Berjumpa kembali dengan penulis yang kejar setoran untuk menuliskan artikel dalam kategori liputan khusus kali ini. Bagi pembaca yang mungkin sudah membaca beberapa artikel sebelumnya yang ada di blog ini, tentunya paham bila penulis sedang menyusun artikel bersambung mengenai napak tilas Jalur Daendels.. Yups betul, jalur legendaris penuh sejarah di negeri ini. Pada kesempatan kali ini, penulis ingin melanjutkan cerita napak tilas penulis bersama rombongan pawai (lagi) terkait dengan jalur daendels Etape Kudus – Surabaya. Maafkan kembali jika ada pembaca yang berharap si gembrot hitam bermesin solar muncul pada etape kali ini,karena keterbatasan dan niat “narsis” yang berlebihan maka kali ini penulis kemballi menggunakan kendaraan sejuta umat yang pernah penulis gunakan sebelumnya saat etape Daendels menjelajah Kota Hujan yang akan pensiun (baca : Bogor).

Sebelumnya

Sebelumnya



Dalam etape Kudus – Surabaya ini rombongan penulis akan menyusuri tepian jalur pantura Jawa Tengah dan juga Jawa Timur, yang tentunya di sepanjang perjalanan, kita akan banyak disuguhi pemandangan laut Jawa yang membentang indah.
Setelah menikmati pagi di Kudus yang selalu mengundang rindu bertemankan semangkuk kecil Soto Kudus untuk mengisi perut, mobil penulis arahkan ke arah timur, keluar kota Kudus, menuju Kabupaten tetangga, yaitu Kabupaten Pati.
Jalan Raya Kudus Pati

Jalan Raya Kudus Pati


Dengan jarak tempuh 20km, tak lama penulis pun menjejakkan ban di Gapura Selamat Datang Kabupaten Pati, Bumi Mina Tani. Sebenarnya di kota ini ada banyak bangunan bersejarah, tetapi karena waktu yang terbatas, foto wajib hanya dilakukan dari dalam mobil. Tak banyak yang kami lakukan di Pati, rombongan penulis hanya sempat mampir sejenak di Kios Kelinci sekedar untuk membeli cemilan dan “jatah preman” bagi keluarga di rumah. Sekedar informasi yang sangat penting, Kios kelinci ini merupakan unit usaha dari PT Dua Kelinci yang menjual berbagai olahan kacang dan produk lainnya seperti wafer dan kawan kawannya, yang jelas kalo penulis sih pasti kacang kulit… Selain mampir ke Kios Kelinci yang memang sangat tenar bagi warga Muriaan, rombongan pawai penulis pun mampir ke Masjid Agung Baitunnur Kabupaten Pati.

Looking looking and habisin itu uang

Looking looking and habisin itu uang


Masjid Agung Baitunnur Pati

Masjid Agung Baitunnur Pati


Jalan Utama

Jalan Utama


Mesin K3-VE terus diarahkan semakin ke timur melewati Kabupaten Rembang. Kabupaten Rembang pun memiliki salah satu tempat sejarah menarik yakni Makam RA. Kartini. Sebagai salah satu Pahlawan Nasional RA Kartini dimakamkan di Kabupaten Rembang, pahlawan nasional yang terkenal dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang” ini memang sangat membawa perubahan kehidupan kaum wanita pada jamannya, semangat emansipasi dalam kehidupan RA Kartini pun sangat tinggi hal ini lah yang akhirnya membawa kaum wanita pada jamannya mulai berkembang menjadi semakin baik dalam segala bidang terutama pendidikan. Namun sayang, rombongan penulis tidak sempat mampir mengingat lokasi kompleks pemakaman yang merupakan Makam Keluarga Bupati Rembang Djojo Adiningrat ini agak jauh dari Rute Daendels.
Selamat Datang Rembang

Selamat Datang Rembang


Tak Lupa rombongan penulis juga menyempatkan istirahat sekaligus beribadah di Masjid Agung Rembang. Masjid Agung Rembang ini berada di depan Alun-alun yang tepat berada di pinggir jalur pantura yang juga merupakan jalur Daendels, sehingga memudahkan kita sebagai pengendara untuk beristirahat sejenak melepas penat.
Masjid Agung Rembang

Masjid Agung Rembang


“Sekarang baru aku mengerti… Ternyata kembang mu kembang terakhir yang terakhir..” Ebiet G Ade masih sibuk menyanyikan Lagu Camelia 3 yang bersumber dari Flashdisk saat penulis melanjutkan perjalanan dari Masjid Agung Rembang untuk menuju Surabaya dengan target sampai Surabaya sebelum gelap.Bridgestone Turanza ini yang berpadu dengan mesin K3-VE racikan Toyota penulis arahkan semakin ke timur. Semakin ke timur, jalur daendels ini semakin dekat mengarah ke pinggir laut, sehingga suasana bila siang hari cukup terik menyengat. Untungnya AC mobil masih bekerja dengan baik ditambah dengan lagu Ebiet G Ade yang membuat rombongan penulis “lenggat lenggut”.
Dadah Jawa  Tengah

Dadah Jawa Tengah


Setelah berjalan beberapa puluh kilometer, Sayup- sayup dari jauh terlihat gapura abu-abu nan megah membentang di atas Jalur Daendels ini. Ooh.. rupanya penulis beserta rombongan sudah menjelang memasuki pergantian Provinsi, yaitu dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Otomatis, Kabupaten pun berganti menjadi Kabupaten Tuban. Segera parkir, cekrak cekrek foto wajib, beruntung lalu lintas saat itu sangat bersahabat sehingga memudahkan juru kodak untuk mengambil gambar.
Foto Wajib

Foto Wajib


Antara Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dipisahkan oleh Sungai Sawur, yang merupakan anak sungai dari Bengawan Solo. Tak lama setelah melewati gerbang provinsi, penulis dan rombongan memasuki Kabupaten yang memang sejak dahulu kala kota ini sudah menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Yaa, Kabupaten Tuban. Kabupaten yang berbatasan langsung dengan laut Jawa ini merupakan salah satu kabupaten tertua di Jawa Timur. Karena memang sudah lama ada, kota ini menjadi jalur penghubung perdagangan antar Kerajaan di Pulau Jawa pada zaman dahulu kala. Ketika Islam berkembang di pulau Jawa, Kota Tuban ini menjadi salah satu sentral penyebaran Islam di Pulau Jawa, bersamaan dengan kota Demak, Kudus, serta Gresik. Terbukti di dekat Masjid Agung Tuban, terdapat makam salah satu Wali songo, yaitu Sunan Bonang.
Megah benerrrr

Megah benerrrr


Sekali lagi, seolah menjadi ritual wajib rombongan penulis yang kerap motret kalo ada spot bagus juga mengambil gambar dipinggir laut Tuban, banyak juga lho yang foto-foto dipinggir jalan begini. Setelah foto asal itu, mobil diarahkan menuju Masjid Agung Tuban yang menurut penulis cukup mewah.
Mulus

Mulus


Pinggir pantai brohhh

Pinggir pantai brohhh


Asli ini panas

Asli ini panas


ini Rest Area di salah satu Ruas Jalan Nasional Tuban

ini Rest Area di salah satu Ruas Jalan Nasional Tuban


Bagi pengendara yang melintas wilayah administrasi Tuban ini, Jalur pantura terbagi dua. Kalau kearah menuju ke Kab. Lamongan, via Jalur Pantura yang relative lebih baru dan lebih lebar. Kalau lurus, kita mengarah ke jalur asli pantura lama, yang notabene merupakan jalur daendels, melewati Brondong — Paciran – Sidayu – Gresik – Surabaya
Dalam Kota Tuban

Dalam Kota Tuban


Salah Satu Tugu di Tuban, yang menandakan pemisahan Jalur Pantura Jatim yang mengarah ke Lamongan dan mengarah ke Sidayu.
Perjalanan penulis teruskan menyusuri aspal Jalur Daendels yang menurut penulis masih cukup terawat. Hanya ada beberapa tambalan-tambalan selepas Kota Tuban, mengarah ke Kecamatan Brondong.
Penanda jalan

Penanda jalan


Kita lurus aja lewat Daendels

Kita lurus aja lewat Daendels


Mulus broooo tancapppp

Mulus broooo tancapppp


Setelah melewati wilayah Hukum Polsek Brondong, Avanza yang sebentar lagi akan pensiun ini melewati Gapura masuk Kab. Gresik dan kemudian melewati daerah Panceng, dimana sebagian besar tanah disini terdisi dari unsur kapur, sehingga kurang cocok untuk ditanami padi. Oleh karena itu oleh masyarakat, lahan-lahan disini banyak ditanami Jati dan Mahoni yang tidak banyak memerlukan air, sebuah potensi ekonomi yang bisa diolah dengan baik oleh masyarakat sekitar.
Selamat Datang Gresik

Selamat Datang Gresik

Secara administrasi rombongan penulis sudah memasuki Kabupaten Gresik, penulis melewati Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Sedikit informasi, bahwa kecamatan Sidayu ini termasuk kecamatan tua nan bersejarah yang ada di Kabupaten Gresik. Berbagai peninggalan sejarah berupa gerbang keraton, telaga, sumur, serta alun-alun, yang menjadikan Sidayu ini menjadikan Kadipaten yang cukup ramai di zaman walisongo. Walaupun sekali lagi karena target waktu untuk sampai Surabaya sebelum gelap, rombongan penulis tidak mampir ke beberapa tempat dengan nilai sejarah tersebut.

Garis masih putus-putus

Garis masih putus-putus


Kenapa ini jadi permanen garisnya

Kenapa ini jadi permanen garisnya


Masih ruas jalan Gresik

Masih ruas jalan Gresik


Setelah melewati Sidayu, penulis memasuki daerah Bungah yang terkenal dengan Jembatan Sembayat yang dibawahnya terhampar luas Sungai Bengawan Solo. Sekitar 15 menit setelah melewati jembatan Sembayat, penulis memasuki sentra ibukota Kabupaten Gresik, yang memang saat ini sudah sangat ramai, karena Gresik sudah menjadi kota satelit, atau kota penyangga dari Surabaya sebagai bagian dari wilayah Megapolitan GERBANGKERTOSUSILO (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo, Lamongan) Berhubung sudah masuk waktu Ashar, penulis sholat Ashar di masjid Agung Gresik serta menyempatkan mampir untuk mengambil gambar tugu di alun-alun gresik.
Jembatan Sembayat

Jembatan Sembayat


Alun-Alun Gresik

Masjid Agung Gresik


Tugu Alun-Alun Gresik

Tugu Alun-Alun Gresik


Setelah Shalat Ashar dan melepas penat sejenak, kembali penulis beserta rombongan memacu kendaraan menuju kota pemberhentian berikutnya, yang merupakan Kota dengan sejuta pesona nya, dan terkenal berkat kisah kepahlawanan arek-arek nya. Tak lain dan tak bukan yaitu Kota Surabaya. Sebetulnya untuk pengendara dari Gresik yang hendak menuju Surabaya, bisa melewati tol yang masuk dari setelah Kantor Bupati Gresik. Jalan Tol ini tentunya sangat membantu pengendara mengingat jika menggunakan jalur arteri tentunya sangat banyak aktifitas warga yang dapat menghambat lalu lintas. Namun rombongan penulis saat itu memilih untuk menyusuri jalur biasa dengan menyusuri jalan jalan di dalam Kota Gresik menuju Jalan Tambak Osowilangun untuk lurus terus hingga masuk Kota Surabaya.
Dalam Kota Gresik

Dalam Kota Gresik


Rimbun

Rimbun

Menjelang maghrib rombongan pawai penulis pun telah memasuki Kota Surabaya, mobil pun diarahkan menuju salah satu hotel dibilangan Basuki Rahmat yang memang sudah dipesan sebelumnya melalui salah satu situs pemesanan hotel terkemuka…. Setelah proses check in akhirnya 3….2…..1……… Pinggang pun lurus

Selamat Datang di Surabaya

Selamat Datang di Surabaya


Ayo ngebutttt

Tambak Osowilangun

Keesokan harinya setelah pinggang lurus dan sarapan kenyang.

hoaammm...

hoaammm…

Lontong Balap

Lontong Balap

Setelah perut kenyang rombongan pawai penulis mencoba keliling Kota Surabaya dengan mengendarai delman istimewa ku duduk dimuka, eh nggak deng naik avanza.. Kami memulai perjalanan dari Jalan Rajawali yang juga salah satu ruas jalan Daendels. Jalan Rajawali dengan kondisi aspal yang cukup baik pagi itu lalu lintasnya belum terlalu ramai sehingga juru kodak bisa memotret dengan leluasa.

Jalan Rajawali

Jalan Rajawali


Setelah menyusuri jalan Rajawali, mobil diarahkan sedikit melenceng ke daerah yang disebut “chinatown” nya Surabaya di Jalan Panggung.
Chinatown

Chinatown


Lepas dari Chinatown tadi rombongan kembali menyusuri jalan untuk menuju Jalan Tunjungan dimana ini juga salah satu jalan protokol di Surabaya dimana banyak juga bangunan bangunan terkenal di sekitar Jalan Tunjungan ini.
Mlaku ning Tunjungan

Mlaku ning Tunjungan


Tunjungan lagi

Tunjungan lagi


Tugu Bambu Runcing arah Jalan dr.suryo

Tugu Bambu Runcing arah Jalan dr.suryo


Rombongan pawai pun terus melanjutkan hingga bertemu di daerah Wonokromo untuk bertemu Waru yang merupakan akses keluar Surabaya menuju Sidoarjo, dan penulis baru tau kalo jalan Waru ini merupakan salah satu ruas Jalan Daendels juga *maklum kuper, kurang baca buku*
Embong Kaliasin

Embong Kaliasin


Darmo Trade Center

Darmo Trade Center


Wonokromo

Wonokromo


Nah Sidoarjo sendiri sudah sangat ramai karena banyak sekali aktifitas perekonomian dan warga Sidoarjo yang bekerja di Surabaya, mungkin jika bisa diibaratkan Sidoarjo seperti Bekasi atau Depok dengan Jakarta, bahkan Bandara Juanda itu pun adanya di Sidoarjo sebetulnya, tapi kode airport Juanda di asosiasi udara pun masih mengikuti “SUB”
Gayungan

Gayungan


Pulang naik pesawat ya...

Pulang naik pesawat ya…


Flyover Ahmad Yani, Gayungan

Flyover Ahmad Yani, Gayungan


Setelah kami sampai di perbatasan Sidoarjo Surabaya, kami pun kembali ke hotel untuk mempersiapkan kepulangan kami ke Jakarta.. Namun “Wafer” begitu avanza ini disebut tetap di Surabaya sementara waktu untuk Masa Persiapan Pensiun yang akan dihadapinya dalam waktu dekat dengan pemilik yang baru..
Jalan penghubung Sidoarjo - Surabaya

Jalan penghubung Sidoarjo – Surabaya


Tentunya perpisahan dan persiapan pensiun ini bukan suatu akhir perjalanan rombongan dalam menyusuri hingga titik 1000 Kilometer, namun sebuah skenario pengganti telah disiapkan dengan matang.. Bagaimana hasilnya? Bersambung dulu yaaaa.. Biar penasaran
eakkkkk biar penasaran...

eakkkkk biar penasaran…

Advertisements