Kejar Setorannnn !!!!. Masih berkutat dengan kategori liputan khusus, penulis akan menulis tentang bagian atau etape terakhir dari liputan khusus menyusuri Jalan Raya Pos yang membentang dari Anyer, Banten hingga Panarukan, Situbondo, Jawa Timur, dengan segala keterbatasan sumber daya tim penulis akhirnya mampu menyelesaikan sebuah “proyek aneh” ini. Etape Surabaya hingga Panarukan Situbondo kali ini akan menjadi etape terakhir pada kategori ini, bagaimana ceritanya? Begini….

Masih ngantuk....

Masih ngantuk….



Beberapa hari sebelum keberangkatan saya memutuskan untuk mencari pinjaman mobil di Surabaya, agar tidak terlalu timpang dengan etape awal di Anyer-Panarukan jenis mobil pun ditentukan yakni Kijang Innova, maklum lah walaupun diawal etape saat itu menggunakan Fortuner bukan hal mudah untuk mendapatkan pinjaman Fortuner di Surabaya terlebih harus pula berwarna HITAM (masa pake avansa.. gak deh yaw). PR saya berikutnya tentu saja mencari sewaan Kijang Innova yang juga berwarna hitam, kembali saya dihadapkan rintangan bahwa jarang sekali Kijang Innova yang disewakan berwarna hitam, entah apakah di sini warna hitam kurang popular? Sampai pada akhirnya saya pun dapat Kijang Innova warna Hitam untuk etape kali ini.
betapa banyak Innova beredar....

betapa banyak Innova beredar….


“Gan, saya pake baju biru di dekat ATM Center sergah suara yang cukup nge-bass ketika kami mendapat telepon sesaat sampai di Terminal 2 Bandara Juanda. Tidak sulit untuk menemukan si penelpon ini berbaju cukup cerah membuat dia mudah dikenali, setelah acara salam-salaman formalitas kamipun menuju parkiran untuk mengambil alih Kijang Innova bermesin 1TR…. Wait 1TR? Ditengah perjalanan menuju parkiran pemilik persewaan yang super duper hyper ramah ini meminta maaf bahwa mobil tidak sesuai kesepakatan, sebagai catatan saat saya deal dengan agan yang saya temui lapaknya di kaskus ini bilang bahwa mobil Kijang Innova ini tahun 2007 dan mesin bensin. Memang kali ini kesepakatan tidak sesuai, tapi bagus kesepakatan ini tidak terjadi bahkan kesepakatan yang saya dapat justru lebih baik, saya dihadapkan dengan Kijang innova berkode 2-KD lansiran tahun 2012 (bagusssssss syukur Alhamdulillah Ya Allah) dan lebih lagi tidak ada tambahan biaya untuk mobil yang berbeda dengan kesepakatan awal, padahal kalo doi minta tambah biaya gue mau bayar…… huehehehe. Kemudian pun perjalanan adalah mengantar kembali ke rumah di daerah ITS walaupun sepanjang perjalanan saya dan kawan dibuat pusing ngadepin banyolan dia…
Bolak balik nganterin mas ganteng pemilik mobil...

Bolak balik nganterin mas ganteng pemilik mobil…


Setelah dari ITS kamipun langsung menyusun strategi untuk segera sampai di Panarukan sebelum gelap atau paling lambat jam 4 sore kami sudah kembali ke arah Surabaya. Rute kali ini mengambil arah Sidoarjo-Pasuruan-Probolinggo-Situbondo, namun sebelum kami berjalan lebih jauh kami sarapan sejenak di Sidorajo yakni di Warung Biru (emang namanya begini) warung makan yang cukup menggugah selera dengan berbagai pilihan makanan ala warteg pokoknya all you can eat and drink asal bayar.
Mangan Sek Bro !!!

Mangan Sek Bro !!!


All You Can Eat, yang penting bayar

All You Can Eat, yang penting bayar


Setelah perut kenyang, mobil juga harus diberi konsumsi supaya baik jalannya dan betapa bahagianya memang punya mobil solar harga solar per liter saat itu hanya 5,150 membahagiakan sekali lek untuk orang yang hobi jalan jalan tapi pelit kayak saya ini. Tujuan pertama adalah Pasuruan, namun sebelum masuk ke Pasuruan kami melewati Porong, Sidoarjo.
Hayo pilih yang mana?

Hayo pilih yang mana?


Sisi Sidoarjo

Sisi Sidoarjo


Porong merupakan sebuah Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yang sejak tahun 2006 terkenal dengan fenomena semburan lumpur. Semburan lumpur ini bukan secara alami, namun hal ini diakibatkan oleh aktifitas sebuah perusahan yang bergerak dalam eksplorasi sumber daya alam bernama Lapindo Brantas. Banyak teori yang beredar bahwa semburan lumpur ini terjadi akibat adanya prosedur yang tidak berjalan dengan baik saat melakukan aktifitas pengeboran tanah hingga muncul semburan lumpur yang masih muncul hingga sekarang, namun ada pula yang mengkaitkan bahwa semburan lumpur ini akibat aktifitas pergerakan lapisan bumi bawah tanah yang tidak terprediksi sehingga muncul semburan lumpur seperti ini. Tentunya fenomena semburan lumpur ini membuat banyak kegiatan masyarakat yang bermukim maupun beraktifitas disekitar sumber lumpur ini terhenti, karena banyak sekali lahan, rumah tinggal, pabrik, hingga rumah ibadah yang tergenang lumpur ini. Kamipun sempat berhenti sejenak dipinggir ruas jalan yang menghubungkan Sidoarjo-Pasuruan ini yang kini dibatasi dengan tanggul setinggi belasan meter dengan tujuan agar tidak menggenangi ruas jalan.
Porong, Sidoarjo

Porong, Sidoarjo


Selepas Porong kami meneruskan perjalanan menuju pasuruan hingga sampai dibawah ujung tol Sidoarjo dan bertemu gapura “Pasuruan” dan “Selamat Datang Kab. Pasuruan” tentunya di Gapura ini harus ada foto wajib dan kedua Gapura ini pun didapatkan gambarnya,yesssss..
Bundaran Waru

Bundaran Waru


Selamat Datang di Pasuruan

Selamat Datang di Pasuruan


Selepas gapura selamat datang, perjalanandilanjutkan dengan menembus kota Pasuruan untuk menuju Probolinggo, sayangnya kami tidak sempat mampir untuk menikmati alun-alun Pasuruan mengingat waktu yang terbatas. Beruntung bagi kami, ruas jalan nasional yang masuk dalam kota Pasuruan siang itu tidak terlalu ramai sehingga tidak terlalu lama bagi kami untuk melintasi kota Pasuruan dan bertemu kembali ruas jalan akses keluar kota Pasuruan menuju Probolinggo.
Selamat Datang di Pasuruan (lagi)

Selamat Datang di Pasuruan (lagi)


Dalam Kota Pasuruan

Akses Menuju Kota Pasuruan


Mohon bersabar Probolinggo 51 KM lagi

Mohon bersabar Probolinggo 51 KM lagi


Dalam Kota Pasuruan

Dalam Kota Pasuruan


Akses Keluar Menuju Probolinggo

Akses Keluar Menuju Probolinggo


Menjelang Probolinggo jalan kembali lebar tentunya membuat saya yang saat itu memegang kemudi mencoba tarikan 2KD ini dilintasan masuk menuju Probolinggo, dan hampir saja tulisan Kabupaten Probolinggo terlewat karena tarikan mesin diesel ini cukup asyik untuk bermanuver di jalan seperti ini.
Kabupaten Probolinggo

Kabupaten Probolinggo


Dalam Kota Probolinggo

Dalam Kota Probolinggo


Memasuki Probolinggo kami kembali masuk ke dalam kota, rasanya saya kembali ke pertengahan tahun 2013 dimana saya dan kawan kawan dari tempat saya kuliah melakukan perjalanan darat ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (ada juga di sini tulisannya). Masih terbayang beberapa sudut kota Probolinggo maupun ruas jalan Nasional yang ada di wilayah administrasi Kabupaten Probolinggo ini, namun karena waktu yang sudah memasuki sholat Dzuhur yang lebih cepat dibanding Jakarta dan badan yang terasa sangat lengket karena belum mandi demi mengejar pesawat pagi, akhirnya Kijang Innova besutan tahun 2012 beserta penumpangnya beristirahat sejenak di Masjid Agung Ar-Raudloh, Kraksaan, Probolinggo.
Kraksaan, Probolinggo

Kraksaan, Probolinggo


Alun-Alun Kraksaan, Probolinggo

Alun-Alun Kraksaan, Probolinggo


Rehat sejenak untuk melapor kepada sang pemilik hidup

Rehat sejenak untuk melapor kepada sang pemilik hidup


Selepas istirahat dirasa cukup, saya pun membeli beberapa logistik demi menuntaskan formalitas urusan perut yang sedikit mengecil karena stress dan melanjutkan perjalanan kembali menuju Situbondo melalui jalan nasional hingga memasuki Kota Probolinggo yang sangat disayangkan terlupa untuk foto beberapa sudut jalan di Probolinggo ini.
Lepas dari Kota Probolinggo, mobil kembali menuju keluar dari wilayah Probolinggo melewati Gending, Sukomulyo hingga terus ke arah Situbondo. Namun sebelum memasuki wilayah Kabupaten Situbondo, tentunya kita harus melewati daerah Paiton yang merupakan perbatasan antara Kabupaten Probolinggo dengan Kabupaten Situbondo, dan di Paiton Sendiri mempunyai tempat yang cukup menarik yakni komplek pembangkit listrik. PLTU Paiton ini berada berada di garis pantai utara Pulau Jawa ini dibangun sekitar tahun 2007 untuk pemenuhan kebutuhan stabilitas listrik Pulau Jawa dan Bali, jangan tanya spesifikasi teknis dari masing masing pembangkit yang ada di komplek PLTU ini mending googling aja deh yeee… Berada di garis pantai, jalur pantura yang menghubungkan antara Probolinggo dengan Situbondo ini pun menyuguhkan pemandangan indah bagi setiap pengguna jalan, jadi tidak jarang jika mobil yang berjalan pelan mengingat pemandangan disekitar Paiton ini memang cukup indah, apalagi PLTU Paiton ini kalo malam sipppp bangetttttttt. Namun ada kisah yang cukup kelam terjadi disekitar Paiton ini pada suatu waktu di tahun 2003, hingga kejadian ini pun mengubah beberapa regulasi tentang angkutan darat yakni Bus.
Paiton, Probolinggo

Paiton, Probolinggo


Rabu 8 Oktober 2003 kurang lebih pukul 8 malam, 3 bis berjalan beriringan menuju Jogjakarta dari Pulau Bali. Bis yang membawa rombongan wisata sebuah sekolah di daerah Sleman ini baru saja pulang dari Pulau Bali untuk kegiatan sekolah tersebut. Memasuki wilayah Paiton selepas perbatasan antara Situbondo dengan Probolinggo konvoi bis mencoba menyalip kendaraan di depannya, pertama lolos, kedua lolos, namun nahas bagi bis terakhir. Muncul kendaraan jenis Truk Container muncul dari arah berlawanan (arah Probolinggo menuju Banyuwangi) secara tiba-tiba, karena dekatnya jarak antara bis dengan truk ini tabrakan tak dapat dihindari dan bis pun dihantam kembali oleh truk colt disel yang berada dibelakangnya.
Potongan Halaman Depan sebuah Surat Kabar tentang Tragedi Paiton

Potongan Halaman Depan sebuah Surat Kabar tentang Tragedi Paiton


Entah darimana setelah tabrakan terjadi tiba-tiba muncul api yang mulai merambat kendaraan yang terlibat kecelakaan ini. Panik, tentu yang dialami oleh penumpang yang saat itu menurut info sekitar 54 orang (termasuk crew) crew bus berhasil menyelamatkan diri dan menurut kabar dibantu dengan warga sekitar dan pengguna jalan yang kebetulan melintas mencoba menyelamatkan penumpang dengan melempari kaca bus dengan batu namun semua gagal dan terlambat, hampir semua penumpang bus meninggal dunia dalam kecelakaan nahas tersebut, sehingga kecelakaan ini pun dicatat sebagai salah satu kecelakaan transportasi darat terburuk yang pernah terjadi di Indonesia.
Cuplikan yang disadur dari laman facebook Sejarah Transportasi

Cuplikan yang disadur dari laman facebook Sejarah Transportasi


Akibat kecelakaan ini, regulasi dalam dunia transportasi darat khususnya bus mulai dievaluasi. Mulai dari penggunaan bahan bus yang tidak mudah terbakar, penambahan alat keselamatan yakni palu pemecah kaca dan alat pemadam api yang wajib ada di dalam bus, hingga pintu darurat yang wajib disematkan pada armada bis. Tentunya walaupun ini sedikit melenceng dari sejarah Jalan Raya Pos, peristiwa ini merupakan salah satu sejarah transportasi yang cukup buruk di Indonesia. Tak lupa sejenak kami menyempatkan berhenti untuk mengenang kecelakaan tersebut walaupun tidak persis di lokasi.
Kemegahan Paiton

Kemegahan Paiton


Sejenak berhenti walaupun tidak persis, untuk mengenang

Sejenak berhenti walaupun tidak persis, untuk mengenang


Dengan semangat yang cukup lumayan berapi-api *lebay, mesin berkode 2KD ini pun kembali dipacu untuk menuju titik akhir yakni monumen 1000 KM Panarukan. Bagaimana tidak semangat, kami sudah jelas memasuki wilayah hukum Kabupaten Situbondo namun masih ada beberapa kilometer jalan yang harus kami tempuh.
Lewat dari Gapura Situbondo

Lewat dari Gapura Situbondo


Situbondo yang beberapa wilayahnya bisa dibilang mepet dengan garis pantai membuat mata selalu waspada jika ada spot foto yang memungkinkan tim penulis ambil gambar. Satu spot yang cukup tersedia lokasi yang memungkinkan adalah Pantai Pasir Putih. Pantai Pasir Putih ini memang merupakan salah satu wilayah wisata andalan dari Kabupaten Situbondo, dengan hamparan pasir halus bertemankan deburan ombak yang tidak terlalu ganas mampu membuat anda betah (jika tahan dengan panas) berlama-lama ditempat ini. Namun sebetulnya, berhubung saya dan tim penulis lainnya bukanlah tujuan berwisata ke sini, kami tidak masuk ke komplek wisata ini tapi kami terus berjalan dengan kecepatan tidak terlalu tinggi hingga cukup banyak mobil plat DK yang menyalip Kijang Innova yang kami tumpangi ini dengan kecepatan lumayan tinggi, maklum lah Banyuwangi sudah di depan mata dan kegagahan Gunung Agung yang mulai terlihat ketika memasuki kompleks pelabuhan Ketapang, Banyuwangi membuat mobil mobil plat DK itu semakin ingin cepat sampai. Pada akhirnya disuatu spot yang bukan lokasi wisata, kami berhasil mendapatkan foto yang cukup lumayan (walaupun jauh dari kata professional).
Besuki, Situbondo

Besuki, Situbondo


Ngeblong terus brohhh

Ngeblong terus brohhh


Jangan ada garis permanen di antara kita

Jangan ada garis permanen di antara kita


Pasir Putih terlewati, Panarukan sudah semakin dekat. Panarukan merupakan titik akhir perjalanan saya dan liputan khusus kali ini, sekelumit sejarah yang pernah saya baca kenapa Panarukan yang dipilih oleh Daendels ketika itu jawabannya adalah jauh sebelum Daendels masuk ke Pulau Jawa, Panarukan sudah menjadi pelabuhan yang cukup sibuk kala itu. Mengapa demikian? Panarukan kala itu dijadikan tempat persinggahan kapal yang berlayar dari Timur Indonesia menuju Barat Indonesia, maupun sebaliknya, sedangkan Kabupaten Panarukan (dulu menjadi sebuah kabupaten ber-ibukota Situbondo) juga memiliki beberapa komoditas hasil alam yang juga disebarkan ke wilayah wilayah di Indonesia, hal ini lah yang membuat (mungkin) Daendels tidak perlu susah payah untuk mencari lahan ulang untuk titik distribusi aktifitas perdagangan dan perekonomian kala itu (maklum biaya survey kan mahal…)
Narsis lagi

Narsis lagi


Pasirputih Situbondo

Pasirputih Situbondo


Sebetulnya, menurut sumber yang A1 alias bisa dipercaya disekitaran Panarukan ada satu peninggalan sejarah yakni Benteng yang konon katanya pernah dioperasikan oleh VOC yang juga berlokasi tidak terlalu jauh dari garis pantai, namun sayang sekali setelah beberapa kali bertanya dengan warga sekitar tidak ada respon mengenai benteng VOC tersebut, malah ada beberapa warga yang tidak mengetahui keberadaan benteng tersebut, alhasil ya kami foto monumen 1000 KM dan Menara Suar Panarukan.
ini dia yang mbingungi

ini dia yang mbingungi


Menara Suar Panarukan yang kami temui ini pun sebetulnya juga sempat menjadi kebingungan antara saya dan tim penulis, bagaimana tidak? Ada yang bilang mercusuar ada di pelabuhan panarukan, ada yang bilang sudah roboh, ada yang bilang gak pernah ada, hal hal seperti ini membuat penulis seperti ditarik ulur sama kamu,,, iya kamu *eh, duh moga moga nyonya gak liat* namun, jika berpatokan pada aplikasi peta yang kami gunakan( kebetulan kami pake 3 unit yakni Garmin,Google Maps, dan Waze) mereka bertiga sepakat menunjukkan bahwa ini pelabuhan panarukan yang awal, jadi dengan berbekal keyakinan dan semoga tidak salah akhirnya kami foto di sini.

dan ini dia 1000 Kilometer Anyer Panarukan

dan ini dia 1000 Kilometer Anyer Panarukan


Pada akhirnya liputan khusus ini telah selesai, menuliskan sekelumit sejarah Indonesia ini memang tak ada habisnya. Mulai dari sejarah yang kelam, hingga sejarah yang membanggakan semua pun pernah terjadi di negeri ini. Pembangunan Jalan Raya Pos atau dalam bahasa Belanda De Groote Postweg merupakan salah satu sejarah yang menurut saya membawa perubahan bagi Indonesia khususnya Pulau Jawa saat itu yang berdampak hingga kini, bagaimana tidak? Dengan adanya pembangunan jalan ini walaupun dengan tujuan awal untuk mempermudah mobilitas militer saat itu, hingga kini Jalan Raya Pos masih menjadi andalan untuk jalur distribusi khususnya antar Pulau Jawa hingga antar pulau yang ada di Indonesia.
Monumen Peringatan 1000 Kilometer Anyer Panarukan

Monumen Peringatan 1000 Kilometer Anyer Panarukan


Sebuah harga yang cukup mahal memang mengingat dalam pembangunan Jalan Raya Pos ini dibangun bukan dengan gembira ria, namun ada nyawa yang melayang saat pembangunan Jalan Raya Pos yang memang berhasil dibangun dalam kurun waktu satu tahun saja pada awal Daendels memerintah. Jalan Raya Pos seperti saya bilang sebelumnya menjadi manfaat bagi aktifitas khususnya Pulau Jawa harus menjadi tonggak sejarah yang selalu dikenang hingga akhir waktu, walaupun ditengah gencarnya pembangunan infrastruktur yang semakin mempermudah mobilitas manusia seperti Tol Trans Jawa yang bisa dibilang sudah menyambung dari Anyer hingga Brebes Timur (perbatasan Brebes dan Tegal) Jalan Raya Pos tetap menjadi salah satu sejarah yang dimiliki oleh kita semua, yakni Masyarakat Indonesia….
Gerbang Tol  Merak

Gerbang Tol Merak


Gerbang Tol Cikopo

Gerbang Tol Cikopo


Gerbang Tol Palimanan

Gerbang Tol Palimanan


Gerbang Tol Brebes Timur

Gerbang Tol Brebes Timur


Akhir kata, saya dan segenap tim penulis menyatakan sudah selesai dalam penelusuran Jalan Raya Pos Anyer – Panarukan, mohon maaf jika ada penulisan kata ataupun kualitas gambar yang jauh dari kata professional… Wabilahitaufik Wal Hidayah, Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.

*nantikan Behind The Scenes (yang semakin gak penting) dari semua penelusuran ini yaaa..
– sudah dulu ya –