang mau jajan, ada juga bebrapa lapak jajanan yang beragam dengan harga cukup terjangkau hehehe.

Tugu Kota Cilegon

Tugu Kota Cilegon

Terlihat Menara Masjid Agung Cilegon

Terlihat Menara Masjid Agung Cilegon

Sate Ayam ala Sate Bebek Asnawi. Tak ada rotan akarpun jadi

Sate Ayam ala Sate Bebek Asnawi. Tak ada rotan akarpun jadi

Setelah selesai Sholat Dzuhur, penulis pun masih setia menjadi penumpang maklum mobil enak hahaha. Mobil pun melintasi rute Serang Kota menuju Kragilan hingga nanti melewati Cikande hingga akhirnya memasuki Kabupaten Tangerang yang diawali dari Balaraja. Sekali lagi, kondisi jalan masih cukup baik walaupun memang cukup banyak hambatan yakni aktifitas pasar maupun keluar masuk kendaraan pengangkut barang menuju industry yang bisa dibilang cukup banyak tersebar di sepanjang jalan raya ini.
IMG_0949

ada yang tau ini apa ya??

ada yang tau ini apa ya??

Papan petunjuk jarak tempuh

Papan petunjuk jarak tempuh

Selamat Jalan Kabupaten Serang

Selamat Jalan Kabupaten Serang

Memasuki Kabupaten Tangerang yang diawali oleh Balaraja pun, masih sama seperti sebelumnya yakni ada aktifitas industry, pasar hingga keluar masuk pemukiman warga seperti komplek perumahan maupun pemukiman warga biasa. Balaraja mulai terlewati, kini berganti wilayah Cikupa. Cikupa pun masih sama, sangat banyak aktifitas per-ekonomian. Cukup menjadi pemikiran kami bahwa, beberapa ratus tahun yang lampau jalanan ini tentunya tidak seramai ini, bahkan mungkin yang lewat hanya Dokar yang ditarik oleh Kuda, namun sekarang sudah penuh dengan beragam jenis kendaraan dan jenis manusia.

Ruas Balaraja, Tangerang

Ruas Balaraja, Tangerang

Papan Petunjuk Jarak Tempuh

Papan Petunjuk Jarak Tempuh

lupa ini dimana, masih sebelum Cikupa

lupa ini dimana, masih sebelum Cikupa

Dari cikupa, kami pun terus berjalan hingga menemukan gapura “Selamat Datang Kota Tangerang”, yang mana gapura ini menjadi penanda kami telah meninggalkan kabupaten Tangerang. Kami pun terus mengikuti rute menuju Jakarta. Mungkin menjadi catatan bagi pribadi penulis, ketika masuk Kota Tangerang, penulis buta arah dimana jejak Jalan Raya Pos dulu, sehingga penulis dan tim hanya mengikuti petunjuk untuk menuju Jakarta berdasarkan petunjuk rambu lalu lintas. Hawa Jakarta makin terasa ketika rombongan penulis memasuki Cikokol, mobil pun terus dikerahkan untuk menuju perbatasan Tangerang-Jakarta sebelum matahari terbenam.

Pasar Cikupa

Pasar Cikupa

melewati bawah Jalan Tol Tangerang-Merak

melewati bawah Jalan Tol Tangerang-Merak

Selamat Datang di Kota Tangerang

Selamat Datang di Kota Tangerang

Jakarta masih lurus terus

Jakarta masih lurus terus

jika tidak salah ini di sekitaran pasar kemis

jika tidak salah ini di sekitaran pasar kemis

Benar saja, kami pun mulai mendapati jalan yang agak melebar, bertandakan sebuah Tugu dan tulisan Selamat Datang Kota Jakarta menjadi penanda bahwa etape awal kami, yakni Anyer-Jakarta telah selesai. Matahari belum terlalu terbenam saat itu, mobil pun diarahkan menuju Masjid di daerah Grogol. Kami tiba di Masjid seputaran Grogol, Jakarta Barat sekitar pukul 17.10. waktu tempuh yang bisa dibilang sangat baik untuk rute tanpa menggunakan jalan tol, termasuk istirahat dan kena halangan pada beberapa ruas jalan. Jika dihitung dari Anyer awal perjalanan pukul 11.30 dan kami masuk Grogol pukul 17.10, maka kami menempuh waktu kurang lebih 5 jam, catatan waktu cukup baik menurut pribadi penulis.

Agak sejuk Kota Tangerang sore itu

Agak sejuk Kota Tangerang sore itu

Jakarta tinggal 25km lagi..!!

Jakarta tinggal 25km lagi..!!

Selamat datang di Jakarta

Selamat datang di Jakarta

Akhir kata, ini lah sekelumit pengalaman penulis dalam menelusuri Jejak Sejarah Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa penjajahan Belanda dulu. Tapi, ini baru awal…. Masih ada beberapa etape yang akan penulis munculkan dengan segala keterbatasan penulis, yang tentunya akan berakhir di Panarukan, Situbondo, Jawa Timur.

-Sekian-