Halo semua kembali bertemu kembali dengan penulis yang mau berkeluh kesah di kesempatan kali ini, kali ini mungkin judulnya sedikit lebay alias berlebihan tapi inilah yang saya rasakan… Begini ceritanya.

“Makan dulu bang, macet” ucap supir truk box yang kebetulan bersebelahan dengan saya saat macet atau lebih tepatnya dibilang parkir di bilangan MT Haryono. Jika kita lihat judul, tak perlu kita melihat kekejaman ini dalam artian kekerasan atau apalah yang identik dengan kriminal, kemacetan Jakarta ini juga menjadi salah satu kekejaman yang tentunya seperti harus dimaklumi oleh “penikmat” Jakarta.

Kemacetan lalu lintas Jakarta bukanlah hal yang selalu terjadi tapi juga bukan hal yang bisa dengan mudah kita hindari. Kemacetan di Jakarta ini memang seolah tidak mengenal tempat, tidak hanya di jalan protocol yang selalu terlihat lampu pengatur lalu lintas lengkap dengan polisi lalu lintas yang kerap mengelap keringatnya, tapi juga kemacetan menyasar ke gang gang sempit yang menyebar di seantero Jakarta, hayo bagaimana pendapat pembaca (kalo ada yang baca) ketika ngeliat di dalam sebuah gang sempit di daerah Bangka, Jakarta Selatan ada antrean kendaraan yang cukup panjang dan diantrean itu pun cukup banyak mobil mobil yang terbilang mewah sebut saja Toyota Alphard, Toyota Vellfire, Mercedes Benz S400 yang bahkan masih menggunakan plat profit. Mau tidak mau mereka pun harus berbagi jalan dengan sepeda motor yang seolah siap menerkam spion spion mahal, namun para pengemudi mobil mobil mewah itu seolah tak mau kalah spion spion itu pun telah ditekuk secara otomatis oleh para pengemudi hanya dengan sentuhan tombol.

Proyek Everywhere

Selain kemacetan ada lagi yang menjadi sebuah kekejaman bagi saya. Seperti yang saya bilang diawal kekejaman tidak selalu identic dengan kekerasan ataupun criminal, kali ini masalah rezeki dan menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk bersyukur.

Rezeki yang selalu berhubungan dengan pekerjaan atau usaha atau apalah itu di Jakarta ini seolah menjadi tempat tumpuan bagi banyak orang, bahkan bagi diri penulis sendiri. Seperti yang mungkin kita bisa saksikan betapa banyak dan ramainya stasiun kereta, terminal bis, jalan raya di jam jam kerja, kali ini saya akan membagikan sebuah pengalaman yang membuat saya selalu berpikir dan terkadang merasa saya masih gagal sebagai warga Negara ini.
Secara hitung-hitungan memang bukan sedikit jumlah orang yang beruntung dengan nilai ekonomi di atas rata-rata, mereka yang seperti ini tidak perlu bingung bagaimana mau tidur, bagaimana mau pulang dan bagaimana mereka mau makan? Tapi tidak sedikit juga jika kita mau melihat ke sekeliling kita, masih banyak orang yang tidak beruntung dengan nilai ekonomi dibawah rata-rata bahkan mungkin jauh. Sehingga tak jarang banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk membuat dirinya tetap hidup di tengah Belantara Jakarta ini.
Suatu ketika memang jam sudah menunjukkan cukup malam sekitar 22.30 , saya melihat seorang anak yang menurut saya usianya masih sekitar belasan tahun, dia hanya duduk meringkuk menutup muka dibawah barisan pohon yang sesekali tercium aroma durian yang dijual di daerah Kalibata. Sekitar 30 menit kemudian dia pun beranjak, mukanya tampak ekspresi sedih dia mencoba menjajakan yang ada dipunggungnya yakni seplastik besar tisu seharga 2ribuan, berpindah dari mobil ke mobil lain penulis beserta kawan lain memperhatikan hingga akhirnya tiba saatnya di mobil yang penulis tumpangi. Entah apa yang dirasa, dia merasa ketakutan ketika penulis mencoba berinteraksi dengan dia, setelah pendekatan persuasive akhirnya dia mau mendekat dan menjelaskan bahwa dia dipalak preman di sekitaran Tanjung barat dan uang penjualannya habis, akhirnya setelah membeli sedikit tisu yang memang untuk stok di mobil si anak itupun beranjak pergi menjauh. Timbul diskusi saat itu Antara penulis dengan teman teman di dalam mobil, apakah memang benar apa yang dibilang anak itu? Apakah anak itu hanya membuat dirinya seolah olah untuk dikasihani? Atau atau atau yang lain? Tak ada jalan lain, saya pun menanyakan pengemudi Honda Mobilio berkelir putih di depan mobil yang saya tumpangi ini, dan pengemudi itu pun sepakat bahwa anak itu dipalak preman di Tanjung Barat. Lantas dimana kekejamannya? Bagi saya ini kejam, jika memang benar terjadi seperti ini seharusnya para pemalak itu dihukum seberat mungkin, bukan begitu cara mencari uang dan bukan lawan palak seorang anak lelaki kurus yang usianya belum genap 20tahun itu.

Jakarta memang seolah sempit untuk saya menemukan hal hal yang menurut saya kejam. Kali ini saya bertemu seorang pria bertubuh kurus namun berlengan kekar. Di lengan nya tergantung tas berukuran cukup besar, di sela sela jarinya terselip beberapa pasang sandal. Tentu kita semua paham, sandal ini bukanlah dagangan yang bisa laku setiap saat, tapi masih dengan gigihnya abang ini memanggul tas yang saya yakin ini bukan sekilo dua kilogram.
Silahkan siapkan tisu atau lap kanebo jika ada merupakan orang yang mudah tersentuh hatinya. Dengan lirih, dibalik pintu mobil dia berkata bahwa dagangannya belum laku dari pagi, bahkan perutnya pun belum diisi makanan, bahkan dia meminta seribu rupiah untuk mencari minuman. Terlepas dari benar atau tidak ucapan abang ini, seketika saat itu saya miris apakah ini yang dinamakan perjuangan untuk memenuhi hajat hidup? Saya langsung berpikir apakah abang ini masih terjebak dengan kemampuannya sendiri? Atau apakah abang ini sebenarnya sangat ingin melakukan pekerjaan lain namun dengan keterbatasan kemampuan yang dia miliki dia tidak mampu melakukan apapun selain perdagangan ini?

Ah tentunya saya tidak bisa menyalahkan siapapun, untuk menyalahkan pengelola Negara yang mungkin berperan untuk menyejahterakan rakyat yang setau saya jumlahnya sekitar 250juta jiwa pun saya tak sanggup. Lebih tepatnya mungkin saya harus menyalahkan diri saya sendiri, mengapa saya belum bisa merubah diri saya sendiri menjadi lebih baik dan berguna bagi orang lain?…

Advertisements