Halo para pembaca setia blog amatiran ini, bertemu kembali dengan saya setelah sekian lama. Berhubung sudah lama, dan mumpung ada waktu luang saya akan melanjutkan menulis tentang perjalanan saya di Banda Aceh dalam waktu kurang dari 24 jam… ini dia

Masih di jalan

Masih di jalan

Sekitar pukul 12.15 siang, saya dan seorang kawan telah tiba di tempat yang bisa dibilang menjadi salah satu saksi bisu yang menyaksikan kedahsyatan gelombang Tsunami yang menerpa sebagian Provinsi Aceh, Sumatera Utara dan beberapa lokasi lainnya. Menurut seorang kerabat, pada ahad pagi 26 Desember 2004, di lokasi ini air laut sempat surut hingga ikan banyak yang ber-gelepar yang membuat warga sekitar mengambil, namun banyak dari mereka atau bahkan hamper semua yang tidak tau bahwa itu sebuah pertanda awal akan munculnya gelombang Tsunami. Pantai Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga. entah apa yang saya rasakan, Deburan ombak bisa dibilang sangat tenang, pasir sangat putih dan cukup halus, memandang di kejauhan terdapat seperti bukit dan tentu nya laut lepas. Subhanallah, Masya Allah hanya itu yang terucap saat awal saya sampai di sana. Pemandangan yang sangat indah, betul-betul maka nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan.

saat itu air laut surut hingga jauh...

saat itu air laut surut hingga jauh…

Berlokasi tidak begitu jauh dari Banda Aceh. Cukup mengambil rute menuju Meulaboh, dan mungkin berkendara sekitar 30 menit anda akan sampai di tempat ini. Harga tiket masuk untuk orang adalah 3000 ribu rupiah, dan untuk mobil sejenis avansa hanya 4000 ribu rupiah. Jangan bayangkan pantai yang penuh dengan “keterbukaan” (paham kan?) di sini hamper atau bahkan tidak ada pemandangan seperti itu. Di tiket masuk tertulis dengan jelas “Menjunjung Tinggi Syariat Islam”, jadi bagi yang mau liat aneh-aneh atau lain-lain jangan ke sini deh, tapi bagi saya ini… COCOK !!!. untuk fasilitas, tersedia Musholla di beberapa sudut, saung-saung rehat yang sebetulnya dikelola oleh penduduk sekitar sembari menjajakan minuman bahkan makanan laut. Cuma berhubung saya turis pelit, jadi gak sempet nyobain (hiks hiks hiks)

ini asli nya bagus banget, cuma berhubung saya pake kamera sekedarnya jadi kurang bagus

ini asli nya bagus banget, cuma berhubung saya pake kamera sekedarnya jadi kurang bagus

maap ya narsis lagi~

maap ya narsis lagi~

Tidak lama saya di Pantai Lampuuk ini, saya kemudian bergegas kembali ke mobil setelah melaksanakan beberapa jepretan yang amatiran. Sesaat di mobil, terdengar suara Adzan Zuhur liat jam kok sudah 12.30an baru adzan? Saya lupa kalo di Aceh emang lebih lama dibanding Jakarta hehehe. Akhirnya mobil langsung di arahkan keluar area pantai, dan menuju salah satu saksi bisu yang menyatakan bahwa kekuasaan Allah SWT itu nyata……

Masjid Rahmatullah, Lampuuk Kecamatan Lhok Nga, Aceh. Mungkin masih ada yang belum tau jika disebutkan nama ini, tapi jika melihat pada documenter Tsunami 2004 dimana ada sebuah Masjid yang masih berdiri kokoh yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari garis pantai, ya Masjid Rahmatullah ini lah Masjid yang berada pada documenter itu. Masjid Rahmatullah ini cukup besar, dan memang berada ditengah pemukiman warga garis pantai (gak garis pantai banget sih, tapi kita masih bisa dengeri deburan ombak seriusan). Pada Tsunami tahun 2004 yang menghantam hamper semua garis pantai barat Provinsi Aceh pun tak luput menghantam kawasan Lampuuk, nyaris semua bangunan rata dengan tanah, namun tidak dengan Masjid ini. Walaupun ada kerusakan di beberapa bagian, Masjid ini tetap berdiri setelah dihantam Gempa yang disusul Tsunami.

sesaat setelah bencana Tsunami 20014

sesaat setelah bencana Tsunami 20014 (sumber : http://www.abc.net.au/news/image/5974296-3×2-700×467.jpg)

Interior Masjid Rahmatullah

Interior Masjid Rahmatullah

Kini, Masjid Rahmatullah sudah sangat baik kondisinya. Saat saya berkunjung, fasilitas penunjang kenyamanan beribadah berfungsi sebagaimana mestinya. Bahkan jumlah pengunjung saat saya menyempatkan diri beribadah ke sana terbilang cukup ramai. Setelah melaksanakan Sholat Dzuhur ber-jamaah, saya melihat ke sebuah sudut di bagian kiri masjid yang ternyata oh ternyata adalah sisa kerusakan saat Masjid ini dihantam gelombang Tsunami. Seolah menjadi pengingat bahwa telah terjadi sebuah ujian dari Allah SWT, sisa kerusakan ini dibiarkan oleh pengurus Masjid yang tentunya diberikan pengaman agar tidak membahayakan keseluruhan bangunan Masjid dan tentunya keamanan jamaah Masjid. Masya Allah Subhanallah, saya harus kembali lagi ke sini.

sudut masjid yang dibiarkan rusak

sudut masjid yang dibiarkan rusak

pilar pilar yang berserakan

pilar pilar yang berserakan

kumpulan dokumentasi

kumpulan dokumentasi

foto ala kadarnya karena ini hujan deras

foto ala kadarnya karena ini hujan deras

si putih yang mejeng juga

si putih yang mejeng juga

Berhubung waktu yang semakin mepet, saya dan kawan harus segera kembali ke Banda Aceh untuk menemui salah satu tokoh Banda Aceh di sebuah kedai yang sangat tenar. Sebuah kedai Mie Aceh, Kedai Mie Razali.Beruntung sekali saya siang itu, karena memang bukan jam makan siang, kondisi Mie Razali tidak penuh sesak hingga waiting list. Karena saya pernah dengar dari seorang rekan, jika tidak beruntung makan Mie di Razali ini bisa waiting list, hemmm lumayan lah hehehe.

Mi Razali

Mi Razali

Sudah barang tentu makanan khas yang saya pesan adalah Mie Aceh (bukan soto kudus karena ini di Aceh, bukan di Kudus..!!!) harga yang ditawarkan cukup murah mulai 8000-30000 kalo tidak salah ingat. Harga berbeda karena toping yang diberikan juga berbeda-beda, mulai Mie Aceh polos hingga ber-topping kepiting bisa dipesan di sini. Saat itu saya pesan Mie Aceh dengan irisan daging sapi, asli rasa pedes nya gak anarkis beda ama di Jakarta yang beberapa kali saya makan pedesnya anarkis banget … saya merasa gak rugi ngeluarin duit hampir sekian juta (uuuu sombong) untuk makan seporsi Mie Aceh di Kedai Razali ini, asli enak banget ini…!!! di beberapa sudut, terpaku di dinding bingkai foto owner Mie Razali dengan beberapa artis maupun tokoh-tokoh Indonesia, dan yang paling saya ngeh adalah foto Presiden RI sekarang Pak Jokowi saat berkunjung ke sana, kalo artis saya gak terlalu hafal hehehe (kuper). Pokoknya kalo ke Aceh, mampir ke sini wajib..!!!!

tahan puasa ya....

tahan puasa ya….

Setelah kekenyangan di kedai Mie Aceh Razali, saya kembali bergerak menuju salah satu situs yang kini dijadikan pengingat sejarah dan salah satu tempat wisata juga di kota Banda Aceh. Yakni, situs PLTD Apung milik PLN

PLTD Apung milik PLN ini sudah berada di perairan Aceh dari Juli 2003. Bertujuan untuk mengatasi krisis energi listrik yang kerap terjadi di Provinsi Aceh kala itu, PLTD apung ini pun digunakan sebagai bala bantuan. Pada 26 Desember 2004, PLTD Apung ini pun bergeser dari posisi semula yang berada di laut lepas, memasuki daratan kota Banda Aceh yang menurut informasi berjarak 5 Kilometer dari garis pantai Banda Aceh, Subhanallah.

PLTD Apung

PLTD Apung

Sore itu, penulis dan seorang kawan yang masih diuber waktu untuk “dinas” menyempatkan diri mengunjungi salah satu saksi bisu Tsunami pada tahun 2004 yang melanda Banda Aceh. pertama kali penulis melihat PLTD Apung, memang bukanlah barang yang sebesar mobil ataupun bis, entah berapa dimensi panjang lebarnya yang jelas menurut informasi, PLTD Apung ini memiliki bobot 2600 ton. Merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah SWT, benda sebesar ini bisa mendarat di daratan karena dihempas gelombang Tsunami tahun 2004 silam.

Cukup ramai pengunjung kala itu, bahkan ada beberapa turis mancanegara yang juga mengunjungi situs ini. Untungnya tiket masuk tidak dikenakan, alias GRATIS (lumayan kan, hehehe) hanya saja, untuk parkir kendaraan sejenis si putih (xenia) dikenakan biaya 5000 rupiah, menurut saya masih masuk akal.
IMG_1251
Saat memasuki PLTD Apung milik PLN ini, jangan membayangkan penuh dengan mesin pembangkit atau apalah saya gak ngerti nyebutnya apa. Karena pada tiap sudut sekarang diletakkan berbagai dokumentasi, barang-barang peninggalan, maupun layar monitor yang berisi video edukasi tentang energi listrik, maupun tentang bencana Tsunami itu sendiri. Walaupun ini berupa PLTD yang notabene bangunan nya dari besi semua, tapi udara di dalam ruangan saat itu tidak terasa gerah ataupun panas dikarenakan penyejuk udara melaksanakan tugas dengan baik, karena memang cuaca Banda Aceh saat itu sedang terik (walaupun di LhokNga nya ujan deres, badai). Pada suatu sudut ruangan, saya mendapati sebuah poster dalam lemari kaca yang cukup menarik disimak.
IMG_1254
Smong Simeulue. Berasal dari Pulau Simeulue, terdapat semacam hikayat atau cerita yang berisi sebuah Nasihat bagi para warga yang diceritakan secara turun-temurun oleh para pendahulu. Apa ceritanya? secara garis besar dari yang saya baca, Smong Simeulue ini berisi tentang nasihat yang dimana menceritakan sebuah pertanda bencana alam yang akan terjadi. Jadi menurut poster di PLTD Apung ini, sekitar Tahun 1907 Pulau Simeulue juga dilanda Tsunami yang diawali gempa bumi. HIkayat ini pun mengajarkan bahwa jika terjadi gempa kuat, kemudian disusul dengan surutnya air laut segeralah mengungsi ke tempat yang tinggi. Cerita yang diwariskan turun temurun ini berhasil menyelamatkan banyak warga Simeulue saat terjadi Tsunami tahun 2004, bahkan menurut data yang saya baca di sini, dari 78,000 masyarakat hanya 7 orang yang meninggal suatu angka yang fantastis jika melihat data di beberapa lokasi seperti Banda Aceh saja mungkin puluhan ribu jiwa yang meninggal dunia. Smong Simeulue seolah menjadi arahan ataupun pedoman yang bisa kita ikuti untuk selalu waspada dengan bencana yang bisa datang kapan saja.

“Bagi para pengunjung harap meninggalkan lokasi PLTD Apung” Pengumuman yang bersumber dari seorang wanita ini membuat saya bingung, bagaimana tidak? kesannya pengumuman ini mengusir pengunjung yang sedang melihat-lihat. Ternyata ini bukan mengusir pengunjung, hanya saja tempat ini ditutup sementara karena waktu Sholat Ashar telah tiba, MASYA ALLAH, SUBHANALLAH inilah serambi mekah dengan segala hiruk pikuknya PLTD Apung ini diberikan waktu ber-istirahat sejenak untuk para pengunjung maupun pengelola agar tidak lalai dalam menjalankan ibadah Sholat lima waktu.

Ayo pada keluar dulu...

Ayo pada keluar dulu…

Berhubung waktu Sholat Ashar telah tiba, dan saya pun juga belum mengunjungi Masjid yang selalu terbayang di benak saya yakni Masjid Baiturahman, segeralah kami melesat menuju Masjid Baiturahman. Dalam waktu 10 menit, kami telah tiba di Masjid Baiturahman. Masjid yang menjadi ikon provinsi Aceh ini tak luput pula terkena Gelombang Tsunami pada akhir 2004 silam. Namun entah bagaimana caranya, banyak kesaksian dari kerabat, kawan hingga penulis sendiri menonton di video dokumenter Tsunami Aceh, ketika gelombang Tsunami memasuki wilayah masjid, seolah gelombang sangat tenang tidak grasak grusuk, hal ini lah yang menjadikan Masjid Baiturahman ini saat itu sebagai tempat berlindung. Subhanallah, Masya Allah.

Saat menunaikan ibadah Sholat Ashar secara berjamaah (untung masih bisa jamaah yeee), kondisi bangunan Masjid pun terbilang nyaman, beberapa penyejuk udara dan kipas angin berfungsi dengan baik tentunya hal ini menambah kekhusyukan bagi setiap orang yang melaksanakan ibadah di sini. Setelah selesai sholat Ashar, saya baru menyadari bahwa jumlah jamaah sholat saat itu bisa dibilang banyak. Ungkap kawan saya yang memang lebih dulu sampai di Banda Aceh, dia pun sangat kagum bahwa jamaah sholat di Masjid Baiturahman memang selalu banyak. Sayangnya saya tidak sempat mengambil foto dari Masjid Baiturahman ini dikarenakan, pada saat itu kompleks Masjid Baiturahman sedang direnovasi.

Masjid Baiturrahman sore itu

Masjid Baiturrahman sore itu

Setelah selesai di Masjid Baiturahman, saya dan kawan bergerak menuju UleeLheu. Di sini kami mengunjungi kembali satu pemakaman massal, Taman Makam Syuhada namanya. Cuaca mendung saat itu membuat Pemakaman Massal ini terlihat cukup kelabu, terlebih lagi cuaca yang tadinya terik kini berganti awan mendung yang diikuti oleh hujan gerimis. Setelah dari sini, kami mengunjungi Masjid Baiturrahim yang persis berada di garis pantai UleeLheu, hanya saja saya tidak turun kawan saya yang turun, selain karena hujan kami juga sudah melaksanakan sholat Ashar jadi kawan saya itu pun hanya berfoto saja.

Gerbang yang mengingatkan bahwa kita harus....

Gerbang yang mengingatkan bahwa kita harus….

Waktu menunjukkan pukul 16.30, Bis CV Putra Pelangi Perkasa yang kami tumpangi untuk menuju Medan berangkat pukul 20.00, tapi para penumpang diharap berkumpul pukul 19.30 setidaknya masih ada 3 jam bagi saya untuk menikmati Kota Banda Aceh sekali lagi. Namun sebelum kami putarbalik ke arah pusat kota, saya dan kawan santai sejenak di pinggir pantai UleeLheu sembari menikmati cemilan yang dijual di sepanjang jalur menuju pintu masuk Pelabuhan Penyebrangan UleeLheu. Cemilan cukup terjangkau, membuat tempat ini banyak dikunjungi oleh muda-mudi Aceh hehehe, sayangnya saya lagi lagi sama laki.. KZL…!!!!

sekarang saya di sini

sekarang saya di sini

santai sejenak sebelum putar balik ke Banda Aceh

santai sejenak sebelum putar balik ke Banda Aceh

pukul 18.00 di Banda Aceh masih ada matahari, saya dan kawan telah sampai di wilayah Peunayong. Peunayong mungkin bisa dibilang sebagai pusat kuliner di Banda Aceh, berbagai kuliner maupun toko cinderamata bisa ditemukan di sini. Saya pun menyempatkan diri untuk membeli sekedar oleh-oleh biar dikira ke Aceh beneran, beruntung bagi saya bahwa Toko suvenir Pusaka bisa menggunakan debit mandiri ( di dompet tinggal 5ribu aja, buat apaan ?? hehehe) setelah beberapa oleh-oleh dibeli dan dimasukkan ke bagasi xenia, saya pun bergeser ke kedai yang berada di sebelah Toko Suvenir Pusaka. Kedai Sate Matang Yakin Rasa menjadi pilihan saya, tapi untuk ulasannya saya bikin terpisah nanti aja yaaa…. Hehehe. Sekitar 18.35 saya menuju terminal Batoh, karena telah janji dengan pemilik mobil untuk mengembalikan jam 7malam.

udahlah ini emang enak.....

udahlah ini emang enak…..

Dengan sampainya saya di terminal Batoh, saya akhiri tulisan ini. Banda Aceh hanyalah sekelumit dari Provinsi Aceh yang luas, masih ada beberapa lokasi yang perlu saya kunjungi seperti Meulaboh, Lhokseumawe dan beberapa lokasi lainnya. Teringat akan ucapan seorang tokoh masyarakat Aceh yang mengutip Narit Maja “Sira tajak-jak tapluek situek, sira taduek ta cop tima”, membuat saya tidak ingin menyia-nyiakan waktu, bekerja keras dan bisa kembali lagi ke Serambi Mekah….

Senja Banda Aceh

Senja Banda Aceh