Selamat berjumpa kembali dengan penulis di menjelang akhir tahun 2016. Sebagai rute sambungan dari etape selanjutnya, si besar muncul lagi dan akhirnya kami gunakan untuk menelusuri jejak Daendels di Bandung Kota. Namun maafkanlah jika memang foto yang akan muncul sangat terbatas sekali, seperti yang sudah saya bilang di beberapa etape sebelumnya untuk menelusuri kota Bandung ini lebih rumit, walaupun jaraknya tidak terlalu panjang namun mengingat Lalu Lintas Bandung saat akhir pekan yang makin ke sini makin parah menjadikan hasil kodak kurang maksimal… Bagaimana kisahnya? ya beginilah…

Kita mula dari sini

Kita mula dari sini



Sebetulnya kami sudah berangkat cukup pagi, namun apa daya halangan lalu lintas membuat kami tiba di Exit Tol Padalarang sudah cukup siang dan kami mengarahkan mesin 2KD ini ke Masjid Al Irsyad Kota Baru Parahyangan untuk menjadi titik awal mengulas etape kali ini yang akan mengambil rute : Padalarang-Cimahi-Bandung Kota.
sini dulu

sini dulu


Setelah dari Kota Baru Parahyangan kami menuju kota Cimahi, tapi apa yang kami dapat? antrean kendaraan yang menuju cimahi sangat padat, hal ini diperparah dengan adanya angkot yang ngetem sembarangan, kendaraan lain yang saling serobot dan lainnya lah walhasil dengan kesabaran dan perut yang lapar kami mencoba bersabar mengikuti arus lalu lintas walaupun pada akhirnya rombongan penulis menyerah ketika melihat richeese factory di Cimareme.

ngelewatin bawah tol cipularang

ngelewatin bawah tol cipularang


Setelah diuji dengan saus ayam ala richeese factory, kami yang kekenyangan pun kembali bersemangat dalam mencari bagaimana spot foto di tulisan Cimahi yang akan kita lewati. Sesampainya di tkp, memang spot foto ini agak sulit jika mau mengambil foto wajib antara mobil dengan tulisan ini kesulitan utama adalah arus lalu lintas yangcukup ramai saat itu ditambah tidak adanya lahan kosong untuk menempatkan mobil tanpa mengganggu lalu lintas. Akhirnya setelah berputar beberapa kali akhirnya juru kodak dan juru parkir menyerah dan mengambil foto dari dalam mobil saja.
Cimahi

Cimahi


Dari tulisan Cimahi rombongan penulis sebetulnya ingin mengambil foto di alun-alun cimahi tapi sayangnya saat penulis ke sini nampaknya sedang ramai karena ada kegiatan masyakarat akhirnya urung lah.. Sembari terus menyusuri jalan kamipun menyadari bahwa Cimahi sekarang semakin ramai bahkan penulis pun tidak menyangka sudah ada salah satu ritel pusat perbelanjaan yang menancapkan pondasinya di Cimahi.
penampakan Transmart

penampakan Transmart




Mobil diteruskan menuju kota Bandung hingga akhirnya rombongan penulis pun menemui tulisan “Welcome to Bandung” kami yang sudah terlewat mencoba mencari putarbalik yang cukup jauh setelah kami putarbalik lalu lintas pun makin tidak bersahabat hingga akhirnya dengan terpaksa kami hanya memfoto dari dalam kabin Fortuner ini saja.


Kota Bandung yang saat Daendels membuat jalan raya Pos ini sebetulnya belum ada sebutan Bandung, yang dikenal hanya beberapa wilayah seperti cileunyi cimahi dan lainnya saya lupa (saya pernah baca pas di buku apa gitu) akses pertama dari Cimahi salah satunya adalah Jalan Jenderal Sudirman, kesabaran kami kembali diuji…
masih merdeka ngeliatnya

masih merdeka ngeliatnya


Kami sepenuhnya menyadari bahwa memang bukan pilihan tepat untuk mengulas Kota Bandung di akhir pekan yang sudah tentu lalu lintasnya padat, tapi yang kami terlewat bahwa lalu lintas Bandung beberapa waktu belakangan ini adalah dibuat satu arah. ini yang membuat rombongan penulis sangat kesulitan dalam mengulas kota yang dijuluki Paris Van Java ini. Tidak hanya sampai disitu, rintangan cuaca pun seolah menghadang kami saat rombongan penulis survei lokasi terlebih dahulu hujan gerimis mulai turun lalu lintas yang awalnya hanya padat dengan bertambahnya intensitas hujan menjadi semakin padat. Rute yang awalnya sudah kami tentukan untuk memfoto mobil menjadi gagal total dan juru kodak hanya melakukan tugasnya dari dalam mobil. inilah yang kerap disebut dengan “manusia berencana tuhan yang menentukan”


Asia Afrika
Asia Afrika

Rute Daendels di Kota Bandung yang telah penulis himpun adalah dari Cimahi kemudian masuk melalui Cimindi, tembus jalan jenderal Sudirman lanjut Asia Afrika kemudian Ahmad Yani, Cicaheum, Ujung Berung dan berakhir di Cileunyi. Namun seperti yang sudah penulis bilang sebelumnya karena terlalu banyak hambatan, menjadikan etape kali ini tidak terlalu maksimal dalam hal gambar maupun penulisan karena sejujurnya penulis pun bingung mau nulis apa karena terlalu banyak jalan memutar ketika melintasi Kota Bandung ini. Namun sebagai penghibur hati, juru kodak rombongan pun berhasil dengan segala keterbatasan untuk memotret Tugu 0 Kilometer Kota Bandung yang sekarang berada di depan Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat. Tugu 0 kilometer ini pun menginformasikan bahwa ke arah timur yakni Cileunyi berjarak 18 Kilometer, sedangkan ke arah barat yakni Padalarang berjarak juga 18 Kilometer.
tugu 0 Kilometer Kota Bandung

tugu 0 Kilometer Kota Bandung


maafkan hasil fotonya

maafkan hasil fotonya


Akhirnya kurang lebih jam 5 sore untuk menghibur hati kami mampir ke Kantor Pusat PT Pos Indonesia yang juga merupakan Museum Pos Indonesia. Sejenak beristirahat juru kodak berinisiatif untuk mengambil foto wajib dengan latar belakang Gedung Sate yang menurut penulis tidak ada salahnya juga mengingat Gedung Sate pun juga memiliki nilai sejarah bagi Indonesia khususnya warga Bandung.
Mendung, sepi, sendirian, boleh juga suasananya nih

Mendung, sepi, sendirian, boleh juga suasananya nih


Gedung Sate yang mulai dibangun pada tahun 1920 ini kerap disebut sebagai titik 0 kilometer kota Bandung padahal Titik 0 Kilometer Kota Bandung ada di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat (sekarang). Gedung yang dari awal memang diperuntukkan untuk menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda ini memang cukup megah pada jamannya maupun jaman sekarang, penulis pribadi pernah beberapa kali masuk ke gedung ini sayangnya tidak bertemu Jabar 1 atau pun Jabar 2. Hanya saja sekarang Kawasan Gedung Sate diberi pembatas antara jalan dengan pagar gedung sate yang bertujuan untuk tidak ada pedagang pedagang yang berjualan disekitar Gedung Sate. Sehingga, Gedung Sate memang patut dan sudah selayaknya dijadikan kebangaan bagi para Warga Bandung dan tentunya seluruh rakyat Indonesia.
Gedung Sate

Gedung Sate


Lepas dari Gedung Sate kami melanjutkan perjalanan kembali dengan memburu waktu, lagi dan lagi dan lagi lalu lintas Bandung membuat kami gundah, tujuan akhir yakni Ujung Berung tidak bisa dicapai dengan matahari masih diatas. Fortuner angkatan 2014 ini kembali dihadang dengan kemacetan parah disekitaran Cicaheum yang masih jalur Daendels. Hingga akhirnya rombongan penulis harus merelakan untuk sampai di alun-alun Ujung Berung menjelang adzan Isya (masih syukur dapet sholat maghrib).
Macet...

Macet…


Akhir kata untuk etape kali ini, penulis dengan menyesal tidak mampu menghadirkan gambar dan penulisan yang berkualitas mengingat keterbatasan kami dalam mengikuti kondisi lalu lintas saat itu.. Bagaimana dengan etape berikutnya? Tentunya akan lebih baik dari ini…. dan dalam dua etape lagi, tugas penulis dan rombongan sudah selesai….

-sudah dulu ya-