Selamat datang kembali di blog yang sederhana ini, kali ini penulis masih akan membahas tentang pengalaman penulis beserta rombongan dalam menyusuri Jalan Raya Pos dari Anyer hingga Panarukan jadi maafkanlah jika ada pembaca yang bosan atau merasa “terbebani” dengan hadirnya kutipan artikel blog saya ini di timeline anda. Tanpa basa basi lagi, kali ini saya akan melintasi Ciawi hingga Padalarang yang notabene juga merupakan Jalan Raya Pos, selamat membaca….

mulai dari sini

mulai dari sini



Kembali lagi penulis mohon maaf bahwa ada yang terlewat dalam rute kali ini yakni lintasan Ciawi hingga simpang Gadog, maklumlah sabtu pagi sebetulnya bukan pilihan yang tepat untuk napak tilas jalur yang akan berakhir di Padalarang ini. Berangkat melalui Tol Jagorawi, kembali mesin K3VE angkatan 2012 menjadi pilihan penulis dan rombongan dalam napak tilas kali ini. Kita mulai dari titik awal Simpang Gadog. Simpang Gadog yang kerap kali menjadi titik pertemuan dan titik awal cobaan bagi pengendara yang hendak menuju kawasan wisata Puncak Bogor memang tidak terlalu lebar, bertemankan kabut yang cukup mengundang dan hujan gerimis kami pun dengan bersabar mengikuti arus lalu lintas.
Penyempitan dan Pertemuan Arus di Simpang Gadog

Penyempitan dan Pertemuan Arus di Simpang Gadog


Setelah lepas dari simpang Gadog mobil pun mulai menanjak walaupun sesekali melewati turunan tetap saja udara yang sejuk ini mampu meringankan kerja AC mobil untuk menyejukkan penumpangnya, dan mungkin ini juga yang menjadi salah satu alasan mengapa pada jaman kolonial Belanda para “meneer” dan keluarganya kerap beristirahat di akhir pekan dan tradisi itu pun seolah terbawa hingga sekarang dimana masyarakat banyak yang memanfaatkan Kawasan Puncak Bogor ini sebagai tempat menghabiskan waktu di akhir pekan.
untung mendung

untung mendung


Menurut sumber sejarah yang pernah saya baca beberapa kali, semua sepakat bahwa pembangunan jalan raya pos untuk ruas Bogor hingga Cipanas yang masuk wilayah Kabupaten Cianjur ini memang merupakan sebuah hal yang berat. Dengan kontur pegunungan, pemerintah Belanda saat itu sampai mendatangkan pekerja dari luar wilayah setempat, bahkan menurut pendapat penulis pribadi memang ruas dari Bogor hingga Cirebon ini sangat berat banyak pegunungan yang harus ditembus untuk memperlancar mobilitas Belanda saat itu.
Nanjak

Nanjak


Nanjak (lagi)

Nanjak (lagi)


Masih nanjak

Masih nanjak


Kembali ke masalah jalan, sepanjang jalan tentunya pengendara akan disuguhi dengan banyak fasilitas umum yang dapat disambangi mulai dari SPBU hingga tempat wisata yang memang sudah terkenal, tentunya siapkan dana lebih jika memang berniat untuk wisata ke sini.. sembari menyusuri lalu lintas, tak terasa kami sudah mencapai Pasar Cisarua yang artinya tidak lama lagi kami akan melewati akses masuk
menuju Taman Safari Cisarua, tapi penulis gak mampir yeeeee…
Kabut Depan Pasar Cisarua

Kabut Depan Pasar Cisarua


Setelah taman Safari Cisarua, kita pun akan disuguhi dengan beberapa bangunan yang mencantumkan huruf huruf Arab jangan terkejut inilah yang kerap disebut orang dengan Kampung Arab yang memiliki sejuta cerita tentang wilayah ini, walaupun begitu ada beberapa toko juga yang menjual produk produk khas Arab yang bisa juga kita beli.
Kampung Arab

Kampung Arab


Syahdu banget.. coba sama kamu bukan sama BATANGAN

Syahdu banget.. coba sama kamu bukan sama BATANGAN


Jalanan terus menanjak tikungan pun juga semakin banyak menghadang, walaupun memang hanya dua yakni kanan dan kiri, hal hal seperti ini membuat penumpang yang tidak biasa naik mobil bisa zonk alias muntah, maka dari itu kami sejenak berhenti dipinggir jalan hanya untuk menghirup udara segar di sekitar Perkebunan Teh Gunung Mas yang merupakan salah satu unit usaha dari PT Perkebunan Nusantara (berapa saya gak tau) yang sudah ada dari jaman Belanda. Memang jika kita melihat pemandangan di Gunung Mas mengasyikkan, wilayah yang menurut sejarah awalnya adalah hutan kemudian dialihfungsikan menjadi kebun teh ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan.
Kami baru ingat… kami belum sarapan, maklumlah jika kami merasa lapar karena beberapa roti yang kami beli sebelumnya di sebuah minimarket agak sulit untuk mengisi perut perut yang mulai tumpah ini, tanpa pikir panjang sebuah kedai Sate yang terkenal di Puncak yakni Sate Maranggi menjadi pilihan rombongan saat itu. Mobil dijalankan cepat, hingga tak terasa kami sudah melewati Wisma Haji, kemudian melewati Istana Cipanas , sejenak mari mengingat kembali hal hal apa saja tentang Istana Cipanas …
Ilustrasi Kebun Teh Gunung Mas

Ilustrasi Kebun Teh Gunung Mas


Kabut lagi kan

Kabut lagi kan


Botol Kecap ini apa ada isi nya ya?

Botol Kecap ini apa ada isi nya ya?


Istana Cipanas yang merupakan salah satu dari enam Istana Kepresidenan ternyata sudah ada sejak tahun 1700an awalnya hanya sebuah bangunan luas milik seorang tuan tanah Belanda, tentunya dengan memiliki bangunan seperti ini menarik perhatian bagi banyak orang apalagi pada jaman saat itu. Berpadu dengan udara sejuk dan pemandangan indah, bangunan ini pun difungsikan sebagai tempat istirahat bagi pejabat pejabat Belanda saat itu, bukan saat jaman Belanda saja bangunan ini difungsikan sebagai tempat peristirahatan, hingga jaman Jepang pun Istana Cipanas juga digunakan sebagai tempat beristirahat, wabilkhusus bagi para pejabat yang sedang melakukan perjalanan dari Batavia ke Bandung maklumlah perjalanan panjang kerap membuat pinggang dan pikiran cepat lelah, dan beristirahat di sini menjadi piihan yang tepat… Sayang saya gak mampir bahkan untuk foto saja lupa karena perut yang sudah lapar
Setelah melewati Istana Cipanas tentunya kami melanjutkan perjalanan menuju Sate Maranggi Sari Asih yang memang sudah menjadi langganan rombongan penulis, bahkan dari harganya masih 500 rupiah per-tusuk.
Sate Maranggi Sari Asih

Sate Maranggi Sari Asih


Versi terangnya

Versi terangnya


Kelar urusan perut, rombongan penulis kembali menyusuri jalan hingga memasuki kota Cianjur hanya saja kami kembali dihadapkan dengan padatnya lalu lintas dan udara kembali terasa menyengat panasnya, dengan bersabar kami membelokkan mobil di Bundaran Haji Juanda untuk menuju jalan Raya Cianjur – Bandung. Setelah melewati Kota Cianjur, kami mulai menuju akses keluar Cianjur kondisi jalan yang cukup baik dengan lalu lintas yang lumayan sepi saat itu membuat mobil bisa dipacu cukup cepat, tapi tentunya jangan sampe terlewat tugu identitas Cianjur nya…
foto dulu

foto dulu


kencengggggg

kencengggggg


Masuk Kota Cianjur

Masuk Kota Cianjur


cekrek cekrek cekrek, kabur

cekrek cekrek cekrek, kabur


Untuk menuju Bandung via Cianjur, pengendara akan melewati beberapa wilayah yang bernama Ciranjang, Raja Mandala dan berakhir di Padalarang. Sekali lagi, kondisi jalan masih sangat baik hanya saja banyak aktifitas masyarakat di beberapa titik yang berpotensi menghambat lalu lintas. Jalur yang kerap digunakan sebagai alternatif jika Tol Cipularang macet dan roda dua yang kerap touring menuju Bandung ini memang memiliki kontur jalan mirip dengan puncak, dan jika siang hari beberapa pegunungan kapur bisa terlihat, sekedar saran dari penulis kalo lewat sini mending jam 2 atau 3 pagi, kosong babarblas…
Mulus brooooo

Mulus brooooo


Petunjuk Jalan

Petunjuk Jalan


mampir doang di Masjid Ciranjang

mampir doang di Masjid Ciranjang


Semakin mendekati Padalarang kondisi lalu lintas semakin padat apalagi dengan matahari yang sudah ada di atas membuat aktifitas masyarakat semakin banyak, sekali lagi ujian kesabaran mobil pun sesekali diajak untuk membuka jalur lawan demi memotong arus walaupun akhirnya kami nyerah dan mengikuti arus kembali. Berhubung sudah siang dan malas mengikuti arus kemacetan kami pun menyudahi perjalanan kali ini dan mampir sejenak di Kota Baru Parahyangan untuk menunaikan Sholat Dzuhur yang sudah masuk waktu.

macet

macet


masih macet

masih macet


KBP dulu lah

KBP dulu lah


hemm....

hemm….


Kemalasan pun menjadi alasan utama penulis dan rombongan penulis untuk tidak melanjutkan perjalanan ke Bandung dengan landasan sudah sabtu, siang pula mau berapa lama lagi di dalem mobil.. Akhirnya bertemankan beberapa bungkus cilok dan batagor yang cukup lezat kami pun kembali ke Jakarta melewati Tol Padalarang…
Pulang dulu ya..

Pulang dulu ya..


-sudah dulu ya-

Advertisements