Sebelumnya

Selamat datang bulan Desember, menjelang akhir tahun akhirnya semua etape Anyer Panarukan telah selesai tentunya hal ini pun menjadi PR bagi penulis dikarenakan tulisan ini pun juga harus rampung sebelum masuk tahun 2017. Tanpa membuang waktu, rombongan kami pun melanjutkan kembali perjalanan yang tersisa yakni Kendal hingga Kudus dalam menyusuri Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer hingga Panarukan. Bagaimana hasilnya? ini dia.
kalo gak salah ini di Lingkar Kendal

“harus segera kembali ke Jakarta, ada yang perlu penanganan” sergah suara diujung telepon saat itu, Bingung kami pun menepi sejenak di akses keluar Alas Roban. Demi gambar yang tidak seberapa, rombongan pun mencari mobil yang kurang lebih mirip hingga singkat cerita kami mendapat mobil yang sama yang kebetulan sedang ada di Pemalang. Tunggu punya tunggu, Kijang Innova angkatan awal pun muncul di akses keluar Alas Roban, setelah memindahkan semua perangkat beserta penumpangnya mobil pun melanjutkan perjalanan dan mobil sebelumnya kembali ke Jakarta.

Foto sekenanya di Selamat Jalan Batang

Foto sekenanya di Selamat Jalan Batang

Perjalanan kali ini sebetulnya tinggal dikit lagi mengingat etape ini cukup pendek, hanya melintasi wilayah Kendal hingga Kudus di Kendal pun kami langsung melintas lingkar Kendal tidak masuk kota untuk mempersingkat waktu.

Selamat Datang Kabupaten Kendal

Selamat Datang Kabupaten Kendal

Berhubung waktu sudah sangat siang (malah menjelang sore) kami terlebih dulu Check in di salah satu hotel dekat Mall Paragon, setelah rehat sejenak kami pun masih punya tugas untuk mengambil gambar di beberapa bangunan yang menurut kami memiliki nilai sejarah yakni, Stasiun Tawang, Gereja Blenduk, Kantor Pos, Tugu 0 Kilometer Semarang, dan tentunya Lawang Sewu tanpa buang waktu setelah menuntaskan mandi kami (terpaksa) keluar hotel lagi dengan tujuan awal Lawang Sewu.

Lawang Sewu merupakan bangunan lama yang masih berdiri kokoh hingga kini awalnya adalah gedung yang dibangun untuk Kantor perusahaan Per-Keretaapian jaman Belanda. Dibangun mulai tahun 1904 hingga selesai 1907, bangunan ini menjadi menarik para masyarakat karena pintu dan jendela nya yang cukup banyak untuk ukuran sebuah bangunan jaman itu, hal inilah yang akhirnya membuat masyarakat akhirnya menamakan bangunan ini “Lawang Sewu” atau dalam bahasa indonesia “Pintu Seribu”.

Depan Lawang Sewu

Depan Lawang Sewu


Namun entah bagaimana, Lawang Sewu sebagaimana bangunan tua lainnya juga memiliki cerita cerita mistis. Terlepas dari bangunan yang memang pada masa penjajahan dulu pernah memiliki cerita menjadi penjara dan ada tahanan yang meninggal di penjara bawah tanahnya kala itu, hingga cerita beberapa penampakan makhluk gaib berbagai jenis mulai dari noni belanda hingga genderuwo pun banyak disampaikan oleh pengunjung yang “beruntung” bertemu dengan penampakan tersebut. Namun kini, Lawang Sewu sudah menjadi Tempat Wisata yang banyak dikunjungi wisatawan, walaupun mengalami beberapa kali pemugaran, bangunan ini pun tetap mempertahankan model awalnya sehingga kesan mistis pun tidak terlalu terasa (tapi kalo malam dan pas sepi sih ya sama aja hehehe). Sayangnya, kami tidak sempat masuk karena pelit masih harus menuju tempat lain.

Tempat selanjutnya adalah Stasiun Tawang. Berada di kawasan kota tua Semarang, Stasiun ini bisa dibilang salah satu stasiun sibuk di Pulau Jawa, bagaimana tidak? hampir semua kereta api penguasa jalur lintas utara pasti singgah di sini, sebut saja Argo Bromo Anggrek, Argo Muria dan kawan kawannya hampir semua melewati dan singgah di stasiun ini. Menurut sumber yang pernah saya baca, stasiun ini diresmikan pada tahun 1868 menjadi salah satu Stasiun besar di Indonesia mengingat lalu lintas kereta api yang cukup tinggi. Sebagai catatan, berhubung Stasiun Semarang Tawang ini juga berada di wilayah kota tua Semarang para pengunjung stasiun pun bisa berwisata di sekitaran stasiun, bahkan di depan Stasiun Semarang Tawang ini pun juga ada Water Polder yang merupakan bentuk Waduk dan di tepian Water Polder pun dilengkapi sejumlah tempat duduk, sehingga bagi para pejalan kaki bisa rehat duduk sejenak untuk beristirahat

Stasiun Semarang Tawang

Stasiun Semarang Tawang


Foto Bagus

Foto Bagus *lawas sekitar akhir 2014

Setelah Stasiun Semarang Tawang, kami melanjutkan ke Tugu 0 Kilometer Semarang. Jangan mengira, 0 Kilometer Semarang adalah simpang lima karena itu bukanlah 0 Kilometer Semarang (awalnya pun saya mengira ini) namun setelah beberapa sumber dari internet dan sejalan dengan beberapa buku akhirnya didapati 0 Kilometer Semarang ditandai dengan sebuah monumen yang tidak terlalu besar.

agak jauh ini ngambilnya

agak jauh ini ngambilnya


Monumen yang berada di ujung Jalan Pemuda, depan Gedung Keuangan Negara dan Kantor Pos Besar Semarang ini diletakkan di tengah jalan lengkap dengan taman yang cukup baik. Sayangnya Monumen 0 Kilometer ini sering tertukar dengan simpang Lima yang dianggap 0 Kilometer-nya Semarang, namun kondisi Monumen 0 Kilometer Semarang ini bisa dibilang cukup baik. Berhubung Monumen ini ada di depan Kantor Pos Besar Semarang, sekalian lah foto wajib di depan kantor pos ini.
tanpa nginjek rumput ya ngambil fotonya

tanpa nginjek rumput ya ngambil fotonya


img_2026

Sedikit berputar, kami kembali menuju Kota Tua karena ada spot foto yang terlupakan dan bisa dibilang menjadi tempat favorit orang foto di sini, yak Gereja Blenduk.

Gereja Blenduk

Gereja Blenduk


Entah kenapa disebut Blenduk, tapi seorang sesepuh keluarga yang berdomsili di Semarang malah nyebutnya Blendung di beberapa sumber juga memang mengiyakan ada beberapa gaya penyebutan untuk gereja ini, namun tebakan saya sih karena atasnya yang berbentuk bulat seperti kubah makanya disebut Blenduk. Namun karena waktu dan pinggang yang tak mengizinkan berlama lama di sini, kembali sekali lagi rombongan penulis hanya mengambil foto sekenanya dan secepatnya kembali ke hotel untuk, 3……2………1………. BOBO..!!!
eit ada yg foto foto tuh, mau difotoin mbak?

eit ada yg foto foto tuh, mau difotoin mbak?


mampir simpang lima dulu deh sebelum sampe hotel

mampir simpang lima dulu deh sebelum sampe hotel

Keesokan harinya..

hoaammmm

hoaammmm


Rombongan pawai penulis pun bergerak menuju Kudus. Yap, sebagai kampung halaman yang selalu ngangenin tentunya wajib mampir dong!, untuk menuju Kudus dari Semarang kita harus melewati satu kota yaitu Kota Demak. Demak yang terkenal dengan kota wali ini tidak terlalu besar, bahkan untuk menuju Kudus pun sudah ada jalan lingkar yang tidak perlu melewati dalam kota Demak, namun di Demak sendiri ada Masjid Agung Demak yang sangat terkenal dan menjadi favorit untuk wisata religi.
Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak


Berada di alun-alun Demak, Masjid ini cukup ramai pengunjung lebih lagi jika ada hari besar agama Islam. Menjadi salah satu Masjid Tertua di Pulau Jawa yang dibangun pada tahun 1400an ini dibangun atas inisiasi dari Raden Patah dan Wali Songo, hal inilah yang menjadikan sekarang Masjid Agung Demak sebagai salah satu Masjid wisata Ziarah Wali Songo. Walaupun mengalami beberapa pemugaran, namun bentuk asli dan tiap detail bangunan masih dipertahankan seperti awalnya.
Masjid Agung Demak

Masjid Agung Demak


Interior Masjid Agung Demak

Interior Masjid Agung Demak


Melanjutkan perjalanan dari Masjid Agung Demak, Kudus tinggal lurus terus kurang lebih tinggal 25 kilometer. Nah di Kudus sendiri sebetulnya Jalur Daendels pun kurang begitu jelas (padahal kampung sendiri ya). Sekarang untuk menuju Surabaya via Pati kita tinggal lewat Lingkar Jati yang berada persis setelah gapura “Kudus Kota Kretek” kemudian pertigaan Terminal Jati langsung belok kanan, jalan lingkar ini tembus Jekulo atau PG Rendeng, sehingga untuk perjalanan menuju Surabaya bisa melalui Pati, Rembang, Tuban lurus terus hingga Surabaya.
Gapura Kudus Kota Kretek

Gapura Kudus Kota Kretek


Nah Rambu-rambu ini menunjukkan arah Surabaya via Lingkar

Nah Rambu-rambu ini menunjukkan arah Surabaya via Lingkar


Tapi menurut sumber sejarah yang tidak lain saudara sendiri (alias Paman, alias Om, termasuk Sepupu alias anaknya Om) dulu untuk ke Surabaya pengguna jalan harus masuk kota Kudus, menuju Simpang 7 belok kanan melewati Pasar Kliwon, kemudian lurus menuju Jekulo, berarti sangat terbantukan dengan adanya jalan lingkar Jati dimana pengguna jalan tidak perlu melewati aktifitas kota yang dapat menghambat pergerakan.
Akses Masuk Kota Kudus menuju Simpang &

Akses Masuk Kota Kudus menuju Simpang &


Dalam Kota Kudus

Dalam Kota Kudus


Depan Kodim Kudus

Depan Kodim Kudus


Pertigaan Jend.Sudirman, Kudus

Pertigaan Jend.Sudirman, Kudus


Jekulo, Akses Keluar Menuju Pati

Jekulo, Akses Keluar Menuju Pati


Kudus sendiri memiliki beberapa lokasi yang cukup bersejarah juga, sebut saja Masjid Menara Kudus. Masjid yang mulai dibangun pada tahun 1549 Masehi atas prakarsa Sunan Kudus yang merupakan salah satu dari sembilan Wali yang kita kenal sebagai Wali Songo dengan tujuan untuk penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Dengan bentuk yang mirip dengan candi atau pura, hal ini menjadi salah satu contoh penyerapan budaya hindu yang sudah ada lebih dulu di Pulau Jawa. Walaupun bukan berada di jalur Daendels, Masjid Al Manar atau Masjid Menara Kudus yang berlokasi daerah Kauman patut kami singgahi karena menjadi salah satu destinasi religi favorit.
sayangnya pas lagi rame

sayangnya pas lagi rame


maafkan hasil foto yg sangat terbatas ini....

maafkan hasil foto yg sangat terbatas ini….

Selepas Masjid Menara Kudus rombongan pawai singgah sejenak di Simpang 7 Kudus

kembali foto sekenanya

kembali foto sekenanya

Lepas dari Simpang 7, kami putuskan untuk menyudahi jalan jalan ini… Dengan ditemani beberapa piring garang asem besutan RM.Sari Rasa kami pun menentukan target waktu untuk sampai jam berapa di Jakarta (lagi)..
img_2021

-Sudah dulu ya-

Advertisements