Halo para pembaca bertemu kembali dengan saya di blog yang sangat sederhana ini, kali ini tanpa panjang lebar langsung saja saya lanjutkan menulis dari artikel yang sudah saya post sebelumnya


Setelah cukup nyenyak tertidur di dalam bilik alias kapsul penginapan Chic alias Chic Hotel saya pun terbangun untuk melaksanakan sholat subuh, setelah mengumpulkan cukup kekuatan dan kestabilan saya pun menuju Masjid Jamae Chulia yang sebelumnya sudah saya katakan jaraknya tidak terpaut jauh dengan Chic Hotel tempat saya menginap ini. Setelah Sholat Subuh dan kembali ke hotel langsung lanjut tidur lagi.

Bingung, karena terbangun sudah jam 8.30an mau kemana hari ini? tak lama perut mulai berbunyi, coba keluar ke lobby ternyata udah rame sama tamu yg lain lagi makanin jatah sarapan yang pagi itu setiap tamu diganjar dengan 2 buah sandwich dan beberapa potong buah cukup untuk sejenak mengganjal perut, sayang saya gak foto itu jatah ransum. Setelah Kenyang dengan sarapan itu aja? tentunya nggak akhirnya saya memutuskan mandi dan melihat dunia luar sembari cari makan.

Chinatown Point


Sembari jalan ke Stasiun MRT Chinatown ndilalah ketemu Mall Besar namanya Chinatown Point eh pas makin mendekat ternyata ada mcdonald, segera saja dengan gagah berani masuk Mc’D ini dengan harapan ada paket nasi ayam kayak di Indonesia tapi sungguh terlalu harapan ini pupus gagal lagi ketemu nasi… akhirnya saya terpaksa menebus Breakfast set chicken Wrap dengan harga 5dolar, tapi akhirnya saya merasa kenyang juga dan merasa mblenek karena kayaknya gizinya udah over buat perut saya… *lupa foto juga, karena bingung

Tahun Ayam


Setelah selesai makan yang ternyata mengenyangkan ini akhirnya saya jalan ke MRT Station dan teringat dengan Masjid Sultan yang belum pernah saya kunjungi selama beberapa kali kunjungan saya ke Singapore *keterlaluan* oke langsung cek map ke arah mana yang ternyata saya harus turun di Stasiun MRT Bugis, oke lets gooo…

Berangkattttt


Sekelumit sejarah tentang Masjid Sultan Singapore. Menurut beberapa sumber yang saya rangkum, Masjid Sultan merupakan Masjid pertama yang mulai didirikan pada tahun 1824 dan selesai di tahun 1826 ini berlokasi di Kampong Glam atau kini diantara Arab Street dengan North Bridge Road. Dahulu Masjid yang memiliki daya tampung sekitar 5000 jamaah ini dibangun atas pemikiran seorang Sultan yang bernama Sultan Hussain yang berasal dari Johor namun memiliki pengikut dari banyak kalangan seperti Malaka, hingga Indonesia.

Singkat cerita, saya sudah sampai di Masjid Sultan ini. di sekeliling Masjid Sultan pun cukup banyak toko oleh-oleh yang menjual sovenir seperti di Bugis Street dengan harga yang sama pula menurut saya, dan masuklah saya ke Masjid Sultan. di depan Masjid cukup banyak berjejer kain sarung maupun baju gamis untuk wanita yang dijaga oleh seorang pria, ternyata oh ternyata pakaian-pakaian ini bisa dipinjam oleh wisatawan yang mengunjungi Masjid Sultan namun berpakaian yang tidak cocok untuk lingkungan Masjid, ide bagus ini. Sebagai catatan saja, untuk wisatawan pun juga dibatasi tidak boleh memasuki Masjid kecuali yang memang berniat untuk ibadah.

Masjid Sultan Singapura


Tidak menyia-nyiakan kesempatan saya pun segera mengambil Wudhu dan melaksanakan sholat dhuha yang sepertinya sudah terlalu siang. Lembaran karpet empuk memang menjanjikan bagi Jamaah Masjid Sultan ini baik saat sujud maupun saat duduk, cuaca sejuk pun dihasilkan dengan baik oleh hembusan kipas angin berukuran sedang, jadi apalagi alasan untuk tidak khusyuk beribadah di Masjid Sultan ini?

Interior Masjid


oh iya, Masjid Sultan ini memang sudah dikukuhkan oleh Pemerintah Singapura sebagai National Monument dan dikelola oleh Majelis Ugama Islam Singapura ibarat di Indonesia MUI lah, sehingga tidak heran jika banyak wisatawan yang berkunjung ke sini. Nilai tambahnya adalah, di bagian depan Masjid oleh pengelola Masjid Sultan ini disediakan semacam mading atau poster tentang pengetahuan Agama Islam dan tentunya sejarah Masjid Sultan Singapura ini sendiri, sungguh hal yang sangat bermanfaat bagi para wisatawan sehingga tidak hanya sekedar berkunjung foto foto kemudian pulang, wisatawan pun bisa mempelajari apa itu islam, bagaimana islam, dan semua bisa dipelajari di Masjid Sultan Singapura ini… Luar Biasa


silahkan dipinjam


sekitar Masjid Sultan


Waktu sudah menunjukkan jam 11.09, tak banyak pilihan untuk saya kecuali kembali ke hotel dan bersiap untuk kembali pulang ke Indonesia (kesannya tuh kayak jauh bener yee). Setelah melewati panasnya Singapura saya pun sampai di hotel dan mandi lagi karena gak tahan dengan cuaca panas. Dan setelah semua beres, kembali saya cek ulang paspor dan dokumen perjalanan lainnya apakah sudah ready to go yak semua sudah siap dan mari kita check out dan menuju Changi Airport, tentunya dengan MRT lah.. apalagi

Otw Hotel


Orang yang menggunakan eskalator harus berada disebelah kiri, gak ada acara serabat serobot. HEBAT !!!


Tidak ada pemberitahuan penundaan keberangkatan dengan alasan menunggu sinyal masuk, atau menunggu antrian seperti yang biasa dikumandangkan oleh petugas KRL Jabodetabek saat jam jam sibuk hitungan kasar saya dari chinatown hingga sampai changi airport ditempuh dengan 50menit. Kembali saya mengagumi bangunan Airport yang dipercaya kembali oleh Skytrax untuk menerima “World’s Best Airport Award” tahun 2017. Memang Airport Changi dengan segenap fasilitasnya, kesigapan petugasnya, ketepatan waktunya bukanlah isapan jempol belaka, ah tak perlu saya memuji silahkan buktikan sendiri. Dan kembali saya teringat bahwa perut saya masih belum kena nasi dari saat sampai di Singapura, pilihan langsung jatuh ke Staff Canteen dikarenakan jika membaca review dari beberapa situs internet dan pengalaman kawan kawan saya tempat inilah yang paling murah dan banyak pilihan. maafkan jika saya tidak memfoto makanan maupun cara untuk menuju ke sini, karena kaki yang sudah cukup sakit dan perut lapar akhirnya saya langsung memesan 1 porsi nasi ayam penyet dan semangkuk soto ayam ditebus dengan harga 6,2 Dolar Singapura…
* kurang lebih tulisan di web ini bisa mewakili karena saya juga ngikutin petunjuk di web ini hahaha…

Luas bener ini emang


Entah kenapa selama saya di Changi banyak sekali Layar untuk Feedback dan semua petugasnya orang tua??? Sangat profuktifkah warga Singapura???


Setelah selesai dan kenyang urusan perut kena makan nasi, saya pun menuju counter check in yang jauhnya kembali menguji pergelangan kaki saya maka jangan sepelekan counterpain yang memang harus dibawa jika mau jalan jalan di singapura. Pesawat kembali saya ke Indonesia adalah Batik Air yang akan berangkat dari Terminal 1, teringat belum sholat Dzuhur akhirnya segera saja saya mengantre karena tidak ada Tempat Sholat selain didalam Area keberangkatan. oh iya lokasi Prayer Room ini ada di belakang outlet Montblanc (itu yang pulpen mahal). Musholla ini sangat nyaman, dan tidak berisik karena lokasinya yang memang jauh dari lalu lalang orang, pokoknya nyaman dehhhh..

Prayer Room



Tempat Wudhu


Kain, Mukena, Alquran, Peci tersedia


Setelah selesai sholat karena masih ada sekitar 2 jam lagi untuk terbang akhirnya iseng eksplor terminal 1 ini, ternyata ada kursi pijat gratis buatan osim dan free internet access, sayangnya saya tidak kesampean nyicipin kursi pijit karena penuh semua asem bener dah. Dan tak disangka tak dinyana, di Airport yang pergerakan manusianya ditahun 2016 mencapai 58 juta orang penulis bisa bertemu saudara penulis suatu kejadian luarbiasa ini.. hahaha, hanya saja saudara penulis baru sampai di Singapura dan penulis akan kembali ke Indonesia.

Jauh Banget


Iseng ngeblog hahaha


Iseng Keliling


Akhir kata setelah sempat delay 30 menit dan tepat waktu, Singapura memberikan saya pelajaran akan sebuah hal tentang betapa pentingnya kacamata hitam, counterpain, dan berharganya sepiring nasi… Sudah dulu ya

Terdiam melihat beberapa Insan Manusia di Gate A16

Advertisements