Selamat jumpa kembali dengan penulis, tidak terasa bulan Ramadhan sudah berada di penghujung akhir semoga amal ibadah yang telah kita jalankan mendapatkan pahala Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin.
Kali ini penulis, kembali mencoba menyusuri Jalan Raya Pos yang akrab juga disebut Jalur Daendels. Dengan mengambil rute Bandung-Cirebon penulis dan tim kembali menelusuri jejak jejak Sejarah. Bagaimana ceritanya? ini dia….

kita mulai dari Cileunyi

kita mulai dari Cileunyi


Kembali dengan penulis yang hendak menelusuri Jalan Raya Pos dengan segala keterbatasan, Si besar yang hari kamis sebelum keberangkatan gak sengaja ketemu di Kokas akhirnya memenuhi jadwal kencan dengan penulis pada akhir pekan (penulis sibuk, tim penulis apalagi, mobilnya apalagi…!!!). Pada etape kali ini, Bandung-Cirebon dipilih sebagai rute lanjutan, selain untuk memenuhi kebutuhan penulisan, penulis juga melakukan inspeksi jalur mudik hingga Kota Tegal. Secara garis besar, rute kali ini melewati Bandung Kabupaten yang berawal di Cileunyi kemudian memasuki Sumedang, melewati Majalengka hingga berakhir di Kota Cirebon melalui Plumbon.

Selamat Datang Kota Sumedang

Selamat Datang Kota Sumedang

Perjalanan penulis awali dari Exit Tol Cileunyi sekitar pukul 10.30 pagi hari, menyusuri jalur Jatinangor yang kerap dilanda kemacetan jika bubaran jam kuliah. Maklumlah, di sepanjang Jalur ini terdapat beberapa lembaga pendidikan yang kenamaan seperti Institut Teknologi Bandung, IPDN dan Universitas Padjajaran yang sebetulnya berada di wilayah administrasi Kabupaten Sumedang. Beruntung kondisi lalu lintas saat itu tidak terlalu ramai sehingga SUV Toyota bermesin Diesel ini mampu melaju santai menembus lalu lintas saat itu.
Yang menjadi perhatian saat menyusuri jalur ini adalah titik kemacetan di Pasar Tanjungsari, maklumlah aktifitas pasar membuat angkot ngetem, orang menyebrang, dan lainnya membuat kondisi lalu lintas bergerak seperti keong.

Kampus gak kesampean...

Kampus gak kesampean…


Aspal lumayan mulus

Aspal lumayan mulus


mulai macet

mulai macet


Pasar Tanjungsari Sumedang

Pasar Tanjungsari Sumedang

Menjelang cadas Pangeran

Menjelang cadas Pangeran


Setelah melewati Pasar Tanjungsari, lalu lintas mulai lancar kembali. Jalan yang kerap berliku, menurun dan menanjak membuat mobil tidak bisa dipacu dengan kecepatan tinggi. Setelah berapa lama berjalan, kami melewati salah satu landmark yang dikenal dalam sejarah Indonesia yakni Tugu Cadas Pangeran.
Cadas Pangeran

Cadas Pangeran

Sekelumit sejarah melalui referensi yang saya baca dan yang saya pelajari, pada wilayah ini korban kekejaman pemerintah Belanda yang kala itu dipimpin oleh Daendels bisa dibilang cukup banyak. Rintangan pun bukanlah ringan, kontur wilayah yang berbukit membuat rakyat Sumedang yang menjadi pekerja paksa hidup dalam kondisi yang memprihatinkan. Melihat kondisi seperti ini, Bupati Sumedang kala itu Pangeran Kusumahdinata IX menemui Daendels untuk memprotes kondisi pekerja yang membangun jalan ini. Jika ada yang melewati rute ini, dan menyempatkan waktu berhenti sejenak di Tugu ini pasti ngeh jika terdapat dua patung, dimana patung ini adalah representasi dari Pangeran Kusumahdinata IX berjabat tangan dengan Daendels yang mana Pangeran Kusumahdinata menjabat tangan Daendels dengan tangan kiri sebagai bentuk ketidakpuasan atas perlakuan terhadap Rakyat Sumedang.

Pada tugu ini, kami menyempatkan berhenti sejenak untuk mengambil foto wajib sembari mengenang dimana pada dahulu kala rute ini menjadi saksi bisu sejarah kelamnya penjajahan yang menurut literatur menyebutkan hampir 5000 jiwa rakyat sumedang meninggal dunia dalam pembangunan di Wilayah ini.

Foto Wajib

Foto Wajib

Selepas prosesi pengambilan foto wajib kami kembali melanjutkan perjalanan, tujuan berikutnya adalah Masjid Raya Nyalindung yang masih berada di Kabupaten Sumedang. Sekitar pukul 12.20, kami telah sampai di Masjid Raya Nyalindung, untuk melaksanakan ibadah Sholat Dzuhur dan beristirahat sejenak bagi rombongan penulis dan juga mobil yang daritadi sudah dipaksa menyala terus menerus.

Kondisi aspal masih lumayan mulus

Kondisi aspal masih lumayan mulus


Bundaran masuk kota Sumedang

Bundaran masuk kota Sumedang


Terminal Bis Sumedang

Terminal Bis Sumedang


Masjid Raya Nyalindung

Masjid Raya Nyalindung


Setelah rehat sejenak, rombongan penulis kembali menyusuri rute Sumedang menuju Majalengka. Majalengka merupakan salah satu Kabupaten di Jawa Barat yang juga dilewati oleh Jalan Raya Pos pada dahulu kala, hanya saja rombongan penulis sempat keliru saat mengambil rute karena memang seharusnya Kota Majalengka penulis lewati, tetapi saat melintas penulis melewati jalan lingkar yang tembus menuju wilayah Jatiwangi. Kami meneruskan perjalanan dengan rute yang terlanjur kami ambil, di daerah Jatiwangi pun kanan kiri cukup banyak industri genteng yang mana pada beberapa ruas jalan kami temukan beberapa toko yang memajang genteng genteng siap pakai. Sebagai catatan pula, di daerah Jatiwangi juga terdapat beberapa aktifitas pasar yang mungkin bisa menghambat arus lalu lintas.
menjelang Majalengka

menjelang Majalengka


Kadipaten

Kadipaten


ada yang jual genteng tuh

ada yang jual genteng tuh


Akses tol Cipali melalui Sumberjaya

Akses tol Cipali melalui Sumberjaya

Meneruskan perjalanan, tidak terasa kami mulai memasuki Kabupaten Cirebon yang diawali dari daerah Gempol. Tidak banyak landmark yang bisa dijelajahi, selain penulis sebagai pengemudi juga memacu mobil dengan kecepatan tinggi supaya sampai di kota Cirebon tidak terlalu sore. Memasuki Kota Cirebon, kita disambut juga oleh sentra perdagangan Batik yang bernama Batik Trusmi. Sebagai catatan, lokasi penjualan Batik Trusmi terdapat di dua lokasi yang masih satu jalur, hanya saja pada lokasi yang utama rombongan penulis tidak bisa masuk dan mengambil foto wajib dikarenakan lalu lintas Cirebon sore itu cukup padat.

memasuki daerah Palimanan

memasuki daerah Palimanan


Pasar Batik Trusmi

Pasar Batik Trusmi


Sesampainya kami di pusat kota Cirebon, kami melintasi jalan Tuparev. Jika sesuai dengan rencana, kami akan mengunjungi beberapa situs sejarah Jalan Raya Pos di Kota Cirebon yakni, Kantor Pos, Tugu 0 Kilometer kota Cirebon, dan Stasiun Cirebon. Hanya saja kami mengunjungi Masjid At-Taqwa yang merupakan Masjid Agung Cirebon untuk melaksanakan Sholat Ashar.
Jalan Tuparev Cirebon

Jalan Tuparev Cirebon


Jalan Kartini, Cirebon konon bangunan Bank BRI merupakan bangunan lawas juga

Jalan Kartini, Cirebon
konon bangunan Bank BRI merupakan bangunan lawas juga


Masjid Agung Cirebon

Masjid Agung Cirebon


Selepas Sholat Ashar dan membeli hidangan buka puasa karena penulis hendak menuju Tegal, barulah rombongan penulis mengunjungi tempat yang penulis sebutkan tadi. Kami mengawali dari Stasiun Cirebon yang mudah ditemui karena masih satu jalur dengan Masjid At-Taqwa. Dari Stasiun penulis melanjutkan perjalanan menuju Kantor Pos Cirebon sekaligus Tugu 0 Kilometer Cirebon. Nah menuju Kantor pos ini cukup terkendala, karena notabene rombongan penulis yang bukan orang cirebon dan hanya mengandalkan bantuan aplikasi navigasi akhirnya rombongan penulis sempat tersasar melewati jalur satu arah yang berada di Kota Cirebon (untung gak sampe pake GPS betulan, Gunakan Penduduk Sekitar. hehehe). Akhirnya kurang lebih pukul 17.00 rombongan pawai penulis tiba di Kantor Pos Cirebon, sekali lagi sangat disayangkan berhubung hari libur dan udah pada capek mengambil foto pun hanya sekedarnya… dan juga, sebetulnya ada beberapa landmark yang sebetulnya penulis lewati tapi gak kepikiran buat foto disitu, yakni Balai Kota Cirebon dan Pelabuhan Cirebon.
Stasiun Cirebon

Stasiun Cirebon


Lokomotif Tua

Lokomotif Tua


Foto wajib lagi

Foto wajib lagi


suasana Jalan Siliwangi Cirebon sore itu

suasana Jalan Siliwangi Cirebon sore itu


Tugu 0 KM Kota Cirebon. Jl Yos Sudarso

Tugu 0 KM Kota Cirebon. Jl Yos Sudarso


Kantor Pos Cirebon

Kantor Pos Cirebon


Pada akhirnya, etape Bandung – Cirebon memang memiliki fakta sejarah yang mengingatkan kita bahwa penjajahan memang harus dihapuskan sebagaimana yang disebutkan dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945.
Tunggu kembali ulasan penulis dalam menelusuri jejak sejarah Jalan Raya Pos…. Selamat berpuasa
Tegal masih jauh ya

Tegal masih jauh ya