Selamat hari gini para pembaca setia yang masih setia menantikan tulisan-tulisan dari saya sebagai pemilik blog yang masih begini-gini aja. Beberapa waktu lalu atau tepatnya awal Bulan April lalu penulis melakukan perjalan ke Banda Aceh. Tentu saja, seperti biasa, penulis pastinya muter-muter ke beberapa tempat wisata yang ada di sekitaran Banda Aceh. Apa saja? Simak aja ya.

Welcome to Aceh

Welcome to Aceh

Penulis hanya memiliki waktu beberapa jam saja untuk berkeliling di Banda Aceh sebelum harus bertolak kembali ke Medan. Bersama seorang kawan yang sudah beberapa hari sebelumnya sampai di Banda Aceh, saya pun segera diajak berkeliling dengan lokasi tujuan sebagai berikut :
– Pemakaman Massal Siron
– Museum Tsunami Aceh
– Monumen Thanks To The World
– Situs Kapal di atas Rumah, Lampulo
– Pantai Lampuuk
– Masjid Rahmatullah, Lampuuk
– PLTD Apung, Banda Aceh
– Masjid Baiturahman
– Pemakaman Massal Ulee Lhe
– Beli oleh-oleh di Peunayong

Mungkin akan ada yang bertanya apakah cukup hanya dengan waktu yang mungkin kurang lebih hanya 12 jam saja. Saya akan menjawab, sangat cukup dan bisa dibilang puas walau sejenak saja berkunjung nya. Begini kisah saya yang hanya 12 jam kurang lebih dalam berkeliling Banda Aceh dan sekitarnya.

Pukul 08.05 WIB, penulis mendarat di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Aceh. Setelah hampir 3jam penerbangan, punggung dan pinggang ini kembali diuji saat menunggu kawan yang juga dikerjain sama pengelola rental (alias telat muncul). Hampir setengah jam lebih saya menunggu, akhirnya muncul juga sesosok mobil duo kembar ber-kelir putih yang tampak dari sosoknya sudah lelah sekali. Segera saja setelah saya masuk mobil, mobil langsung melesat meninggalkan area parkir Bandara untuk menuju tujuan pertama yakni Pemakaman massal Siron yang memang masih searah dari Bandara menuju Kota Banda Aceh.
IMG_1132

Jalanan lengang menuju kota Banda Aceh membuat perjalanan menuju pemakaman Massal Siron ini cukup cepat. Kurang lebih 15 menit, kami pun sudah tiba di area pemakaman Massal ini. Suasana masih sangat sepi, setelah memanjatkan beberapa doa kami pun segera bertolak kembali menuju salah satu museum yang menjadi pengingat bagi semua orang akan musibah yang pernah melanda provinsi Aceh dan sekitarnya.

narsis sejenak di Pemakaman Massal Siron

berfoto sejenak di Pemakaman Massal Siron

Museum Tsunami. Iya, museum ini menjadi bangunan pengingat sekaligus menjadi salah satu titik evakuasi jika memang terjadi bencana serupa. Museum yang berada di Banda Aceh ini jika tidak salah merupakan karya seorang lulusan ITB yang tak lain adalah Pak Ridwan Kamil, atau yang kerap disapa kang Emil yang sekarang menjabat Walikota Bandung. Museum Tsunami ini memang dijadikan sebagai obyek wisata di Banda Aceh, namun Museum ini juga mencoba memberikan edukasi kepada masyarakat dan menjadi tonggak sejarah bagi masyarakat Aceh khususnya akan bencana yang pernah melanda Aceh. Saya cukup lama berada di Museum ini, dikarenakan Museum Tsunami ini cukup membuat saya betah. Pada awal masuk, pengunjung diajak untuk melewati Lorong Tsunami yang mana ini membuat pengunjung seolah merasakan bagaimana saat korban-korban Tsunami didalam gulungan ombak Tsunami. Setelah itu kita bisa menikmati koleksi barang-barang peninggalan hasil sumbangan masyarakat sekitar Aceh. Tak lupa pula, kita bisa menyaksikan video dokumenter bagaimana ketika Tsunami terjadi di Aceh. Oh iya, untuk masuk ke Museum Tsunami Aceh ini tidak dikenakan biaya masuk alias GRATIS (cocok deh buat saya hehehe)

dari samping

dari samping

mendadak narsis

mendadak narsis

tolong perhatikan jam buka museum ini

tolong perhatikan jam buka museum ini

Helikopter rusak yang dihantam gelombang Tsunami

Helikopter rusak yang dihantam gelombang Tsunami

terbawa suasana sekali, alias baper.... Inalillahi Wainailaihi Rojiun

terbawa suasana sekali, alias baper…. Inalillahi Wainailaihi Rojiun

nama korban yang teridentifikasi, dikenang dalam sumur doa

nama korban yang teridentifikasi, dikenang dalam sumur doa

yang mau nonton dokumenter

yang mau nonton dokumenter

ruang Foto

ruang Foto

Maket saat gelombang Tsunami menghantam Pesisir Aceh

Maket saat gelombang Tsunami menghantam Pesisir Aceh

Tak jauh dari Museum Tsunami Aceh

Tak jauh dari Museum Tsunami Aceh

si Putih yang sudah terlalu lelah

si Putih yang sudah terlalu lelah

Setelah mengunjungi Museum Tsunami Aceh yang menurut saya sangat wajib dikunjungi jika sedang di Banda Aceh, saya bergerak ke daerah Lampulo di Kecamatan Kuta Alam. Sekali lagi, karena lalu lintas Banda Aceh yang tidak padat saya cukup cepat sampai di situs Kapal penyelamat 59 orang yang hingga kini bertengger diatas rumah seorang warga. Situs Kapal Apung Lampulo, pada saat Tsunami Aceh tahun 2004 menjadi penyelamat bagi 59 warga. Kapal Kayu ini hanyut terbawa ganasnya arus Tsunami Aceh 2004, hingga sekarang bertengger diatas rumah warga. Kini, oleh kementerian ESDM kapal diatas rumah ini ditata ulang dengan maksud menjadi situs sejarah. Yang dimaksud ditata adalah, bangunan rumah dibiarkan kosong, dan pada bawah kapal diberikan penyangga agar tidak membebani rumah itu sendiri, karena jika dibiarkan disangga oleh rumah saja bisa jadi rumah tidak kuat dan akhirnya rubuh. Sekali lagi, untuk tiket masuk di situs Kapal Lampulo ini GRATIS. Hanya saja untuk parkir kendaraan, warga sekitar mengenakan tarif 10 ribu Rupiah untuk mobil, dan 5 ribu rupiah untuk Sepeda Motor.

dan ini nyata....

dan ini nyata….

dari atas

dari atas

Terimakasih Kementerian ESDM

Terimakasih Kementerian ESDM

Setelah mengunjungi tiga tempat tadi, saya pun masih bergerak menuju tempat lain. Kemanakah saya selanjutnya? Ikuti terus perjalanan saya….
*semoga ada yang mau ikutin

Cuaca Hujan di Lintasan Banda Aceh - Meulaboh

Cuaca Hujan di Lintasan Banda Aceh – Meulaboh