Selamat bertemu kembali dengan penulis yang sekarang lagi keranjingan aransemen musik dari Andi Rianto yang merupakan pemimpin Magenta Orchestra. Dengan ditemani alunan musik yang terdengar syahdu, mengingatkan saya bahwa masih ada hutang artikel pada kategori liputan khusus dalam menelusuri Jejak Jalan Raya Pos atau yang juga bisa disebut Jalan Daendels. Kemana penulis kali ini berjalan? Mari ikuti.

Kita awali dari Kalideres

Kita awali dari Kalideres



Kali ini penulis mengambil rute dalam kota Jakarta hingga Bogor. Rute ini bisa dibilang paling pendek, tapi paling ribet kenapa? Dalam berbagai literatur sejarah yang penulis dan tim pelajari cukup banyak perbedaan rute yang menyebutkan lewat mana Jalan Raya Pos yang saat itu dibangun Daendels ketika sampai kota Jakarta. Namun perjalanan kali ini diawali dari Kalideres, sehingga garis besar rute kali ini adalah Kalideres-Grogol-Hasyim Ashari-Veteran-Pasar Baru-Gunung Sahari-Senen-Jatinegara-Cililitan-Kramat Jati-Depok-Cibinong-Bogor. Namun selain rute itu, penulis beserta tim pun sempat mengunjungi beberapa spot yang dirasa juga bernilai sejarah yakni Pelabuhan Sunda Kelapa dan tentu saja Kota Tua Jakarta. Begini ceritanya……

Seperti penulis bilang diawal, etape Jakarta Bogor ini adalah rute pendek tapi paling ribet, bagaimana tidak? Jalanan Jakarta banyak yang berubah, belum lagi lalu lintas yang terlalu ramai sehingga cukup menyulitkan untuk pengambilan gambar, bahkan untuk membereskan etape(yang belum terlalu semppurna) ini perlu pengerjaan beberapa minggu, jadi mohon dimaafkan jika pada etape ini terlalu banyak kekurangannya..

Perjalanan penulis awali dari Kalideres yang bisa dibilang menjadi perbatasan antara Tangerang dengan Jakarta. Dengan cuaca Jakarta yang belakangan ini agak labil kami gambling untuk tetap berjalan. Pada perbatasan ini ditandai dengan tulisan “Selamat Datang Kodya Jakarta” dan ada tugu Selamat Jalan dari Provinsi Banten, namun yang patut diwaspadai adalah ada juga Patung Elang Bondol membawa salak Condet juga terdapat disisi jalan menuju Tangerang.

tulisannya terhalang pohon

tulisannya terhalang pohon


Bergerak dari Kalideres, rombongan penulis menyusuri Grogol kemudian terus menuju Hasyim Ashari menuju jalan Veteran hingga mencapai Pasar Baru. Di area Pasar Baru terdapat beberapa Bangunan yang masih berdiri kokoh dengan gaya lama jaman Belanda, seperti Gedung Kesenian Jakarta, dan Kantor Pos. Untuk Pasar Baru sendiri memang sudah diadakan beberapa kali perubahan menjadi lebih modern namun tetap mengusung semangat Kota Jakarta yang lampau yakni tetap ceria dan ramai.
Flyover Roxy

Flyover Roxy


img_0438

Setelah Pasar Baru, giliran Aspal di wilayah Gunung Sahari yang diinjak oleh mobil sejuta umat angkatan tahun 2008 sebagai ganti SUV Bermesin Diesel yang kerap sibuk. Sepanjang Gunung Sahari pun masih ada beberapa Bangunan juga yang masih menggunakan model lama, salah satunya Gedung Batara. Memasuki Wilayah Senen, rombongan melewati flyover yang diperuntukkan untuk memperlancar arus kendaraan dari arah Gunung Sahari menuju Salemba. Di sudut perempatan Senen pun masih ada Gedung Bioskop Lawas yakni Bioskop Grand Theater. Bioskop Grand Theater bisa dibilang menjadi tempat nonton yang Berjaya di Jakarta pada masa lalu, namun dengan berjalannya waktu kejayaan Bioskop ini pun mulai redup namun hingga kini masih bertahan dengan segala daya upaya dan dengan segala cerita cerita yang menyertai perjalanan hidup Bioskop ini.

Wilayah Gunung Sahari

Wilayah Gunung Sahari


Menjelang Flyover Senen

Menjelang Flyover Senen


Bioskop Grand Theater dari atas Flyover Senen

Bioskop Grand Theater dari atas Flyover Senen


Dari Senen mobil terus diarahkan hingga melewati wilayah Salemba. Wilayah Salemba pun memiliki beberapa tempat yang juga memiliki nilai sejarah, bangunan seperti Universitas Indonesia yang dulu bernama Dokter Djawa School. Kampus UI Salemba yang tenar dengan Fakultas Kedokteran-nya ini memang sudah ada dari jaman dulu, jika kita sadur dari beberapa literatur seperti sejarah berdirinya Universitas Indonesia pernah beberapa kali berganti nama mulai dari Dokter Djawa School kemudian menjadi School Tot Opleiding van Indische Artsen atau bisa disingkat dengan STOVIA. Selain UI agak melipir ke belakang sedikit terdapat Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo yang juga masih mengadopsi gaya lawas, dimana mungkin sebagian warga Jakarta (atau semua?) pasti pernah mendengar cerita mistis dari Rumah Sakit ini. Selain Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, berada di seberang jalan juga terdapat Rumah Sakit Saint Carolus yang pada beberapa bagian rumah sakitnya masih menggunakan gaya kolonial Belanda.
Salemba Area

perempatan Salemba Area

Selepas Salemba, kendaraan akan bertemu arus di perempatan Matraman dimana arah kiri menuju Rawamangun, kanan menuju Manggarai atau bisa juga menuju Menteng, dan lurus menuju Jatinegara, rombongan penulis pun mengambil rute lurus untuk menuju Jatinegara. Menjelang masuk Jatinegara setelah Markas Direktorat Zeni TNI AD, rombongan penulis menyempatkan diri sejenak berhenti untuk mengambil gambar gereja yang juga bisa dibilang memiliki nilai sejarah.

Berhenti sejenak di Sudut Gereja Jatinegara

Berhenti sejenak di Sudut Gereja Jatinegara

Kendaraan pun masih terus dilajukan menuju Bogor dengan mengambil rute Jatinegara-Otista-Cililitan kemudian berbelok kanan di perempatan besar cililitan untuk masuk ke jalan raya Bogor. Dalam menelusuri Jalan Raya Bogor, rombongan penulis akan melewati Kramat Jati-Depok-Cibinong kemudian memasuki kota Bogor melalui Jambu Dua.

Otista Area

Otista Area


Jalan Dewi Sartika

Jalan Dewi Sartika


Sepanjang perjalanan di Jalan Raya Bogor, mungkin tidak banyak ditemukan bangunan sejarah kalaupun ada rombongan penulis sempat membaca di sebuah web-blog yang menyebutkan ada bangunan rumah yang sudah ada dari jaman Belanda disebut dengan rumah tuan tanah cimanggis cuma pas dicari gak ketemu-temu ya jadi kebablasan… Hehehe
Jalan Raya Bogor setelah belok kanan di Perempatan Cililitan (kini PGC)

Jalan Raya Bogor setelah belok kanan di Perempatan Cililitan (kini PGC)


Flyover Pasar Rebo

Flyover Pasar Rebo


di depan Cimanggis Square, menjelang Simpang Kelapa Dua Depok

di depan Cimanggis Square, menjelang Simpang Kelapa Dua Depok


Transportasi Dulu vs Transportasi Sekarang

Transportasi Dulu vs Transportasi Sekarang


Setelah Polsek Cimanggis

Setelah Polsek Cimanggis


Depok cukup panjang berada di Jalan Raya Bogor ini. Setelah melewati simpang Depok jika kita terus menuju Cibinong akan melewati salah satu toko roti dan kue langganan penulis yakni Maxim’s Bakery (ingat, bukan majalah maxim ya.. Tapi toko roti, pernah juga diulas di blog ini) tak lama dari Toko ini kita akan menemukan Fly Over Cibinong yang cukup lebar guna memperlancar arus kendaraan dari arah jakarta menuju Bogor maupun sebaliknya, tapi kadang malah flyover ini juga membuat macet karena di tiap ujung flyover banyak angkutan umum yang masih aja bandel ngetem (heran deh)..
Jalan Raya Bogor

Jalan Raya Bogor


di atas Flyover Cibinong

di atas Flyover Cibinong


Perjalanan terus diarahkan menuju Kota Bogor. Sepanjang Jalan Raya Bogor, kondisi jalan cukup bagus walaupun ada beberapa lubang tapi rasanya masih bisa ditolerir, hanya saja yang perlu menjadi waspada adalah untuk selalu memperhatikan kondisi lingkungan sekitar. Sepanjang Jalan Raya Bogor tidak hanya satu dua pabrik yang berdiri, bukan cuma pabrik keluar masuk pemukiman warga pun membuat banyak orang yang menyebrang jalan sembarangan hal ini tentunya potensi bahaya bagi pengguna jalan..
Kondisi Jalan cukup Bagus

Kondisi Jalan cukup Bagus


tapi ada juga yang tanpa separator

tapi ada juga yang tanpa separator


Mejeng Sejenak di Gapura Kabupaten Bogor

Mejeng Sejenak di Gapura Kabupaten Bogor


Pada akhirnya setelah cukup lama kami berjalan akhirnya kami sampai di perempatan besar Kedung Halang dimana jika kita hendak kembali ke Jakarta bisa melalui akses tol Bogor Outer Ring Road atau jika kita mau ke arah Jasinga atau Rangkasbitung bisa belok ke kanan melewati Dramaga kemudian menuju Cipanas. Dikarenakan, kondisi yang cukup lelah dan cuaca yang makin gelap akhirnya kami putuskan untuk menyudahi sejenak etape kali ini sehingga kami belok kiri memasuki Tol Bogor Outer Ring Road dan kami mampir ke Masjid Andalusia yang berada di Kawasan Sentul City.
Gapura Selamat Datang Kota Bogor

Gapura Selamat Datang Kota Bogor


Jika dimulai dari jam 7 pagi, perjalanan menuju Bogor melalui Jalan Raya Bogor hampir memakan waktu 4 jam, dikarenakan adanya titik titik kemacetan di sepanjang Jalan tersebut. Hal ini lah yang menjadi salah satu landasan mengapa Pemerintah Indonesia saat itu membangun Jalan Tol Jagorawi pada tahun 1973 dan mulai beroperasi di tahun 1978, dimana Tol ini mampu mempersingkat waktu tempuh bagi para Komuter yang setiap hari melintas menuju Jakarta maupun menuju Bogor..
Perjalanan ini selesai? Belum, bahkan untuk Kota Jakarta akan ada sedikit artikel khusus, apa itu? Tunggu saja… Selamat Makan siang ya
nah lho.. kenapa mobilnya berubah???

nah lho.. kenapa mobilnya berubah???