Selamat jumpa kembali dengan penulis yang sudah lama membiarkan blog ini berdebu, kali ini penulis akan mencoba melanjutkan etape sebelumnya yakni etape Bandung hingga Cirebon menuju Kendal Jawa Tengah, dimana ini merupakan suatu kemajuan yakni kami sudah berpindah provinsi menuju Jawa Tengah, bagaimana hasilnya? begini ceritanya…

Mulai dari sini

Mulai dari sini



Jangan pernah protes jika kali ini bukan si besar ber-kode mesin 2KD tidak muncul pada etape ini, karena pada saat tulisan ini selesai akan diungkap kenapa mobilnya bisa berbeda-beda. Etape kali ini, pemain baru muncul, salah satu tim yang baru datang dari tanah sebrang bergabung menjadi aktor utama menggantikan si besar yang kerap kali sibuk. Etape kali ini mengambil rute Kanci (Kabupaten Cirebon) kemudian lurus terus mengikuti jalan hingga wilayah administrasi Kabupaten Kendal, sehingga dapat dirinci etape ini melewati beberapa kota yakni Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang dan berakhir di perbatasan Batang Kendal.

Awal perjalanan kali ini kami keluar di Interchange Kanci yang pernah menjadi primadona pada jamannya saat tol Palikanci yang awal beroperasi sekitaran tahun 95an. Kanci yang merupakan perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Jawa tengah merupakan jalan lurus yang mesti ditempuh, untuk menjadi penanda terdapat sebuah Gapura Perbatasan Jawa Tengah hanya saja karena hasil foto yang sangat jauh dari harapan terpaksa tidak kami munculkan di sini akhirnya kami teruskan mobil menuju Gapura Selamat Datang Kabupaten Brebes menuju Masjid Agung Brebes untuk melaksanakan sholat Subuh.

Masjid Agung Brebes

Masjid Agung Brebes


Setelah melaksanakan Sholat Subuh dan sempat tertidur rombongan pawai pun melanjutkan perjalanan dengan tujuan Kota Tegal untuk sarapan dan melakukan foto wajib dibeberapa tempat seperti kantor pos dan pelabuhan Tegal. Sekitar 40 menit pun kami sudah dihadang beberapa lampu merah yang seolah menjadi penghadang di gerbang masuk Kota Tegal. Kota Tegal kini terasa lebih dekat dengan Kota Jakarta dikarenakan proyek tol Pejagan-Pemalang yang terdiri dari 4 Seksi sudah selesai 2 Seksi yang sudah sampai di Brebes Timur, jika mungkin ada pembaca yang ingat Gerbang Brebes Timur menjadi sorotan media hingga media internasional karena kemacetan yang sangat parah. Padahal dengan kondisi normal, kini Jakarta Tegal bisa ditempuh dengan waktu kurang lebih 4 sampai 5 jam (bahkan saya pernah cuma 3 jam 10 menit padahal gak ngebut2 amat).
Kantor Pos Tegal

Kantor Pos Tegal


Pangkalan TNI AL Tegal

Pangkalan TNI AL Tegal


Bangunan yang nampaknya mulai terkikis usia

Bangunan yang nampaknya mulai terkikis usia


Masjid Agung Tegal

Masjid Agung Tegal


Untuk beberapa tempat di Kota Tegal kami terlebih dulu menyambangi Kantor Pos Tegal. Beruntung bagi kami, suasana cukup bersahabat karena masih cukup pagi, lalu lintas pun tidak ramai sehingga juru foto yang “sangat profesional” ini dapat mengabadikan dengan cukup baik. Dari Kantor Pos Tegal, kami pun berlanjut menuju Kantor Walikota Tegal. Niat sowan mendadak ini tidak kesampean karena Tegal-1 sedang tidak ditempat, akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Tegal. Pelabuhan Tegal sebetulnya agak ragu untuk kami masuki dikarenakan akses masuk tidak terlalu meyakinkan, namun berbekal keyakinan ya masuk masuk aja, PEDE kalo emang diusir keluar ya kami putarbalik.. Hehehe. Alhamdulillah setelah kami masuk, kami pun mendapatkan latar suasana yang cukup baik sehingga bisa dibilang wilayah Tegal beressssss.. Namun, di Tegal sendiri ada salah satu tempat yang bisa dibilang cukup tenar dikalangan pengguna jalan lintas utara Pulau Jawa ini yakni sebuah SPBU. SPBU? Yap SPBU tempat kendaraan kita mengisi bahan bakar yang biasanya dilengkapi dengan fasilitas umum seperti tempat Ibadah ataupun Toilet,di Tegal terdapat SPBU Pertamina yang lebih dari sekedar indah… Eh maksudnya lebih dari sekedar biasa, lebih dari biasanya adalah area SPBU ini memiliki 67+40 Toilet bersih, hal ini yang membuat SPBU ini mendapatkan predikat oleh MURI, sehingga kerap kali SPBU ini disebut dengan SPBU MURI. Rombongan pawai pun menyempatkan diri untuk rehat sejenak di sini sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pemalang.
Sudut Jalan depan Kantor Pos Tegal

Sudut Jalan depan Kantor Pos Tegal


mejeng dulu

mejeng dulu


Mejeng lagi di Pelabuhan Tegal

Mejeng lagi di Pelabuhan Tegal

numpang pipissssss

numpang pipissssss


Karena waktu yang hampir siang, (atau malah sudah siang) Pemalang cenderung terlewati, bahkan untuk melakukan foto wajib di Gapura “Pemalang Ikhlas” pun dilakukan dengan seadanya mengingat lahan yang sangat terbatas.
maafkan hasil yang sangat terbatas ini

maafkan hasil yang sangat terbatas ini


Niatan untuk segera sampai di Pekalongan bisa dibilang sukses, walaupun dengan mengorbankan lanskap wilayah Pemalang. Di Pekalongan rombongan menyempatkan diri untuk “ngubek ngubek” GPS dikarenakan tidak ada anggota rombongan yang asli Pekalongan.
Kabupaten Pekalongan

Kabupaten Pekalongan


Di Pekalongan kami mampir ke Alun-Alun Pekalongan, dimana ada sebuah tugu bersejarah yang bertuliskan “MYLPAAL”. Pada beberapa sumber yang pernah saya baca, Tugu MYLPAAL ini merupakan titik tengah dari jalan raya yang membentang dari Anyer sampai Panarukan yang dibangun pada pemerintahan Daendels sekitar tahun 1808. Dalam bahasa Belanda yang pernah saya baca di sebuah artikel MYLPAAL terdiri dari dua suku kata yakni MYL dan PAAL, MYL merupakan satuan hitung jarak sedangkan PAAL adalah tanda jarak atau titik. Selain MYLPAAL, di Alun-Alun Pekalongan sendiri ada juga bangunan yang cukup menarik untuk di foto yakni Kantor Pos Pekalongan, dan Museum Batik. Lumayan kan, tukang kodaknya harus panas panasan di udara Pekalongan yang saat itu memang cukup terik.
Kantor Pos Pekalongan

Kantor Pos Pekalongan


Tugu MYLPAAL

Tugu MYLPAAL

Museum Batik, Pekalongan

Museum Batik, Pekalongan


Hampir kelupaan. Pekalongan sendiri cukup dikenal dengan produk Batik, pasti dari para pembaca (baik yang nyata maupun yang gaib) pernah menggunakan produk Batik dari Pekalongan. Maka dari itu, sebuah gagasan dari pemerintah wilayah Pekalongan membuat sebuah lahan yang dinamakan “International Batik Center” atau kerap disingkat IBC. IBC ini memang menyediakan beragam jenis produk Batik secara khusus dan produk produk dari Pekalongan sendiri, maklum lah tempat ini sangat sering dikunjungi oleh masyarakat yang melintasi Pekalongan. Selain tempat yang cukup tertata, fasilitas yang terdapat didalam area ini juga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung. Sayangnya saat rombongan penulis mampir tempat ini belum banyak yang buka, kalo buka sih…. Tetep gak mampir juga karena duit cekak (pelit)
IBC  International Batik Center Pekalongan

IBC International Batik Center Pekalongan


Masjid Al Fairus, Pekalongan

Masjid Al Fairus, Pekalongan


Seandaikan Pipa Kuning itu gak ada...

Seandaikan Pipa Kuning itu gak ada…


Setelah Pekalongan, tentunya rombongan melintas Batang. Sebetulnya di wilayah administratif Batang ada tulisan berjejer nama BATANG, hanya saja karena kelewatan dan memutuskan untuk besok saat pulang ke arah Jakarta walaupun kelewatan juga akhirnya sih… Tapi sudahlah, mungkin next aja kalo lewat situ lagi ya foto di situ (kalo gak kelewatan lagi). Namun jika bicara wilayah Batang, harusnya kita ingat suatu nama yakni “ALAS ROBAN”
Tugu Durian, Batang

Tugu Durian, Batang


Menjadi daerah yang memiliki banyak cerita dari cerita normal hingga cerita mistis, Alas Roban memiliki banyak perubahan. saat penulis masih bocah Alas Roban belum dipisahkan seperti sekarang, dahulu kala belum ada separator yang memisahkan jalur menuju Semarang dengan jalur menuju Jakarta, sehingga cukup banyak laka lantas yang diakibatkan oleh aksi “buka jalur”. Sekelumit sejarah Alas Roban, daerah ini berada di Kabupaten Batang untuk jalur alas roban terdiri dari 3 jalur, yakni jalur mobil kecil, mobil besar dan jalur baru namun untuk jalur yang dibangun pemerintahan Kolonial Belanda adalah jalur yang sekarang digunakan untuk mobil besar. Jalur ini memiliki tikungan yang cukup banyak dan beberapa medan jalan yang curam. Dengan dikelilingi kawasan hutan, suasana alas roban jalur mobil besar ini kerap kali mengundang kejahatan di masa lalu dimana cukup banyak aksi pencurian terhadap mobil barang hingga mobil penumpang. Bisa dibayangkan dengan kondisi jalur yang bagi mesin kendaraan saja cukup sulit untuk dilewati, bagaimana saat pembuatan jalur ini dulu? sebuah literatur yang saya baca memang alas roban ini awalnya adalah belantara hutan jati yang dibelah untuk mempermudah mobilitas logistik pasukan belanda jaman VOC (sebelum Daendels memerintah) namun ketika Daendels memerintah, obsesi Jalan Raya Pos pun dikerjakan dan jalur ini pun makin diaktifkan. Dengan dikerahkan ribuan warga, jalur ini pun dipergunakan untuk kelancaran mobilitas pasukan Belanda jaman Daendels, namun hal ini dibayar dengan banyaknya nyawa warga yang membangun jalan ini, bahkan sebuah sumber mengatakan ada ribuan nyawa melayang saat pembangunan jalan ini, mulai dari kelaparan, penyakit yang mendera, hingga hukuman dari mandor. Sebuah harga yang mahal demi kelancaran…..
kiri jalur baru, kanan jalur lama

kiri jalur baru, kanan jalur lama


mulai nanjak

mulai nanjak


Selain sejarah yang kelam saat penjajahan, setelah penjajahan pun ada beberapa kasus dimana wilayah Alas Roban menjadi tempat pembuangan Mayat misterius yang saat itu dikenal dengan mayat korban “PETRUS”. Sedikit melenceng dari tema, PETRUS merupakan singkatan dari Penembak Misterius, Petrus ini seperti aksi yang dibuat untuk menindak pelaku kriminal. Para mayat korban petrus tidak dikuburkan secara layak melainkan hanya ditinggal dipinggir jalan, dihanyutkan di sungai, atau ditenggelamkan di laut. Alas Roban pun menurut warga sekitar yang cukup sepuh dan berdasarkan informasi dari beberapa rekan yang memang asli Batang, Alas Roban pernah dijadikan juga sebagai tempat pembuangan mayat mayat korban penembakan misterius ini.
Sejenak Berhenti

Sejenak Berhenti


jarang ada mobil kecil yang melewati jalur ini

jarang ada mobil kecil yang melewati jalur ini


Hutan yang memang masih alami walaupun didalamnya ada jalur kendaraan

Hutan yang memang masih alami walaupun didalamnya ada jalur kendaraan


Berangkat dari beberapa sejarah ini lah Alas Roban menjadi punya cerita mistis yang beredar banyak di kalangan pengguna jalan maupun masyarakat Indonesia secara luas.
tebak apa yang jadi misteri? Hehehe Siang Malam suka muncul

tebak apa yang jadi misteri? Hehehe
Siang Malam suka muncul


Setelah kami melintas Alas Roban, kami pun memasuki mulai meninggalkan wilayah administrasi Batang dan menuju wilayah administrasi Kabupaten Kendal. Namun terdapat perubahan yang berawal dari sebuah panggilan dinas…

-Pulang Kantor dulu ya-