Selamat berjumpa kembali dengan penulis yang tidak terlalu sehat. Menjelang akhir tahun 2016 penulis berharap semoga apa yang telah kita capai akan menjadi pelajaran bagi pribadi penulis maupun segenap pembaca (kalo ada yang baca). Sebagai salah satu “proyek impian” Menyusuri Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan ini pun juga harus segera dicapai, bagaimana kisahnya? Kali ini akan saya ulas dari Kota Hujan yakni Bogor…

Kemana Kita Sekarang?

Kemana Kita Sekarang?



Kota yang kini hanya berjarak kurang lebih 45KM dari Jakarta ini memiliki hawa yang sejuk (setidaknya kalo pagi atau malam atau kalo hujan)dulunya dijadikan sebagai tempat bagi para “menir” Belanda beristirahat setelah penat beraktifitas dan yang mau berwisata bersama keluarga. Kenapa Bogor yang dipilih? Tentunya dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Jakarta, dan kondisi cuaca yang saat itu (pastinya) sejuk dipadukan dengan pemandangan yang cantik pastilah menjadi tempat favorit untuk beristirahat diakhir pekan.
Tentunya jangan ada pembaca yang protes tentang kembali berbedanya mobil yang digunakan kali ini. Mobil sejuta umat ini ternyata “dipaksa” untuk mejeng pada etape kali ini yang sama seperti Jakarta ribetnya bukan main, yap mini mpv “kaleng” sejuta umat yang sangat susah disalip di jalanan bernama Avanza. Dan foto pada etape ini diambil beberapa kali dalam waktu yang berbeda, jadi maafkanlah…
Perjalanan kali ini dimulai dengam mengambil rute awal dari Jambu Dua, belok kanan pada simpang Jambu dua kemudian melintas Jalan Jenderal Ahmad Yani yang cukup panjang hingga kita bertemu dengan Taman Air Mancur.

gimana jaman dulu? pasti sejuk...

gimana jaman dulu? pasti sejuk…


Bukan Iklan lho ini...

Bukan Iklan lho ini…



Setelah melintasi taman Air Mancur kita akan lurus menuju kompleks Istana Bogor, dalam perjalanan menuju Istana Bogor kita akan menemui beberapa tempat yang cukup bersejarah seperti Kodim Bogor, Pusdizki TNI AD dan juga Museum PETA. Bangunan yang dibangun (kurang lebih menurut sumber) pada tahun 1745 merupakan bangunan yang dibangun oleh penjajah Belanda dengan tujuan pertahanan untuk stabilitas militer mereka, namun pada tahun 90an bangunan ini dialihfungsikan menjadi Museum PETA dengan landasan yakni Bogor merupakan salah satu pusat pelatihan cikal bakal Tentara Nasional Indonesia kini. Sayangnya kami tidak sempat masuk mengingat lalu lintas yang ribet, dan keburu males jadi ya sudahlah….
Bablas lagi

Bablas lagi


Jika ke Bogor, tentu jangan lewatkan mampir ke Kompleks Istana Bogor. Istana Bogor yang juga berdekatan dengan kebun raya Bogor ini juga merupakan tempat yang perlu dikunjungi, hanya saja mengingat presiden RI sekarang sering berkantor di Bogor akses masuk cukup ketat sehingga penulis pun nggak bisa masuk (kecuali kalo diundang) sekelumit sejarah tentang Istana Bogor. Menurut literature yang pernah saya baca, Istana yang dulu dinamakan “Buitenzorg” ini dibangun pada tahun 1744 oleh pemerintah Belanda merupakan hasil ketertarikan Gubernur Jenderal yang kala itu berkuasa dengan wilayah Kerajaan Pajajaran ini, memang kalo kita ngeh kalo gak ada bangunan seperti Bogor Trade Mall dan bangunan tinggi lainnya, kita bisa memandang langsung Gunung Salak dari wilayah Istana Bogor. Mengingat akses masuk yang sangat terbatas (kecuali kalo dijadiin ajudan presiden atau kalo pake baju dinas atau kalo pake seragam atau kalo lagi mimpi) penulis pun mencoba masuk ke wilayah Kebun Raya Bogor saja untuk memuaskan rasa ingin tahu.
Sekitaran Istana Bogor

Sekitaran Istana Bogor


Masih disekitar Istana Bogor

Masih disekitar Istana Bogor


Jika melihat sejarah lebih lama lagi wilayah kebun raya bogor ini sudah ada dari jaman Prabu Siliwangi, namun pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Stamford Raffles yang sempet berkantor di Istana Bogor, wilayah Kebun Raya Bogor yang masih masuk dalam halaman Istana Bogor pun dikembangkan sedemikian rupa dengan tujuan selain mempercantik pemandangan juga menjadi sarana edukasi akan flora.
Memang cukup lengkap koleksi Kebun Raya Bogor yang merupakan salah satu Lembaga Penelitian Tanaman bertaraf internasional ini, salah satunya adalah Tanaman Bunga Bangkai yang mulai ditanam sekitar tahun 1992. Selain berbagai jenis tanaman, di Kebun Raya Bogor ini juga masih banyak spot-spot menarik yang bisa dikunjungi dimana beberapa spot spot tersebut memiliki mitos tersendiri, penulis pun mampir ke Air Mancur, Taman Meksiko, dan bangunan yang masih berbentuk Kolonial Belanda.
Jaman dulu mungkin Kuda ya

Jaman dulu mungkin Kuda ya


Suejukkk di gambar, aslinya panas

Suejukkk di gambar, aslinya panas


nyemplung situ dalem gak ya?

nyemplung situ dalem gak ya?


Walaupun tulisannya Taman Meksiko, ini masih di Kebun Raya Bogor

Walaupun tulisannya Taman Meksiko, ini masih di Kebun Raya Bogor


Panas beneran

Panas beneran


Mengingat waktu yang semakin bergeser rombongan penulis pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju simpang ciawi melewati Suryakencana, maafkan jika ada yang ngeh lalulintas Bogor masih dua arah di foto ini karena foto ini cukup lama diambil. Daendels menggunakan Jalan Suryakencana ini sebagai salah satu ruas jalan yang menghubungkan Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan, sempat berganti nama menjadi Jalan Perniagaan di tahun 70an akhirnya jalan ini pun menjadi Jalan Suryakencana dimana nama Suryakencana ini adalah Raja dari Kerajaan Pajajaran terakhir yang juga anak dari Pangeran Aria Wiratanudatar yang menurut sejarah beliau merupakan pendiri kota Cianjur.
Gerbang Suryakencana

Gerbang Suryakencana


Jalan Suryakencana sendiri sejak dulu terkenal akan etnis tionghoa, memang sejak jaman kolonial jalan suryakencana ini sudah banyak ditinggali oleh etnis tionghoa dikarenakan pada zaman belanda pemerintah saat itu mengatur zona pemukiman berdasarkan kelompok etnis tertentu entah apa tujuan tersebut, namun hal inilah yang membuat masih banyak etnis tionghoa yang bermukim di sini hingga sekarang dan melakukan aktifitas ekonomi di sini. Selain itu banyak pula jajanan yang patut dicoba di sepanjang Jalan Suryakencana ini, tak ada salahnya jika sedang jalan jalan ke Bogor dan membawa uang untuk mampir sejenak kecuali rombongan penulis yang sedangtidak membawa uang lebih saat itu (dalam kata lain PELIT).
Kadang semrawut

Kadang semrawut


Kadang kosong mendadak

Kadang kosong mendadak


Setelah parkir sejenak di Jalan Suryakencana yang hanya untuk foto, rombongan pawai kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Jalan Suryakencana menuju simpang Ciawi melalui Jalan Siliwangi, walaupun ditemani dengan cuaca yang kadang mendung kadang cerah kadang datang kadang hilang (lah curhat) Mesin K3VE ini tetap setia menembus kemacetan kota Bogor.
Parkir, kemudian kabur

Parkir, kemudian kabur


Megah pada jamannya

Megah pada jamannya


Jalan Siliwangi cukup panjang, di pertengahan ruas jalan Siliwangi ini nanti kita akan bertemu dengan Kantor PDAM kota Bogor yang mana ada masjid yang bisa digunakan untuk umum dan cukup nyaman, dan juga pengguna jalan akan bertemu dengan Bundaran Ekalokasari (saya sih gitu nyebutnya) dimana bundaran ini merupakan pertemuan arus dari Jalan Pajajaran yang menuju Tajur atau bisa juga dari arah Tajur menuju Pajajaran atau menuju Batutulis. Oh iya sebagai pengingat saja, disepanjang Tajur banyak bertebaran kerajinan tangan dari Tas, Dompet, Pakaian, Sepatu jadi kalo ke sini sekali lagi bawa duit lebih dan buat yang bawa pasangan harap diikat agar tidak liar kemana mana…
Lanjut

Lanjut


Angkot everywhere

Angkot everywhere


Dari Jalan Siliwangi hingga Tajur tidak terlalu banyak tempat yang menarik untuk dikunjungi (kecuali bagi kaum hawa mungkin) hingga akhirnya kami pun menembus kemacetan Tajur hingga ujungnya yakni Simpang Ciawi..
Tajur

Tajur


Sekitar Tajur

Sekitar Tajur


Namun tentunya, etape kali ini harus dihentikan sejenak tentunya untuk memberikan waktu bagi para pembaca ke toilet ataupun membalas line yang kerap di-read aja (yaelahhhhhhhhhhhh) akhir kata etape Bogor Kota telah selesai, next episode apa yang akan penulis ulas? RAHASIA…
Sampe sini dulu ya...

Sampe sini dulu ya…

-sekian-